Retorika
Author: windows7blog | Posted at: 20.10 | Filed Under: Pelajaran
Sejarah Singkat Ilmu Komunikasi atau Retorika
Retorika mulai dikenal pada tahun 465 SM, ketika Corax menulis makalah bejudul Techne Lagon (Seni kata-kata). Pada waktu itu seni berbicara atau llmu berbicara hanya digunakan untuk membela diri dan mempengaruhi orang lain. Membela diri di pengadilan ketika orang lain mengambil tanah atau mengakui tanahnya karena waktu itu belum ada sertifikat tanah. Membela diri ketika seseorang, katakanlah orang kaya raya dituduh mengorbankan kehormatannya dengan hanya mencari setandan pisang di kebun dan sebagainya.
Singkat retorika atau ilmu komunikasi pada waktu itu hanya digunakan untuk membela diri yang berhubungan dengan kepentingan sesaat dan praktis.
Sementara untuk mempengaruhi orang lain, menurut Aristoteles ada 3 cara yaitu :
1. Harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa kita memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya dan status yang terhormat yang disebut “ethos”
2. Harus dapat menyentuh hati khalayak, perasaan, emosi, harapan, kebencian dan kasih sayang yang disebut “phatos”
3. Meyakinkan khalayak dengan bukti yang kelihatan, yang disebur “logos”
Dari sejarah singkat perkembangan retorika atau ilmu komunikasi klasik yang patut kita catat yakni mengenai tahap penyusunan pidato karya Aristoteles yang sampai sekarang masih terus dipakai, adalah penentuan tema, penyusunan, gaya, memori dan penyampaian.
Prinsip-Prinsip Dasar Retorika
Retorika atau ilmu komunikasi adalah cra pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu pengetahuan atau metode yang teratur atau baik. Berpidato, ceramah, khutbah juga termasuk kajian retorika. Cara-cara mempergunakan bahasa dalam bentuk retorika seperti pidato tidak hanya mencakup aspek-aspek kebahasaan saja tetapi juga mencakup aspek-aspek lain yang berupa penyusunan masalah yang digarap dalam suatu susunan yang teratur dan logis adanya fakta-fakta yang meyakinkan mengenai kebenaran masalah itu untuk menunjang pendirian pembicara.
Oleh karena itu suatu bentuk komunikasi yang ingin disampaikan secara efektif dan efisien akan lebih ditekankan pada kemampuan berbahasa secara lisan. Suatu komunikasi akan tetap bertitik tolak dari beberapa macam prinsip. Prinsip-prinsip dasar itu adalah sebagai berikut :
1. Penguasaan secara aktif sejumlah besar kosakata bahasa yang dikuasainya. Semakin besar jumlah kosa kata yang dikuasai secara aktif semakin besar kemampuan memilih kata-kata yang tepat dan sesuai untuk menyampaikan pikiran
2. Penguasaan secara aktif kaidah-kaidah ketatabahasaan yang memungkinkan pembicara menggunakan bermacam-macam bentuk kata dengan nuansa dan konotasi yang berbeda-beda.
3. Mengenal dan menguasai bermacam-macam gaya bahasa dan mampu menciptakan gaya yang hidup dan baru untuk lebih menarik perhtian pendengar dan lebih memudahkan penyampaian pikiran pembicara.
4. Memiliki kemampuan penalaran yang baik sehingga pikiran pembicara dapat disajikan dalam suatu urutan yang teratur dan logis.
Urgensi Ilmu Komunikasi atau Retorika Bagi Calon Pemimpin
Setiap calon selain ia harus berwawasan luas juga dituntut harus mempunyai keterampilan berkomunikasi atau berbicara. Keterampilan tersebut dapat diperoleh melalui latihan yang sistematis, terarah dan berkesinambungan. Tanpa latihan, kepasihan berbicara atau pidato tidak dapat tercapai. Disamping itu, calon pemimpin juga harus mengetahui ciri-ciri pembicara yang ideal.
Pengetahuan tentang ciri-ciri pembicara yang baik sangat bermangaat bagi mereka yang sudah tergolong pembicara yang kurang baik dan bagi pembicara dalam tarap belajar. Bagi golongan pertama, pengetahuan tersebut dapat digunakan sebagai landasan mempertahankan, menyempurnakan atau mengembangkan keterampilan berbicara atau pidato yang sudah dimilikinya. Bagi golongan kedua yakni calon pemimpin. Hal itu sangat baik dipahami dan dipalikasikan sehingga dapat menghilangkan kebiasaan buruk yang selama ini mungkin dilakukan secara tidak sadar.
Ciri-ciri Pembicara Ideal bagi Calon Pemimpin beserta Penjelasannya
Berikut ini penulis sajikan sejumlah ciri-ciri pembicara yang baik bagi calon pemimpin untuk dikenal, dipahami, dihayati dan selanjutnya dapat diterapkan dalam berkomunikasi atau berpidato.
Ciri-ciri tersebut antara lain :
1. Memilih topik dengan tepat
Pembicara yang baik selalu dapat memilih materi atau topik pembicaraan yang menarik, aktual dan bermanfaat bagi para pendengarnya. Dalam memilih materi pembicaraan, ia selalu mempertimbangkan minat, kemampuan dan kebutuhan pendengarnya. Sebab bila materi pembicaraan berkenan di hati pendengar maka perhatian mereka akan besar pula.
2. Menguasai Materi
Pembicara yang baik selalu berusaha memahami materi yang akan disampaikan. Jauh sebelum pembicaraan berlangsung pembicara yang baik harus sudah mempelajari, memahami dan menguasai materi pidato.
3. Memahami Latar Belakang Pendengar
Sebelum pembicaraan berlangsung pembicara yang baik berusaha mengumpulkan informasi pendengar, misalnya tentang jumlahnya, jenis kelamin, pekerjaannya, tingkat pendidikannya, minatnya dan sebagainya. Bahkan, perasaan pendengar kepada topik yang akan disampaikan sudah diramaikan, apakah simpati, antipati atau acuh tak acuh
4. Mengetahui Situasi
Pembicara yang baik selalu berusaha mengetahui dan memahami situasi ketika ia berbicara. Karena itu, ia akan mengidentifikasi mengenai ruangan, waktu, peralatan penunjang berbicara dan suasana
5. Tujuan Jelas
Pembicara yang baik dapat merumuskan tujuan pembicaraannya dengan tegas, jelas dan gamblang. Pembicara tahu persis kemana ia hendak membawa, memberi informasi, menstimulasi, meyakinkan atau untuk menggerakan pendengar.
6. Kontak dengan Pendengar
Pembicara yang baik selalu memperhatikan pendengarnya. Ia berusaha memahami reaksi emosi dan perasaan pendengar. Pembicara berusaha mengadakan kontak dengan pendengarnya melalui pandangan mata, anggukan atau senyuman. Pendengar yang merasa diperhatikan dan dihargai oleh pembicara atau bersikap positif terhadap pembicara dan pembicaraannya.
7. Kemampuan Linguistik Tinggi
Pembicara yang baik dapat memilih dan menggunakan kata, ungkapan dan kalimat yang tepat untuk menggambarkan jalan pikirannya. Ucapannya jelas, lafalnya baik, intonasinya tepat dalam berbahasa. Pembicara juga dapat memilih dan menggunakan kalimat yang sederhana dan efektif dalam membicarakan materinya. Pendek kata, pembicara yang baik memiliki kemampuan linguistik yang tinggi sehingga ia dapat menyesuaikan penggunaan bahasa dengan kemampuan pendengarnya.
8. Menguasai Pendengar
Salah satu ciri pembicara yang baik adalah pandai menarik perhatian pendengar. Dengan gaya bahasa yang menarik pembicara harus dapat mengarahkan pendengar kepada pembicaraannya. Bila pendengar sudah terpusat, terarah perhatiannya kepada pembicara berarti pembicara dapat menguasai, mengontrol dan mempengaruhi pendengarnya.
9. Memanfaatkan alat Bantu
Dalam menjelaskan materi pembicaran, pembicara yang baik selalu menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dipahami dan efektif untuk lebih memudahkan pendengar memahami penjelasannya. Pembicara dapat menggunakan alat bantu seperti : skema, diagram, statistik, gambar-gambar dan sebagainya.
10. Penampilannya harus Meyakinkan
Pembicara yang baik selalu tampil meyakinkan dari segala segi isi pembicaraan dikuasai, cara penyampaian ia kuasai, situasi dan latar belakang pendengar dipahami. Singkatnya tingkah laku, gaya bicara, cara berpakaian dan sebagainya harus meyakinkan.
Jumat, 19 November 2010
Memahami Retorika dalam Dialektika Komunikasi Oleh : Muhammad Khairil*
Memahami Retorika dalam Dialektika Komunikasi
Oleh : Muhammad Khairil*
PEPATAH klasik mengingatkan bahwa “berbicaralah, supaya saya dapat melihat dan mengenal anda”. Pepatah tersebut dipertegas oleh Martin Luther bahwa “siapa yang pandai bicara maka dialah manusia. Sebab berbicara adalah kebijaksanaan dan kebijaksanaan adalah berbicara”. Bicara menunjukkan bangsa, bicara juga mengungkapkan apakah anda orang terpelajar atau kurang ajar. Quintillianus mengatakan bahwa “tidak ada anugerah yang lebih indah, yang diberikan oleh para dewa selain keluhuran berbicara”.
“Ilmu bicara” dikenal sebagai retorika. Retorika berarti seni untuk berbicara baik (Kunst, gut zu reden atau Art bene dicendi), yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik dan dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya dituntut berbicara lancer, namun lebih pada kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, padat, jelas dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat.
Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Itu berarti orang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas supaya mudah dimengerti, singkat untuk menghemat waktu dan efektif karena apa gunanya berbicara kalau tidak membawa efek. Dalam konteks ini sebuah pepatah mengungkapkan bahwa “Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara seperti halnya orang yang menebak banyak belum tentu penebak yang baik dan benar”.
Dalam pemaknaannya, retorika diambil dari bahasa Inggris rhetoric bersumber dari perkataan latin rhetorica yang berarti ilmu bicara. Sedangkan Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren dalam bukunya Modern Rhetoric mendefenisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif. Hampir senada dengan hal tersebut Aristoteles mengartikan retorika sebagai The art of persuasion.
Perspektif retorika tentang komunikasi antarpersonal menyatakan bahwa konsep dan prinsip tradisonal retorika untuk mempengaruhi masyarakat, sama baiknya diterapkan pada komunikasi yang akrab dan antarpersonal. Substansi retorika bertujuan fungsional. Menurut Harold Barrett (1996) bahwa pemakai retorika berusaha “agar efektif, untuk mendapatkan jawaban, menjadi orang, dikenali, didengarkan, dishahihkan, dimengerti dan diterima”. Tujuan interaksi retoris merupakan dasar bersama tempat menjalin hubungan secara sukses. Orang-orang dalam komunikasi antarpersonal, (masih menurut Barret) harus berusaha keras supaya efektif dan etis, setiap saat menunjukkan penghargaan terhadap keberadaan orang lain, penghargaan terhadap nilai intrinsic mereka sebagai manusia.
Secara substansial terdapat beberapa faktor situasional yang mempengaruhi proses komunikasi dan persepsi seseorang dalam interaksi antarpersonalnya yaitu pertama, deskripsi verbal adalah penggambaran secara langsung tentang seseorang. Ketika seseorang menceritakan bahwa “wanita itu tinggi, putih, cerdas, rajin, lincah dan kritis” maka sudah terbayang bahwa wanita itu cantik, bahagia, humoris dan pandai bergaul (pada saat membayangkan maka deskripsi verbal telah berlangsung).
Kedua, Proksemik yaitu studi tentang penggunaan jarak dalam penyampaian pesan. “ Ketika Saudara menghadap seorang pejabat lalu Ia mempersilakan saudara duduk pada kursi yang tersedia sementara Ia duduk jauh dari saudara bahkan dihalangi oleh meja lebar maka saudara mempersepsikan bahwa pejabat tersebut sebagai orang yang tidak begitu terbuka sehingga saudara lebih berhati-hati berbicara dengannnya. Ketiga, Kinesik adalah ekspresi sikap dan gerak tubuh seseorang. Untuk memperjelas tentang kinesik, maka silakan pembaca jawab pertanyaan, bagaimana pendapat dan penilaian saudara ketika seseorang berbicara terpatah-patah, kedua telapak tangannya saling meremas dan diletakkan di atas kedua paha yang dirapatkan? (Jawaban pembaca merupakan persepsi yang didasarkan atas kinesik).
Keempat, Paralinguistik yaitu cara bagaimana seseorang mengucapkan lambang-lambang verbal, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara dan proses bagaimana menyampaikan pesan. Tempo bicara yang lambat, ragu-ragu, dan tersendat-sendat akan dipahami sebagai ungkapan rendah diri atau “kebodohan”. Kelima, artifaktual yaitu meliputi segala macam penampilan mulai dari potongan rambut, kosmetik yang dipakai, baju, tas, kendaraan dan atribut-atribut lainnya. Persepsi bahwa seseorang kaya karena Ia mengendari mobil mewah, potongan rambut yang rapi, menggunakan jas dan berbagai atribut parlente lainnya (padahal tahukah saudara bahwa ia hanya seorang supir!).
Semua orang merindukan bisa menjelaskan sesuatu dengan baik, namun tidak semua bisa melakukannya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan ilmu yang dipelajari, keterbatasan kesungguhan untuk melatih diri, dan keterbatasan dari kegigihan serta semangat. Itulah hal yang terkadang membuat kualitas dalam penyampaian sesuatu tidak meningkat.
Kemampuan menyampaikan ide hampir sama pentingnya dengan ide itu sendiri. Artinya sebuah ide yang baik, menarik dan penting ternyata akan kurang bermakna jika disampaikan oleh seseorang yang kemampuan komunikasinya terbatas. Sebaliknya, ide yang sederhana bahkan kurang penting akan terkesan luar biasa jika disampaikan dengan teknik komunikasi yang baik.
Peningkatan penyajian informasi dalam dialektika retoris-etis antarpersonal dapat dilakukan melalui pemaparan fakta yaitu pernyataan yang menunjukkan bahwa sesuatu itu benar. Ada tiga kriteria yang dijadikan tolak ukur yaitu pertama relevancy adalah fakta yang diungkapkan bermanfat atau relevan dengan kepentingan pembicara dan pendengar. Kedua, Sufficiency yaitu fakta dapat mendukung gagasan utama dalam pembicaraan. Ketiga atau yang terakhir adalah Plausibility yaitu sumber-sumber fakta harus dapat dipercaya nilai kebenarannya.
Sebagai refleksi akhir dalam tulisan ini mengingat kembali tentang seorang kopral kecil, veteran Perang Dunia II berhasil naik menjadi kaisar Jerman. Dalam bukunya Main Kampf dengan tegas Hitler mengatakan bahwa keberhasilannya disebabkan oleh kemampuannya berbicara. Ich Konnte reden, ungkapnya. Lebih lanjut Ia mengungkapkan bahwa Jede Grosse Bewegung Auf Dieser Erde Verdankt ihr Wachsen den grosseren rednern und nicht den grossen schreibern (setiap gerakan besar di dunia ini dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan oleh jago-jago tulisan).
* Muhammad Khairil, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fisip Untad dan Saat ini Sedang Menempuh Program Pascasarjana (Doktoral/S3) Ilmu Komunikasi di Universitas Padjdjaran Bandung.
Oleh : Muhammad Khairil*
PEPATAH klasik mengingatkan bahwa “berbicaralah, supaya saya dapat melihat dan mengenal anda”. Pepatah tersebut dipertegas oleh Martin Luther bahwa “siapa yang pandai bicara maka dialah manusia. Sebab berbicara adalah kebijaksanaan dan kebijaksanaan adalah berbicara”. Bicara menunjukkan bangsa, bicara juga mengungkapkan apakah anda orang terpelajar atau kurang ajar. Quintillianus mengatakan bahwa “tidak ada anugerah yang lebih indah, yang diberikan oleh para dewa selain keluhuran berbicara”.
“Ilmu bicara” dikenal sebagai retorika. Retorika berarti seni untuk berbicara baik (Kunst, gut zu reden atau Art bene dicendi), yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik dan dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya dituntut berbicara lancer, namun lebih pada kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, padat, jelas dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat.
Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Itu berarti orang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas supaya mudah dimengerti, singkat untuk menghemat waktu dan efektif karena apa gunanya berbicara kalau tidak membawa efek. Dalam konteks ini sebuah pepatah mengungkapkan bahwa “Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara seperti halnya orang yang menebak banyak belum tentu penebak yang baik dan benar”.
Dalam pemaknaannya, retorika diambil dari bahasa Inggris rhetoric bersumber dari perkataan latin rhetorica yang berarti ilmu bicara. Sedangkan Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren dalam bukunya Modern Rhetoric mendefenisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif. Hampir senada dengan hal tersebut Aristoteles mengartikan retorika sebagai The art of persuasion.
Perspektif retorika tentang komunikasi antarpersonal menyatakan bahwa konsep dan prinsip tradisonal retorika untuk mempengaruhi masyarakat, sama baiknya diterapkan pada komunikasi yang akrab dan antarpersonal. Substansi retorika bertujuan fungsional. Menurut Harold Barrett (1996) bahwa pemakai retorika berusaha “agar efektif, untuk mendapatkan jawaban, menjadi orang, dikenali, didengarkan, dishahihkan, dimengerti dan diterima”. Tujuan interaksi retoris merupakan dasar bersama tempat menjalin hubungan secara sukses. Orang-orang dalam komunikasi antarpersonal, (masih menurut Barret) harus berusaha keras supaya efektif dan etis, setiap saat menunjukkan penghargaan terhadap keberadaan orang lain, penghargaan terhadap nilai intrinsic mereka sebagai manusia.
Secara substansial terdapat beberapa faktor situasional yang mempengaruhi proses komunikasi dan persepsi seseorang dalam interaksi antarpersonalnya yaitu pertama, deskripsi verbal adalah penggambaran secara langsung tentang seseorang. Ketika seseorang menceritakan bahwa “wanita itu tinggi, putih, cerdas, rajin, lincah dan kritis” maka sudah terbayang bahwa wanita itu cantik, bahagia, humoris dan pandai bergaul (pada saat membayangkan maka deskripsi verbal telah berlangsung).
Kedua, Proksemik yaitu studi tentang penggunaan jarak dalam penyampaian pesan. “ Ketika Saudara menghadap seorang pejabat lalu Ia mempersilakan saudara duduk pada kursi yang tersedia sementara Ia duduk jauh dari saudara bahkan dihalangi oleh meja lebar maka saudara mempersepsikan bahwa pejabat tersebut sebagai orang yang tidak begitu terbuka sehingga saudara lebih berhati-hati berbicara dengannnya. Ketiga, Kinesik adalah ekspresi sikap dan gerak tubuh seseorang. Untuk memperjelas tentang kinesik, maka silakan pembaca jawab pertanyaan, bagaimana pendapat dan penilaian saudara ketika seseorang berbicara terpatah-patah, kedua telapak tangannya saling meremas dan diletakkan di atas kedua paha yang dirapatkan? (Jawaban pembaca merupakan persepsi yang didasarkan atas kinesik).
Keempat, Paralinguistik yaitu cara bagaimana seseorang mengucapkan lambang-lambang verbal, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara dan proses bagaimana menyampaikan pesan. Tempo bicara yang lambat, ragu-ragu, dan tersendat-sendat akan dipahami sebagai ungkapan rendah diri atau “kebodohan”. Kelima, artifaktual yaitu meliputi segala macam penampilan mulai dari potongan rambut, kosmetik yang dipakai, baju, tas, kendaraan dan atribut-atribut lainnya. Persepsi bahwa seseorang kaya karena Ia mengendari mobil mewah, potongan rambut yang rapi, menggunakan jas dan berbagai atribut parlente lainnya (padahal tahukah saudara bahwa ia hanya seorang supir!).
Semua orang merindukan bisa menjelaskan sesuatu dengan baik, namun tidak semua bisa melakukannya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan ilmu yang dipelajari, keterbatasan kesungguhan untuk melatih diri, dan keterbatasan dari kegigihan serta semangat. Itulah hal yang terkadang membuat kualitas dalam penyampaian sesuatu tidak meningkat.
Kemampuan menyampaikan ide hampir sama pentingnya dengan ide itu sendiri. Artinya sebuah ide yang baik, menarik dan penting ternyata akan kurang bermakna jika disampaikan oleh seseorang yang kemampuan komunikasinya terbatas. Sebaliknya, ide yang sederhana bahkan kurang penting akan terkesan luar biasa jika disampaikan dengan teknik komunikasi yang baik.
Peningkatan penyajian informasi dalam dialektika retoris-etis antarpersonal dapat dilakukan melalui pemaparan fakta yaitu pernyataan yang menunjukkan bahwa sesuatu itu benar. Ada tiga kriteria yang dijadikan tolak ukur yaitu pertama relevancy adalah fakta yang diungkapkan bermanfat atau relevan dengan kepentingan pembicara dan pendengar. Kedua, Sufficiency yaitu fakta dapat mendukung gagasan utama dalam pembicaraan. Ketiga atau yang terakhir adalah Plausibility yaitu sumber-sumber fakta harus dapat dipercaya nilai kebenarannya.
Sebagai refleksi akhir dalam tulisan ini mengingat kembali tentang seorang kopral kecil, veteran Perang Dunia II berhasil naik menjadi kaisar Jerman. Dalam bukunya Main Kampf dengan tegas Hitler mengatakan bahwa keberhasilannya disebabkan oleh kemampuannya berbicara. Ich Konnte reden, ungkapnya. Lebih lanjut Ia mengungkapkan bahwa Jede Grosse Bewegung Auf Dieser Erde Verdankt ihr Wachsen den grosseren rednern und nicht den grossen schreibern (setiap gerakan besar di dunia ini dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan oleh jago-jago tulisan).
* Muhammad Khairil, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fisip Untad dan Saat ini Sedang Menempuh Program Pascasarjana (Doktoral/S3) Ilmu Komunikasi di Universitas Padjdjaran Bandung.
lmu Komunikasi
lmu Komunikasi merupakan Ilmu yang mempelajari usaha manusia dalam menyampaikan isi pernyataanya kepada manusia lain. Sebagai ilmu, komunikasi memiliki objek kajian yaitu usaha manusia dalam menyampaikan isi pernyataannya kepada manusia lain.
Manusia bukan saja menyampaikan isi pernyataan kepada manusia tetapi juga kepada yang bukan manusia seperti binatang, tumbuhan-tumbuhan dan benda-benda. Hanya mahkluk yang punya akal budi saja yang mampu memahami hasil penggunaan akal dan budi manusia sebagaimana adanya.Dengan menggunakan akal dan budinya ini manusia dapat memberikan jawaban kepada manusia lain yang menyampaikannya.
Pengertian lain, Ilmu komunikasi merupakan ilmu terapan dari kelompok ilmu sosial. Sebab, menurut ilmuwan, ilmu ini bersifat indisipliner karena objek materialnya sama dengan ilmu-ilmu yang lain, terutama yang masuk ilmu sosial. Dinamakan ilmu terapan karena dipakai untuk memecahkan masalah-masalah praktis yang dapat dirasakan kegunaannya secara langsung dan bersifat sosial.
Ilmu-ilmu terapan berhubungan dengan perubahan atau pengawasan dari situasi-situasi praktis, ditinjau dari sudut kebutuhan manusia. Sementara itu, bedanya dengan ilmu yang murni mengembangkan ilmu itu sendiri tanpa mempertimbangkan apakah ilmu tersebut secara langsung berguna bagi masyarakat atau tidak.
Perkembangan komunikasi sebagai ilmu selalu dikaitkan dengan aktifitas retorika yang terjadi di zaman Yunani kuno, sehingga menimbulkan pemahaman bagi pemikir-pemikir barat bahwa perkembangan komunikasi pada zaman itu mengalami masa kegelapan (dark ages) karena tidak berkembang di zaman Romawi kuno.
Dan baru mulai dicatat perkembangannya pada masa ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg (1457). Sehingga masalah yang muncul adalah, rentang waktu antara perkembangan ilmu komunikasi yang awalnya dikenal retorika pada masa Yunani kuno, sampai pada pencatatan sejarah komunikasi pada masa pemikiran tokoh-tokoh pada abad 19, sangat jauh.
Sehingga sejarah perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri terputus kira-kira 1400 tahun. Padahal menurut catatan lain, sebenarnya aktifitas retorika yang dilakukan pada zaman Yunani kuno juga dilanjutkan perkembangan aktifitasnya pada zaman pertengahan (masa persebaran agama).
Dari sini muncul asumsi bahwa perkembangan komunikasi itu menjadi sebuah ilmu tidak pernah terputus, artinya tidak ada mata rantai sejarah yang hilang pada perkembangan komunikasi. Makalah ini ingin mengangkat zaman persebaran agama yang berlangsung antara rentang waktu tersebut (zaman pertengahan) menjadi bagian dari perkembangan ilmu komunikasi. Sehingga zaman pertengahan menjadi jembatan alur perkembangan komunikasi dari zaman yunani kuno ke zaman renaissance, modern, dan kontemporer.
Pertumbuhan ilmu komunikasi dari 1900-PD II, perkembangannya berawal dari penemuan-penemuan teknologi komunikasi :telepon, telegraph, radio dan alat telekomunikasi lainnya. Dengan diikuti industrialisasi dan modernisasi di Eropa Barat dan AS.
Berikutnya periode konsolidasi setelah PD II - 1960-an ditandai dengan Adopsi perbendaharaan istilah-istilah yang dipakai secara seragam, bermunculnya buku-buku dasar yang membahas tentang pengertian dan proses komunikasi, Adanya konsep-konsep baku tentang dasar-dasar proses komunikasi dengan tokoh Claude E. Shannon, Norbrt Wiener, Harold D.Laswell, Kurt Luwin, Carl l.Hovland, Paul F. Lazarsfeld, dan Wilbur Schramm. Serta periode teknologi dari tahun 1960-an sampai dengan sekarang.
Di Indonesia, ilmu komunikasi yang kita kaji saat ini sebenarnya merupakan hasil dari suatu proses perkembangan yang panjang. Status ilmu ini di Indonesia diperoleh melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 107/82 Tahun 1982. Keppres itu yang kemudian membawa penyeragaman nama dari ilmu yang dikembangkan di Indonesia.
Manusia bukan saja menyampaikan isi pernyataan kepada manusia tetapi juga kepada yang bukan manusia seperti binatang, tumbuhan-tumbuhan dan benda-benda. Hanya mahkluk yang punya akal budi saja yang mampu memahami hasil penggunaan akal dan budi manusia sebagaimana adanya.Dengan menggunakan akal dan budinya ini manusia dapat memberikan jawaban kepada manusia lain yang menyampaikannya.
Pengertian lain, Ilmu komunikasi merupakan ilmu terapan dari kelompok ilmu sosial. Sebab, menurut ilmuwan, ilmu ini bersifat indisipliner karena objek materialnya sama dengan ilmu-ilmu yang lain, terutama yang masuk ilmu sosial. Dinamakan ilmu terapan karena dipakai untuk memecahkan masalah-masalah praktis yang dapat dirasakan kegunaannya secara langsung dan bersifat sosial.
Ilmu-ilmu terapan berhubungan dengan perubahan atau pengawasan dari situasi-situasi praktis, ditinjau dari sudut kebutuhan manusia. Sementara itu, bedanya dengan ilmu yang murni mengembangkan ilmu itu sendiri tanpa mempertimbangkan apakah ilmu tersebut secara langsung berguna bagi masyarakat atau tidak.
Perkembangan komunikasi sebagai ilmu selalu dikaitkan dengan aktifitas retorika yang terjadi di zaman Yunani kuno, sehingga menimbulkan pemahaman bagi pemikir-pemikir barat bahwa perkembangan komunikasi pada zaman itu mengalami masa kegelapan (dark ages) karena tidak berkembang di zaman Romawi kuno.
Dan baru mulai dicatat perkembangannya pada masa ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg (1457). Sehingga masalah yang muncul adalah, rentang waktu antara perkembangan ilmu komunikasi yang awalnya dikenal retorika pada masa Yunani kuno, sampai pada pencatatan sejarah komunikasi pada masa pemikiran tokoh-tokoh pada abad 19, sangat jauh.
Sehingga sejarah perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri terputus kira-kira 1400 tahun. Padahal menurut catatan lain, sebenarnya aktifitas retorika yang dilakukan pada zaman Yunani kuno juga dilanjutkan perkembangan aktifitasnya pada zaman pertengahan (masa persebaran agama).
Dari sini muncul asumsi bahwa perkembangan komunikasi itu menjadi sebuah ilmu tidak pernah terputus, artinya tidak ada mata rantai sejarah yang hilang pada perkembangan komunikasi. Makalah ini ingin mengangkat zaman persebaran agama yang berlangsung antara rentang waktu tersebut (zaman pertengahan) menjadi bagian dari perkembangan ilmu komunikasi. Sehingga zaman pertengahan menjadi jembatan alur perkembangan komunikasi dari zaman yunani kuno ke zaman renaissance, modern, dan kontemporer.
Pertumbuhan ilmu komunikasi dari 1900-PD II, perkembangannya berawal dari penemuan-penemuan teknologi komunikasi :telepon, telegraph, radio dan alat telekomunikasi lainnya. Dengan diikuti industrialisasi dan modernisasi di Eropa Barat dan AS.
Berikutnya periode konsolidasi setelah PD II - 1960-an ditandai dengan Adopsi perbendaharaan istilah-istilah yang dipakai secara seragam, bermunculnya buku-buku dasar yang membahas tentang pengertian dan proses komunikasi, Adanya konsep-konsep baku tentang dasar-dasar proses komunikasi dengan tokoh Claude E. Shannon, Norbrt Wiener, Harold D.Laswell, Kurt Luwin, Carl l.Hovland, Paul F. Lazarsfeld, dan Wilbur Schramm. Serta periode teknologi dari tahun 1960-an sampai dengan sekarang.
Di Indonesia, ilmu komunikasi yang kita kaji saat ini sebenarnya merupakan hasil dari suatu proses perkembangan yang panjang. Status ilmu ini di Indonesia diperoleh melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 107/82 Tahun 1982. Keppres itu yang kemudian membawa penyeragaman nama dari ilmu yang dikembangkan di Indonesia.
Selasa, 16 November 2010
Legenda Sastra Chairil Anwar
yang Disalahpahami
Chairil Anwar adalah legenda sastra yang hidup di batin masyarakat
Indonesia. Ia menjadi ilham bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya.
Namun siapa sangka, penyair yang memelopori pembebasan bahasa Indonesia dari tatanan lama ini adalah juga seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi?
Berikut ini tulisan tentang Chairi Anwar, yang sebagian besar bahannya dicuplik dari buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arief
Budiman, ditambah beberapa referensi lain serta sejumlah wawancara.
"Di Jalan Juanda (Jakarta) dulu ada dua toko buku, yang sekarang
jadi kantor Astra. Namanya toko buku Kolf dan van Dorp. Koleksinya luar biasa banyak.
Saya dan Chairil suka mencuri buku di situ," begitu Asrul Sani pernah
bercerita.
"Suatu kali kami melihat buku Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra. `Wah, itu buku mutlak harus dibaca,' kata Chairil pada saya. `Kau perhatikan orang itu, aku mau mengantongi Nietzsche ini.' Chairil memakai celana komprang dengan dua saku lebar, cukup besar untuk menelan buku itu."
Buku-buku filsafat, termasuk buku Nietzsche tadi, diletakkan di antara
buku-buku agama. Kebetulan buku Nietzsche ukuran dan warna sampulnya yang hitam persis betul dengan kitab Injil. "Sementara Chairil
mengantongi buku, saya memperhatikan pelayan toko," kata Asrul. "Hati saya deg-degan setengah mati.
Setelah buku berpindah tempat, kami lantas keluar dari toko dengan
tenang. Tapi sampai di luar tiba-tiba Chairil terkejut, `Kok ini? Wah, salah
ambil aku!' sambil tangannya terus membolak-balik buku. Rupanya Chairil salah mengambil Injil. Kami kecewa sekali."
Chairil Anwar memang seorang "penggila" buku, yang dengan rakus
melahap karya-karya W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nitsche, H. Marsman, Edgar du Peroon, J. Slauerhoff, dan banyak lagi.
Tapi dia adalah penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, tidak
punya pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, penyakitan, dan tingkah
lakunya menjengkelkan. Alhasil, lengkaplah "ciri-ciri" seniman pada
dirinya.
Namun, dia juga contoh yang baik tentang totalitas berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Jika Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai kegiatan sampingan, di samping tugas keseharian mereka sebagai redaktur sebuah surat kabar, politikus, atau lainnya, ia semata-mata hidup untuk puisi dan dari puisi.
Tak Terurus. Nama Chairil mulai dikenal di kalangan seniman pada tahun
1943. H.B. Jassin punya cerita. "Suatu hari di tahun 1943," tuturnya,
"Chairil datang ke redaksi Pandji Pustaka; seorang muda kurus pucat tidak terurus kelihatannya.
Matanya merah, agak liar, tetapi selalu seperti berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti orang tak peduli. Ia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Pandji Pustaka. Tapi didapatnya keterangan bahwa sajak-sajaknya tidak mungkin dimuat. Kata pemimpin majalah itu, `Susunan Dunia Baru' (sajak Chairil) tidak ada harganya. Sajak-sajak individualis lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan prive (privacy) sang pengarang. Kiasan-kiasannya terlalu mem-Barat."
Sejak itu sang penyair sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan
(Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi.
Gaya bersajak dan elan vital dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe).
Bukan secara kebetulan agaknya jika sajak-sajak Chairil memiliki
nuansa individualistis yang kental. Pergumulan total Chairil dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair terjerembab dalam sebuah ritus pencarian filosofis.
Semacam tertuntun pada sebuah kredo bahwa di dalam kesenian, berfilsafat menjadi keniscayaan yang menusuk. Terutama karena berkesenian mengharuskan sang seniman berhadapan dengan problem-problem tentang ketuhanan, kebebasan, dan apa saja.
Salah Kaprah. Buat kita sekarang, sosok Chairil sudah lekat dengan citra
kepenyairan Indonesia. Sejumlah larik puisi dari penyair kita ini telah menjadi semacam pepatah atau kata-kata mutiara yang hidup di kalangan
masyarakat:
"Aku ini binatang jalang", "Hidup hanya menunda kekalahan",
"Aku mau hidup seribu tahun lagi", dan masih banyak lagi. Atau bertanyalah pada siswa SLTP dan SLTA siapa penyair kondang Indonesia, niscaya mereka akan menyebut namanya, lengkap dengan beberapa judul syairnya.
Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, ada yang salah dalam persepsi kita
mengenai tokoh yang satu ini. Ada yang salah kaprah. Sebagai ilustrasi, sajak "Aku" lebih sering dipahami banyak orang sebagai sajak pemberontakan terhadap penjajahan. Padahal tidak. Kata Asrul Sani, sajak itu sebenarnya tidak lebih dari "teriakan putus asa dan rasa getir", termasuk penolakan terhadap sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu ayahnya.
Sajak "Diponegoro" juga sering dikira sajak perjuangan.
Padahal, seperti pernah diulas Arief Budiman, sajak itu adalah cerminan dari ekspresi kekaguman Chairil pada semangat hidup Pangeran Diponegoro, di saat jiwanya amat diresahkan dengan kematian dan absurditas.
Ia menulis puisi pertamanya, "Nisan", pada Oktober 1942, ketika ia berusia 20 tahun, ketika teknik persajakan belum dikuasainya benar. Para
pengamat sastra menganggap sajak ini sebagai sajak tertuanya. Padahal, menurut H.B. Jassin, sebelum "Nisan" Chairil sudah lebih dulu membuat sajak-sajak corak Pujangga Baru, tapi karena tidak memuaskannya lalu dia buang.
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta.
Sajak "Nisan" ini, yang didedikasikan untuk neneknya yang baru meninggal, merupakan renungan Chairil tentang kematian, yang di matanya teramat misterius, namun tak terhindarkan oleh siapa pun.
Renungannya ini lalu menghantarkan ia pada pertanyan eksistensial: "Bila manusia mati, lantas apa gunanya segala usaha yang dilakukan dalam hidup ini?"
Pertanyaan filosofis itu terus mengejarnya, sementara kehidupan sendiri
tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan. Maka bukan hal yang aneh, di saat batin kemanusiaannya begitu merindukan semangat menghadapi hidup yang absurd dengan gagah berani, tiba-tiba Chairil mendapati sosok legendaris Pangeran Diponegoro sebagai perwujudan yang konkret dari kegairahannya mempertahankan hidup.
Inilah agaknya yang lalu mengilhaminya menulis sajak "Diponegoro", pada Februari 1943. Meski sama-sama berbicara tentang kematian, sajak-sajak yang ditulis Chairil menjelang akhir hayatnya lebih sublim dan intens.
Di samping teknik persajakan telah dikuasainya benar sehingga sajak-sajaknya terasa jernih, penghayatannya terhadap kehidupan (dan kematian) yang menjadi subjek puisi-puisinya juga telah mencapai klimaks kematangan sebagai seorang penyair.
Sajak pertama yang ditulis Chairil pada 1949 (tahun kematiannya)
adalah "Chairil Muda, Mirat Muda", dengan tambahan judul kecil
"Di Pegunungan 1943".
Sajak ini merupakan kenangan Chairil terhadap saat-saat yang paling
membahagiakan dalam hidupnya--sebuah perasaan yang wajar timbul pada orang-orang yang menyongsong kematian. Di akhir sajak tersebut ia
sempat menulis kata mati. Namun berbeda dengan sajak-sajaknya yang ditulis pada 1942, di mana kematian dipersoalkan dengan keterlibatan dan perhatian yang penuh, di sajak ini kematian diucapkannya dengan cara yang ringan saja.
Agaknya kematian bukan lagi sesuatu yang menjadi objek obsesinya, melainkan sebagai kenyataan yang sederhana, sama sederhananya dengan udara di muka bumi.
Dalam sajaknya "Yang Terampas dan yang Putus", juga ditulis pada 1949, Chairil malah secara jelas menulis kesiapannya untuk menghadapi
kematian. Ia tiba-tiba menyadari bahwa impuls-impuls kehidupan tidak pernah sepenuhnya diam.
Demikian pula dalam sajak "Derai-Derai Cemara", yang ia tulis sesudahnya. Dalam sajak yang ia tulis setelah percakapan yang panjang dengan dua sahabatnya, Rivai Apin dan Asrul Sani, Chairil kembali menegaskan bahwa kehidupan adalah sebingkai misteri yang tidak bisa kita temui artinya, tapi pada saat yang sama kita memiliki impuls untuk mempertahankannya.
Kita hidup, menurut Chairil, untuk sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya. Dan barangkali satu-satunya alasan untuk terus hidup adalah karena kita sedang mencari maknanya.
Namun misteri tetaplah sebuah misteri, ia tidak pernah akan bisa
terpecahkan. Karenanya mencari makna kehidupan adalah sesuatu yang sia-sia, meski harus terus dilakukan. Maka bagi Chairil, "hidup hanya
menunda kekalahan/ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah".
Penyair Terbesar. Chairil memiliki simpati yang sangat besar terhadap
upaya meraih kemerdekaan manusia, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Pada 1948, sebagai bukti perhatiannya pada situasi sosial-politik waktu itu, ia menulis sajak
"Krawang-Bekasi", yang disadurnya dari sajak "The Young Dead Soldiers", karya Archibald MacLeish.
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Syahrir.
Pada tahun yang sama, ia menulis sajak "Persetujuan dengan Bung Karno", yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus
mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Belakangan, sajak Chairil yang berjudul "Aku" dan "Diponegoro" juga banyak dipahami orang sebagai sajak perjuangan. Padahal, sajak-sajak ini adalah
jenis sajak individu, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
perjuangan kemerdekaan karena ditulis pada 1943. Namun dalam sajak "Aku" misalnya, di mana Chairil mengintroduksi dirinya sebagai "Aku binatang jalang", ia bisa menjelmakan kata hati rakyat Indonesia yang ingin bebas.
Dalam analisis Agus R. Sardjono, penyair terkemuka Bandung, sajak-sajak seperti "Krawang-Bekasi", "Persetujuan dengan Bung
Karno", "Aku", dan "Diponegoro" inilah yang justru di kemudian hari membuat Chairil Anwar menjadi legenda dalam dunia kepenyairan Indonesia.
Hal itu dimungkinkan karena sajak-sajak ini bersifat sastra mimbar, untuk menyebut jenis sajak-sajak yang bersifat sosiologis (yang berpretensi untuk menjawab atau menanggapi fakta-fakta sosial), dan biasanya dibaca dengan suara keras atau menyeru-nyeru, serta
dengan tangan terkepal.
Masih menurut Agus, nama Chairil mungkin tidak akan begitu populer seperti sekarang bila dia hanya menciptakan sajak yang berjenis sastra kamar, sajak-sajak yang kontemplatif dan personal. Betapapun tingginya mutu sajak "Derai-Derai Cemara", "Senja di Pelabuhan Kecil", atau "Yang terampas dan yang Putus" secara kesusastraan, namun sajak-sajak demikian sama sekali tidak memiliki peluang untuk diapresiasi secara massal.
Namun, dengan segala ketidaksempurnaannya, keberhasilan terbesar
Chairil bagi dunia persajakan Indonesia khususnya, dan bahasa Indonesia
pada umumnya, adalah kepeloporannya untuk membebaskan bahasa Indonesia dari aturan-aturan lama (ejaan van Ophusyen) yang waktu itu cukup mengekang, menjadi bahasa yang membuka kemungkinan-kemungkinan sebagai alat pernyataan yang sempurna.
Kebebasan bahasa itu teramat penting. Terbukti Malasyia, negara yang
menggunakan bahasa Melayu, yang serumpun dengan bahasa Indonesia (tapi tidak pernah memiliki penyair sekaliber Chairil) dalam hal bahasa jauh tertinggal dari bangsa kita. Kebebasan bahasa itu adalah prestasi besar bangsa Indonesia.
Dengan itu kita dapat mengutarakan apa saja langsung dari lubuk hati
kita. Dan, seperti diamini banyak sastrawan kita, berkah itu adalah warisan Chairil Anwar, penyair terbesar yang pernah kita miliki.
Mengembara di Negeri Asing
Chairil Anwar tampaknya memang ditakdirkan untuk menjadi penyair yang disalahpahami. Tapi ia terbilang beruntung karena ia disalahpahami ke arah yang positif. Begitupun dalam hal religiusitas. Tidak sedikit orang yang menjulukinya penyair religius. Ini, antara lain, gara-gara sajak "Doa",
yang memang amat religius.
Tak jarang, dalam peringatan hari-hari besar agama Islam (juga Kristen), sajak tersebut dibaca dan memperoleh apresiasi yang luas. Benarkah ia penyair religius? Menurut penuturan Ida Rosihan Anwar (istri wartawan kawakan Rosihan Anwar yang sangat dekat dengan Chairil) dalam
kesehariannya Chairil tidak pernah memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama. Ia tidak pernah tampak salat, berpuasa di bulan Ramadan, atau bahkan ikut bergembira pada Idul Fitri. Jadi, ia bukan muslim yang baik.
Namun, kalau kita mengacu pada kriteria filosof Paul Tillich tentang siapa
yang disebut religius, (yaitu mereka yang secara serius mencoba mengerti hidup ini secara lebih jauh dari batas-batas yang lahiriah saja), Chairil
termasuk kelompok ini.
Konklusi ini semata-mata bersandar pada penyerahan total Chairil untuk
menjawab pertanyaan "apa tujuan hidup saya", dalam sepanjang masa
hidupnya.
Dan karena agama bagi banyak orang di dunia ini dianggap sebagai
jawaban pertanyaan "apa tujuan hidup saya?", Chairil tidak luput
membicarakan agama dalam beberapa sajaknya. Sajak "Di Masjid", yang
ditulisnya pada 29 Mei 1943, adalah sajak pertama mengenai hal ini.
Dalam sajaknya ini ia menegaskan sikapnya yang tidak mau terikat
apa pun juga, serta bersedia menerima segala bentuk penderitaan sebagai akibat pilihannya. Dia menolak untuk menyerah kepada agama, meskipun dia mengakui juga, agama mempunyai daya tarik yang sangat kuat sehingga sulit untuk melawannya: "Kuseru saja Dia/sehingga datang juga/Kamipun bermuka-muka/seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada/Segala daya memadamkannya/Ini ruang/gelanggang kami berperang/Binasa membinasa/satu menista lain gila.
Sajaknya yang kedua tentang agama ditulis lima bulan kemudian, berjudul
"Isa". Dalam sajak ini, selain terpesona, Chairil juga tersindir dengan pengorbanan dan penderitaan yang dialami Nabi Isa untuk menyelamatkan umat manusia.
Ia merasa "minder" lantaran sikap hidupnya yang hanya memikirkan
kemerdekaan diri sendiri, dan tidak peduli pada orang lain. Ia seperti dihadapkan pada pertanyaan, "Apakah sebuah pengorbanan ada artinya?"
Pertanyaan itu terus mengganggu hingga keesokan harinya dia menyerah
dan menulis sajak "Doa" sebagai ekspresi penyerahdiriannya kepada Tuhan. Ia berseru: Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut nama-Mu/Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh/caya-Mu panas suci/tinggal kerdip lilin di malam sunyi/Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk/ Tuhanku/aku mengembara di negeri asing/Tuhanku/di pintu-Mu mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.
Dalam sajak ini Chairil memang tidak menjelaskan apa alasan ia "menyerah", namun yang pasti ia merasa hilang bentuk dan remuk ketika dia berjalan tanpa Tuhan.
Apakah dengan sajak ini Chairil telah "menemukan kembali" Tuhan?
Jawaban sementara: "ya". Agaknya bila Chairil tiba pada suatu titik kehidupan di mana dia mengambil suatu sikap secara lebih utuh, maka perasaan tenang datang meneduhinya.
Pada Februari 1947, dalam suasana yang sudah berbeda, Chairil
kembali menulis sajak tentang agama, yang berjudul "Sorga". Di sini,
dengan semangat eksistensialismenya yang kental, ia menggugat surga beserta gambarannya yang dijanjikan agama. Selanjutnya Chairil lebih memilih menolak agama karena agama memintanya untuk mengorbankan apa yang nyata sekarang, untuk digantikan sesuatu pada masa datang yang baginya belum pasti.
Maka bisa dipastikan, sesudah sikapnya ini Chairil kembali menemukan
dirinya kesepian. Namun, perasaan itu tampaknya sudah dia harapkan
dan dia hadapi dengan tenang. Ia kembali memilih menjadi pengembara selama hidupnya.
Meskipun, konon menurut kesaksian H.B. Jassin, menjelang mengembuskan nafasnya yang terakhir, Chairil ternyata tetap tidak lupa menyebut nama Tuhan.
Di sela-sela panas badannya yang tinggi sebelum kematiannya, ia mengucap, Tuhanku, Tuhanku....
Gadis-Gadis Pun Memujanya
Teman dekat Chairil Anwar semasa kecil, Sjamsulridwan, pernah menulis di majalah Mimbar Indonesia, edisi Maret-April 1966. Katanya, salah satu sikap Chairil yang menonjol sejak kecil adalah sifatnya yang pantang kalah.
"Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap menyala-nyala, dan boleh dikatakan tidak pernah diam."
Chairil dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1922.
Ayahnya, Toeloes, berasal dari Payakumbuh (Sumatera Barat). Dia menjadi Pamongpraja di Medan, dan pada zaman revolusi sempat menjadi bupati Indragiri, Karesidenan Riau. Sedang ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang (Sumatera Barat) dan masih mempunyai pertalian keluarga dengan ayah Sutan Syahrir (tokoh PSI).
Menurut Sjamsulridwan, meski cukup terpandang dan disegani masyarakat sekitarnya, kehidupan kedua orangtua Chairil senantiasa ribut. Mereka sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan sama-sama tidak mau mengalah.
Hanya dalam satu hal mereka sama: dua-duanya sangat memanjakan Chairil. Segala keinginannya: mainan-mainan terbaru dan terbaik. Mereka pun selalu membenarkan sikap Chairil. Kalau ia berkelahi, ayahnya senantiasa membela. Bahkan kalau perlu ikut berkelahi.
Di luar rumah, Chairil tumbuh menjadi pemuda yang lincah dan penuh
percaya diri. Di samping karena kedudukan ayahnya, otak yang tajam
dan cerdas serta sifatnya yang terbuka, tidak mengenal takut atau malu-malu, membuat ia dikenal dan menjadi kesayangan banyak pihak, baik di kalangan guru maupun di antara teman-temannya.
Di kalangan gadis-gadis, Chairil juga disukai karena wajahnya yang tampan dan menyerupai orang indo.
Demikianlah, semua orang seolah memanjakannya. Keuangannya tidak
pernah kurang. Sepedanya termasuk golongan yang paling baik, di zaman
ketika mempunyai sepeda saja merupakan suatu kebanggaan. Dan ada sisi baik yang bisa dicatat dari gaya pergaulan Chairil, yaitu sikapnya tidak pernah sombong.
Meskipun dia angkuh dan selalu merasa hebat, dia selalu mudah sekali berkenalan dengan siapa saja, tanpa pernah membedakan status sosial, status ekonomi, dan intelektualitas.
Masa kanak-kanak hingga masa remaja Chairil dihabiskan di Medan.
Di HIS (setingkat SD) saja ia sudah menampakkan bakatnya sebagai siswa yang cerdas dan berbakat menulis. Lalu ia melanjutkan sekolahnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, setingkat SMP).
Ketika usia Chairil menginjak 19 tahun, dan duduk di kelas dua, ayahnya kawin lagi dan bercerai dengan ibunya. Karena mulai membenci ayahnya dan menginginkan kehidupan yang lain, ia memilih hijrah ke Batavia (Jakarta), dan meneruskan pendidikannya di sana.
Tak lama kemudian ibunya menyusul ke Jakarta. Perang Dunia II dan
masuknya Jepang telah membuat keadaan jadi tidak menentu. Chairil pun
terbelit masalah keuangan setelah tidak mendapat kiriman dari ayahnya.
Akhirnya ia putus sekolah. Saat putus sekolah itu Chairil mengisi hidupnya dengan menggelandang ke sana-ke mari, dan membaca buku sebanyak-banyaknya. Sebagai orang yang menguasai tiga bahasa (Inggris, Belanda, dan Jerman), ia tidak mendapat halangan apa pun untuk bisa membaca dan memahami semua karya sastra asing yang ia jumpai.
Penguasaan bahasa asing yang baik inilah yang banyak menolong Chairil
sehingga banyak buku yang belum dibaca seniman lain, ia sudah tahu isinya. Ia pun banyak menyadur dan menerjemahkan karya-karya sastra dunia itu ke bahasa Indonesia dengan baik.
Masih soal membaca, menurut Sjamsulridwan, ketika masih di MULO,
Chairil telah bergaul dengan anak-anak HBS (setingkat SMA) tanpa rendah diri.
"Semua buku mereka aku baca," kata Chairil suatu hari. Di sini yang dimaksud Chairil adalah buku-buku mengenai pelajaran abstrak, seperti sastra, sejarah, ekonomi, dan lain-lain. Dan ucapan itu semata-mata untuk menunjukkan bahwa ia tidak pernah kurang dari mereka (anak-anak HBS).
Selama di Jakarta, Chairil juga mengembangkan pengetahuannya dengan meminjam buku dari pamannya, Sutan Sjahrir. Menurut H.B. Jassin, kalu sudah membaca buku, maka buku itu akan dibacanya dari malam sampai menjelang pagi.
Meskipun menganut pola kehidupan yang bohemian, Chairil akhirnya
sempat juga berkeluarga. Ia menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6
Agustus 1946. Sayangnya rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Akhir 1948 mereka bercerai, dan putri tunggal mereka, Evawani Alissa, dibesarkan Hapsah.
Tanggal 28 April 1949, setelah sempat diopname selama lima hari di CBZ (sekarang RSCM) karena penyakit TBC yang dideritanya, Chairil
mengembuskan nafas terakhir.
Ia meninggalkan warisan karya yang tidak begitu banyak, yaitu 70
puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4
prosa terjemahan. Kepada Evawani, putrinya yang masih berumur satu tahun, Chairil bahkan hanya mewariskan sebuah radio kecil, berbentuk kotak warna hitam, bermerek Philips. Dan seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisinya: "di karet, di karet sampai juga/deru angin", Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet pada hari berikutnya.
- dari SUARA MERDEKA , Jumat, 14 Mei 1999
Chairil Anwar adalah legenda sastra yang hidup di batin masyarakat
Indonesia. Ia menjadi ilham bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya.
Namun siapa sangka, penyair yang memelopori pembebasan bahasa Indonesia dari tatanan lama ini adalah juga seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi?
Berikut ini tulisan tentang Chairi Anwar, yang sebagian besar bahannya dicuplik dari buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arief
Budiman, ditambah beberapa referensi lain serta sejumlah wawancara.
"Di Jalan Juanda (Jakarta) dulu ada dua toko buku, yang sekarang
jadi kantor Astra. Namanya toko buku Kolf dan van Dorp. Koleksinya luar biasa banyak.
Saya dan Chairil suka mencuri buku di situ," begitu Asrul Sani pernah
bercerita.
"Suatu kali kami melihat buku Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra. `Wah, itu buku mutlak harus dibaca,' kata Chairil pada saya. `Kau perhatikan orang itu, aku mau mengantongi Nietzsche ini.' Chairil memakai celana komprang dengan dua saku lebar, cukup besar untuk menelan buku itu."
Buku-buku filsafat, termasuk buku Nietzsche tadi, diletakkan di antara
buku-buku agama. Kebetulan buku Nietzsche ukuran dan warna sampulnya yang hitam persis betul dengan kitab Injil. "Sementara Chairil
mengantongi buku, saya memperhatikan pelayan toko," kata Asrul. "Hati saya deg-degan setengah mati.
Setelah buku berpindah tempat, kami lantas keluar dari toko dengan
tenang. Tapi sampai di luar tiba-tiba Chairil terkejut, `Kok ini? Wah, salah
ambil aku!' sambil tangannya terus membolak-balik buku. Rupanya Chairil salah mengambil Injil. Kami kecewa sekali."
Chairil Anwar memang seorang "penggila" buku, yang dengan rakus
melahap karya-karya W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nitsche, H. Marsman, Edgar du Peroon, J. Slauerhoff, dan banyak lagi.
Tapi dia adalah penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, tidak
punya pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, penyakitan, dan tingkah
lakunya menjengkelkan. Alhasil, lengkaplah "ciri-ciri" seniman pada
dirinya.
Namun, dia juga contoh yang baik tentang totalitas berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Jika Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai kegiatan sampingan, di samping tugas keseharian mereka sebagai redaktur sebuah surat kabar, politikus, atau lainnya, ia semata-mata hidup untuk puisi dan dari puisi.
Tak Terurus. Nama Chairil mulai dikenal di kalangan seniman pada tahun
1943. H.B. Jassin punya cerita. "Suatu hari di tahun 1943," tuturnya,
"Chairil datang ke redaksi Pandji Pustaka; seorang muda kurus pucat tidak terurus kelihatannya.
Matanya merah, agak liar, tetapi selalu seperti berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti orang tak peduli. Ia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Pandji Pustaka. Tapi didapatnya keterangan bahwa sajak-sajaknya tidak mungkin dimuat. Kata pemimpin majalah itu, `Susunan Dunia Baru' (sajak Chairil) tidak ada harganya. Sajak-sajak individualis lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan prive (privacy) sang pengarang. Kiasan-kiasannya terlalu mem-Barat."
Sejak itu sang penyair sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan
(Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi.
Gaya bersajak dan elan vital dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe).
Bukan secara kebetulan agaknya jika sajak-sajak Chairil memiliki
nuansa individualistis yang kental. Pergumulan total Chairil dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair terjerembab dalam sebuah ritus pencarian filosofis.
Semacam tertuntun pada sebuah kredo bahwa di dalam kesenian, berfilsafat menjadi keniscayaan yang menusuk. Terutama karena berkesenian mengharuskan sang seniman berhadapan dengan problem-problem tentang ketuhanan, kebebasan, dan apa saja.
Salah Kaprah. Buat kita sekarang, sosok Chairil sudah lekat dengan citra
kepenyairan Indonesia. Sejumlah larik puisi dari penyair kita ini telah menjadi semacam pepatah atau kata-kata mutiara yang hidup di kalangan
masyarakat:
"Aku ini binatang jalang", "Hidup hanya menunda kekalahan",
"Aku mau hidup seribu tahun lagi", dan masih banyak lagi. Atau bertanyalah pada siswa SLTP dan SLTA siapa penyair kondang Indonesia, niscaya mereka akan menyebut namanya, lengkap dengan beberapa judul syairnya.
Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, ada yang salah dalam persepsi kita
mengenai tokoh yang satu ini. Ada yang salah kaprah. Sebagai ilustrasi, sajak "Aku" lebih sering dipahami banyak orang sebagai sajak pemberontakan terhadap penjajahan. Padahal tidak. Kata Asrul Sani, sajak itu sebenarnya tidak lebih dari "teriakan putus asa dan rasa getir", termasuk penolakan terhadap sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu ayahnya.
Sajak "Diponegoro" juga sering dikira sajak perjuangan.
Padahal, seperti pernah diulas Arief Budiman, sajak itu adalah cerminan dari ekspresi kekaguman Chairil pada semangat hidup Pangeran Diponegoro, di saat jiwanya amat diresahkan dengan kematian dan absurditas.
Ia menulis puisi pertamanya, "Nisan", pada Oktober 1942, ketika ia berusia 20 tahun, ketika teknik persajakan belum dikuasainya benar. Para
pengamat sastra menganggap sajak ini sebagai sajak tertuanya. Padahal, menurut H.B. Jassin, sebelum "Nisan" Chairil sudah lebih dulu membuat sajak-sajak corak Pujangga Baru, tapi karena tidak memuaskannya lalu dia buang.
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta.
Sajak "Nisan" ini, yang didedikasikan untuk neneknya yang baru meninggal, merupakan renungan Chairil tentang kematian, yang di matanya teramat misterius, namun tak terhindarkan oleh siapa pun.
Renungannya ini lalu menghantarkan ia pada pertanyan eksistensial: "Bila manusia mati, lantas apa gunanya segala usaha yang dilakukan dalam hidup ini?"
Pertanyaan filosofis itu terus mengejarnya, sementara kehidupan sendiri
tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan. Maka bukan hal yang aneh, di saat batin kemanusiaannya begitu merindukan semangat menghadapi hidup yang absurd dengan gagah berani, tiba-tiba Chairil mendapati sosok legendaris Pangeran Diponegoro sebagai perwujudan yang konkret dari kegairahannya mempertahankan hidup.
Inilah agaknya yang lalu mengilhaminya menulis sajak "Diponegoro", pada Februari 1943. Meski sama-sama berbicara tentang kematian, sajak-sajak yang ditulis Chairil menjelang akhir hayatnya lebih sublim dan intens.
Di samping teknik persajakan telah dikuasainya benar sehingga sajak-sajaknya terasa jernih, penghayatannya terhadap kehidupan (dan kematian) yang menjadi subjek puisi-puisinya juga telah mencapai klimaks kematangan sebagai seorang penyair.
Sajak pertama yang ditulis Chairil pada 1949 (tahun kematiannya)
adalah "Chairil Muda, Mirat Muda", dengan tambahan judul kecil
"Di Pegunungan 1943".
Sajak ini merupakan kenangan Chairil terhadap saat-saat yang paling
membahagiakan dalam hidupnya--sebuah perasaan yang wajar timbul pada orang-orang yang menyongsong kematian. Di akhir sajak tersebut ia
sempat menulis kata mati. Namun berbeda dengan sajak-sajaknya yang ditulis pada 1942, di mana kematian dipersoalkan dengan keterlibatan dan perhatian yang penuh, di sajak ini kematian diucapkannya dengan cara yang ringan saja.
Agaknya kematian bukan lagi sesuatu yang menjadi objek obsesinya, melainkan sebagai kenyataan yang sederhana, sama sederhananya dengan udara di muka bumi.
Dalam sajaknya "Yang Terampas dan yang Putus", juga ditulis pada 1949, Chairil malah secara jelas menulis kesiapannya untuk menghadapi
kematian. Ia tiba-tiba menyadari bahwa impuls-impuls kehidupan tidak pernah sepenuhnya diam.
Demikian pula dalam sajak "Derai-Derai Cemara", yang ia tulis sesudahnya. Dalam sajak yang ia tulis setelah percakapan yang panjang dengan dua sahabatnya, Rivai Apin dan Asrul Sani, Chairil kembali menegaskan bahwa kehidupan adalah sebingkai misteri yang tidak bisa kita temui artinya, tapi pada saat yang sama kita memiliki impuls untuk mempertahankannya.
Kita hidup, menurut Chairil, untuk sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya. Dan barangkali satu-satunya alasan untuk terus hidup adalah karena kita sedang mencari maknanya.
Namun misteri tetaplah sebuah misteri, ia tidak pernah akan bisa
terpecahkan. Karenanya mencari makna kehidupan adalah sesuatu yang sia-sia, meski harus terus dilakukan. Maka bagi Chairil, "hidup hanya
menunda kekalahan/ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah".
Penyair Terbesar. Chairil memiliki simpati yang sangat besar terhadap
upaya meraih kemerdekaan manusia, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Pada 1948, sebagai bukti perhatiannya pada situasi sosial-politik waktu itu, ia menulis sajak
"Krawang-Bekasi", yang disadurnya dari sajak "The Young Dead Soldiers", karya Archibald MacLeish.
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Syahrir.
Pada tahun yang sama, ia menulis sajak "Persetujuan dengan Bung Karno", yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus
mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Belakangan, sajak Chairil yang berjudul "Aku" dan "Diponegoro" juga banyak dipahami orang sebagai sajak perjuangan. Padahal, sajak-sajak ini adalah
jenis sajak individu, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
perjuangan kemerdekaan karena ditulis pada 1943. Namun dalam sajak "Aku" misalnya, di mana Chairil mengintroduksi dirinya sebagai "Aku binatang jalang", ia bisa menjelmakan kata hati rakyat Indonesia yang ingin bebas.
Dalam analisis Agus R. Sardjono, penyair terkemuka Bandung, sajak-sajak seperti "Krawang-Bekasi", "Persetujuan dengan Bung
Karno", "Aku", dan "Diponegoro" inilah yang justru di kemudian hari membuat Chairil Anwar menjadi legenda dalam dunia kepenyairan Indonesia.
Hal itu dimungkinkan karena sajak-sajak ini bersifat sastra mimbar, untuk menyebut jenis sajak-sajak yang bersifat sosiologis (yang berpretensi untuk menjawab atau menanggapi fakta-fakta sosial), dan biasanya dibaca dengan suara keras atau menyeru-nyeru, serta
dengan tangan terkepal.
Masih menurut Agus, nama Chairil mungkin tidak akan begitu populer seperti sekarang bila dia hanya menciptakan sajak yang berjenis sastra kamar, sajak-sajak yang kontemplatif dan personal. Betapapun tingginya mutu sajak "Derai-Derai Cemara", "Senja di Pelabuhan Kecil", atau "Yang terampas dan yang Putus" secara kesusastraan, namun sajak-sajak demikian sama sekali tidak memiliki peluang untuk diapresiasi secara massal.
Namun, dengan segala ketidaksempurnaannya, keberhasilan terbesar
Chairil bagi dunia persajakan Indonesia khususnya, dan bahasa Indonesia
pada umumnya, adalah kepeloporannya untuk membebaskan bahasa Indonesia dari aturan-aturan lama (ejaan van Ophusyen) yang waktu itu cukup mengekang, menjadi bahasa yang membuka kemungkinan-kemungkinan sebagai alat pernyataan yang sempurna.
Kebebasan bahasa itu teramat penting. Terbukti Malasyia, negara yang
menggunakan bahasa Melayu, yang serumpun dengan bahasa Indonesia (tapi tidak pernah memiliki penyair sekaliber Chairil) dalam hal bahasa jauh tertinggal dari bangsa kita. Kebebasan bahasa itu adalah prestasi besar bangsa Indonesia.
Dengan itu kita dapat mengutarakan apa saja langsung dari lubuk hati
kita. Dan, seperti diamini banyak sastrawan kita, berkah itu adalah warisan Chairil Anwar, penyair terbesar yang pernah kita miliki.
Mengembara di Negeri Asing
Chairil Anwar tampaknya memang ditakdirkan untuk menjadi penyair yang disalahpahami. Tapi ia terbilang beruntung karena ia disalahpahami ke arah yang positif. Begitupun dalam hal religiusitas. Tidak sedikit orang yang menjulukinya penyair religius. Ini, antara lain, gara-gara sajak "Doa",
yang memang amat religius.
Tak jarang, dalam peringatan hari-hari besar agama Islam (juga Kristen), sajak tersebut dibaca dan memperoleh apresiasi yang luas. Benarkah ia penyair religius? Menurut penuturan Ida Rosihan Anwar (istri wartawan kawakan Rosihan Anwar yang sangat dekat dengan Chairil) dalam
kesehariannya Chairil tidak pernah memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama. Ia tidak pernah tampak salat, berpuasa di bulan Ramadan, atau bahkan ikut bergembira pada Idul Fitri. Jadi, ia bukan muslim yang baik.
Namun, kalau kita mengacu pada kriteria filosof Paul Tillich tentang siapa
yang disebut religius, (yaitu mereka yang secara serius mencoba mengerti hidup ini secara lebih jauh dari batas-batas yang lahiriah saja), Chairil
termasuk kelompok ini.
Konklusi ini semata-mata bersandar pada penyerahan total Chairil untuk
menjawab pertanyaan "apa tujuan hidup saya", dalam sepanjang masa
hidupnya.
Dan karena agama bagi banyak orang di dunia ini dianggap sebagai
jawaban pertanyaan "apa tujuan hidup saya?", Chairil tidak luput
membicarakan agama dalam beberapa sajaknya. Sajak "Di Masjid", yang
ditulisnya pada 29 Mei 1943, adalah sajak pertama mengenai hal ini.
Dalam sajaknya ini ia menegaskan sikapnya yang tidak mau terikat
apa pun juga, serta bersedia menerima segala bentuk penderitaan sebagai akibat pilihannya. Dia menolak untuk menyerah kepada agama, meskipun dia mengakui juga, agama mempunyai daya tarik yang sangat kuat sehingga sulit untuk melawannya: "Kuseru saja Dia/sehingga datang juga/Kamipun bermuka-muka/seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada/Segala daya memadamkannya/Ini ruang/gelanggang kami berperang/Binasa membinasa/satu menista lain gila.
Sajaknya yang kedua tentang agama ditulis lima bulan kemudian, berjudul
"Isa". Dalam sajak ini, selain terpesona, Chairil juga tersindir dengan pengorbanan dan penderitaan yang dialami Nabi Isa untuk menyelamatkan umat manusia.
Ia merasa "minder" lantaran sikap hidupnya yang hanya memikirkan
kemerdekaan diri sendiri, dan tidak peduli pada orang lain. Ia seperti dihadapkan pada pertanyaan, "Apakah sebuah pengorbanan ada artinya?"
Pertanyaan itu terus mengganggu hingga keesokan harinya dia menyerah
dan menulis sajak "Doa" sebagai ekspresi penyerahdiriannya kepada Tuhan. Ia berseru: Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut nama-Mu/Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh/caya-Mu panas suci/tinggal kerdip lilin di malam sunyi/Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk/ Tuhanku/aku mengembara di negeri asing/Tuhanku/di pintu-Mu mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.
Dalam sajak ini Chairil memang tidak menjelaskan apa alasan ia "menyerah", namun yang pasti ia merasa hilang bentuk dan remuk ketika dia berjalan tanpa Tuhan.
Apakah dengan sajak ini Chairil telah "menemukan kembali" Tuhan?
Jawaban sementara: "ya". Agaknya bila Chairil tiba pada suatu titik kehidupan di mana dia mengambil suatu sikap secara lebih utuh, maka perasaan tenang datang meneduhinya.
Pada Februari 1947, dalam suasana yang sudah berbeda, Chairil
kembali menulis sajak tentang agama, yang berjudul "Sorga". Di sini,
dengan semangat eksistensialismenya yang kental, ia menggugat surga beserta gambarannya yang dijanjikan agama. Selanjutnya Chairil lebih memilih menolak agama karena agama memintanya untuk mengorbankan apa yang nyata sekarang, untuk digantikan sesuatu pada masa datang yang baginya belum pasti.
Maka bisa dipastikan, sesudah sikapnya ini Chairil kembali menemukan
dirinya kesepian. Namun, perasaan itu tampaknya sudah dia harapkan
dan dia hadapi dengan tenang. Ia kembali memilih menjadi pengembara selama hidupnya.
Meskipun, konon menurut kesaksian H.B. Jassin, menjelang mengembuskan nafasnya yang terakhir, Chairil ternyata tetap tidak lupa menyebut nama Tuhan.
Di sela-sela panas badannya yang tinggi sebelum kematiannya, ia mengucap, Tuhanku, Tuhanku....
Gadis-Gadis Pun Memujanya
Teman dekat Chairil Anwar semasa kecil, Sjamsulridwan, pernah menulis di majalah Mimbar Indonesia, edisi Maret-April 1966. Katanya, salah satu sikap Chairil yang menonjol sejak kecil adalah sifatnya yang pantang kalah.
"Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap menyala-nyala, dan boleh dikatakan tidak pernah diam."
Chairil dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1922.
Ayahnya, Toeloes, berasal dari Payakumbuh (Sumatera Barat). Dia menjadi Pamongpraja di Medan, dan pada zaman revolusi sempat menjadi bupati Indragiri, Karesidenan Riau. Sedang ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang (Sumatera Barat) dan masih mempunyai pertalian keluarga dengan ayah Sutan Syahrir (tokoh PSI).
Menurut Sjamsulridwan, meski cukup terpandang dan disegani masyarakat sekitarnya, kehidupan kedua orangtua Chairil senantiasa ribut. Mereka sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan sama-sama tidak mau mengalah.
Hanya dalam satu hal mereka sama: dua-duanya sangat memanjakan Chairil. Segala keinginannya: mainan-mainan terbaru dan terbaik. Mereka pun selalu membenarkan sikap Chairil. Kalau ia berkelahi, ayahnya senantiasa membela. Bahkan kalau perlu ikut berkelahi.
Di luar rumah, Chairil tumbuh menjadi pemuda yang lincah dan penuh
percaya diri. Di samping karena kedudukan ayahnya, otak yang tajam
dan cerdas serta sifatnya yang terbuka, tidak mengenal takut atau malu-malu, membuat ia dikenal dan menjadi kesayangan banyak pihak, baik di kalangan guru maupun di antara teman-temannya.
Di kalangan gadis-gadis, Chairil juga disukai karena wajahnya yang tampan dan menyerupai orang indo.
Demikianlah, semua orang seolah memanjakannya. Keuangannya tidak
pernah kurang. Sepedanya termasuk golongan yang paling baik, di zaman
ketika mempunyai sepeda saja merupakan suatu kebanggaan. Dan ada sisi baik yang bisa dicatat dari gaya pergaulan Chairil, yaitu sikapnya tidak pernah sombong.
Meskipun dia angkuh dan selalu merasa hebat, dia selalu mudah sekali berkenalan dengan siapa saja, tanpa pernah membedakan status sosial, status ekonomi, dan intelektualitas.
Masa kanak-kanak hingga masa remaja Chairil dihabiskan di Medan.
Di HIS (setingkat SD) saja ia sudah menampakkan bakatnya sebagai siswa yang cerdas dan berbakat menulis. Lalu ia melanjutkan sekolahnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, setingkat SMP).
Ketika usia Chairil menginjak 19 tahun, dan duduk di kelas dua, ayahnya kawin lagi dan bercerai dengan ibunya. Karena mulai membenci ayahnya dan menginginkan kehidupan yang lain, ia memilih hijrah ke Batavia (Jakarta), dan meneruskan pendidikannya di sana.
Tak lama kemudian ibunya menyusul ke Jakarta. Perang Dunia II dan
masuknya Jepang telah membuat keadaan jadi tidak menentu. Chairil pun
terbelit masalah keuangan setelah tidak mendapat kiriman dari ayahnya.
Akhirnya ia putus sekolah. Saat putus sekolah itu Chairil mengisi hidupnya dengan menggelandang ke sana-ke mari, dan membaca buku sebanyak-banyaknya. Sebagai orang yang menguasai tiga bahasa (Inggris, Belanda, dan Jerman), ia tidak mendapat halangan apa pun untuk bisa membaca dan memahami semua karya sastra asing yang ia jumpai.
Penguasaan bahasa asing yang baik inilah yang banyak menolong Chairil
sehingga banyak buku yang belum dibaca seniman lain, ia sudah tahu isinya. Ia pun banyak menyadur dan menerjemahkan karya-karya sastra dunia itu ke bahasa Indonesia dengan baik.
Masih soal membaca, menurut Sjamsulridwan, ketika masih di MULO,
Chairil telah bergaul dengan anak-anak HBS (setingkat SMA) tanpa rendah diri.
"Semua buku mereka aku baca," kata Chairil suatu hari. Di sini yang dimaksud Chairil adalah buku-buku mengenai pelajaran abstrak, seperti sastra, sejarah, ekonomi, dan lain-lain. Dan ucapan itu semata-mata untuk menunjukkan bahwa ia tidak pernah kurang dari mereka (anak-anak HBS).
Selama di Jakarta, Chairil juga mengembangkan pengetahuannya dengan meminjam buku dari pamannya, Sutan Sjahrir. Menurut H.B. Jassin, kalu sudah membaca buku, maka buku itu akan dibacanya dari malam sampai menjelang pagi.
Meskipun menganut pola kehidupan yang bohemian, Chairil akhirnya
sempat juga berkeluarga. Ia menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6
Agustus 1946. Sayangnya rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Akhir 1948 mereka bercerai, dan putri tunggal mereka, Evawani Alissa, dibesarkan Hapsah.
Tanggal 28 April 1949, setelah sempat diopname selama lima hari di CBZ (sekarang RSCM) karena penyakit TBC yang dideritanya, Chairil
mengembuskan nafas terakhir.
Ia meninggalkan warisan karya yang tidak begitu banyak, yaitu 70
puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4
prosa terjemahan. Kepada Evawani, putrinya yang masih berumur satu tahun, Chairil bahkan hanya mewariskan sebuah radio kecil, berbentuk kotak warna hitam, bermerek Philips. Dan seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisinya: "di karet, di karet sampai juga/deru angin", Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet pada hari berikutnya.
- dari SUARA MERDEKA , Jumat, 14 Mei 1999
Puisi Perjuangan Chairil Anwar
Posted on admin on August 17, 2010 // Leave Your Comment
Maju
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
***
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! (1948)
***
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
***
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi (1948)
***
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948)
***
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
***
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
Maju
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
***
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! (1948)
***
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
***
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi (1948)
***
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948)
***
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
***
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
Senin, 08 November 2010
CARA MENYUSUN SINOPSIS
A. Pendahuluan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP tahun 2006 mulai diberlakukan pada tahun pelajaran 2006-2007, di mana kurikulum tersebut mengharapkan dan mengarahkan kepada setiap guru untuk lebih luwes (fleksibel) dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan menilai Siswa pada tiap pembelajaran. Siswa pun juga lebih dihargai dengan segala keamampuan yang dimiliki untuk dapat dikembangkan lebih optimal sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh sekolah.
Pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya pada keamampuan siswa menulis atau membuat sebuah ringkasan (sinopsis) atau mengarang (bercerita) masihlah dinilai sangat rendah. Kesulitan-kesulitan seringkali dialami oleh siswa yang disebabkan oleh guru, dalam arti guru belum bisa menarik siswa untuk lebih tertarik dalam membuat sebuah karangan atau ringkasan, membuat siswa untuk mudah mengerti dan memahami bagaimana cara menulis, atau paling tidak mengenalkan bagaimanakah langkah-langkah dalam membuat suatu tulisan (karangan) atau lebih khusunya membuat sebuah sinopsis yang benar.
Postingan ini saya buat dengan harapan agar kiranya dapat menambah wawasan tentang pengertian sinopsis, bagaimana langkah-langkah dalam menyusun sinopsis, dan bagaimana cara menilai sinopsis hasil karya siswa/peserta didik.
B. Konsep Teoritis
Sinopsis adalah ikhtisar karangan ilmiah yang biasanya diterbitkan bersama-sama dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis itu, atau ringkasan atau abstraksi (KBBI, 1988: 845). Sinopsis mengandung tiga pengertian yaitu; ikhtisar karangan, ringkasan, atau abstraksi, Keraf (1977: 84) menyatakan bahwa ringkasan sumarry précis adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk pendek. Kata précis berarti memotong atau meringkas. Dengan demikian meringkas ibarat memangkas sebatang pohon yang akhirnya tinggal batang dan cabang-cabang yang terpenting.
Menurut Keraf, keindahan gaya bahasa, ilustrasi serta penjelasan-penjelasan yang terperinci harus dihilangkan, sari karangannya dibiarkan saja tanpa hiasan dan yang tinggal hanyalah pokok-pokoknya saja. Namun demikian meskipun bentuknya ringkas, pikiran pengarang dan pendekatannya yang asli masih tetap dipertahankan dan harus ada.
Penulisan ringkasan harus berbicara sesuai dengan tulisan pengarang. Oleh karena itu dalam ringkasan, kalimat “Dalam alinea ini penulis mengatakan … “ atau “Penulis berpendapat … “ harus dihindari. Pernyataan demikian adalah suara penulis yang membuat ringkasan. Penulis yang membuat ringkasan seyogyanya langsung menyusun ringkasan tersebut, yang dimulai dengan meringkaskan kalimat-kalimat, alinea-alinea, bab-bab atau bagian-bagian yang lain dan seterusnya. Tidak berbeda jauh pula dengan pengertian ikhtisar yang berarti pula sebagai ringkasan. Hanya penggunaanya pada umumnya diarahkan pada buku-buku karya ilmiah.
Berbeda dengan abstraksi yang biasanya kita temukan dalam penyusunan skripsi dan tesis. Abstraksi dalam pengertian ini pun berarti ringkasan, perbedaannya sangat tipis yaitu hanya pada sisi tujuan penggunaannya. Ringkasan biasa dilakukakan terhadap objek karya sastra, maupun nonsastra, atau dalam karya ilmiah maupun nonilmiah. Sinopsis seringkali dipergunakan dalam karya yang bersifat sastra. Kalau pun ada sinopsis yang dikenakan pada karya nonsastra bahkan pada karya ilmiah, itu merupakan model dan bentuk pengembangan. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sinopsis adalah ringkasan yang mengarah pada karya-karya baik fiksi maupun non fiksi, sedangkan sasaran ringkasannya adalah karya-karya ilmiah lebih kita gunakan istilah abstraksi atau ringkasan itu sendiri.
Sinopsis bukanlah resensi, sebab resensi tidak hanya meringkas tetapi juga menyimpulkan baik buruknya bulku sesudah dibaca, bahkan dalam resensi penulis dituntut untuk memberi ulasan sesudah melakukan telaah. Umumnya penulis resensi menyeleksi buku-buku secara khusus, yaitu hanya buku-buku yang baru terbit saja dan menarik untuk dikaji atau diresensi.
Postingan ini tidak akan membahas bentuk-bentuk atau perbedaan ikhtisar, resensi, dan sinopsis, maupun abstraksi, tetapi membahas bagaimana menulis sebuah sinopsis. Oleh karena itu, marilah kita samakan persepsi kita dalam memahami pengertian sinopsis. Persepsi kita sinopsis adalah ringkasan yang berbicara susasana pengarang asli (pengarang buku yang diringkas) dengan tetap mempertahankan bentuknya sebagai sebuah karangan.
C. Persiapan Menyusun Sinopsis
Sebelum kita mulai menyusun sinopsis, terlebih dahulu barlatihlah membuat ringkasan yang diambil dari sebuah karya atau artikel. Hal ini sangat berguna untuk mengembangkan ekspresi dan latihan menghemat kata. Latihan ini tidak cukup dilakukan secara intensif akan mengembangkan daya konsentrasi, serta mempertajam dalam menangkap pemahaman isi bacaan secara tepat, cermat, dan efektif.
Latihan menyusun sinopsis harus diawali dari membaca, maka berlatihlah secara terus menerus akan mengembangkan kemampuan membaca cepat, tepat dan cermat. Membaca dengan cara demikian amat diperlukan untuk membantu mempertajam gaya bahasa, serta menghindari uraian-uraian yang panjag lebar. Dengan demikian penulis sinopsis harus terlebih dahulu membekali diri dengan kemampuan membaca sebelum melakukan pekerjaan menyusun sipnosis. Dalam kegiatan membaca, objek atau materi yang akan di susun menjadi sipnosis tak cukup dibaca sekali. Materi tersebut perlu dibaca berulang kali, karena seluruh isi materi harus benar-benar dipahami dan dihayati.
D. Langkah-langkah Menyusun Sinopsis
1. Bacalah naskah asli berulang kali sampai benar-benar diketahui maksud dan pandangan pengarang.
2. Pada saat membaca perlu digaris bawahi atau dicatat ide sentralnya (pokok pikiran, kalimat pokok/kalimat inti).
3. Kesampingkan dulu teks asli sesudah dicatat ide sentral atau hal-hal pokok yang telah diketahui, kemudian kembangkan catatan-catatan tersebut dengan bahasa sendiri.
4. Pergunakanlah kalimat-kalimat tunggal, bila memungkinkan hindari pemakaian kalimat majemuk atau mengulang kalimat, gnakan kalimat sederhana yang efektif.
5. Ringkaslah kalimat menjadi frase, dan frase menjadi kata.
6. Bila terdapat rangkaian ide atau gagasan dari beberapa alinea, maka ambilah ide sentralnya saja atau pokok pikiran dan kalimat pokok/intinya.
7. Buanglah bebrapa alinea yang dapat diwakili dengan satu alinea saja, atau sebaliknya, dan pertahankan alinea yang memang harus dipertahankan.
8. Pertahankanlah kalimat yang tidak memungkinkan untuk disederhanakan, sehingga keaslian suara pengarang tetap dapat dipertahankan pula, yaitu kata kunci yang ada pada kalimat tersebut.
9. Buanglah seluruh kata tugas yang memungkinkan untuk dibuag, tetapi pertahankanlah susunan ide yang tersusun sesuai naskah aslinya.
Menyusun sinopsis sama dengan menyusun ringkasan karangan, menyusun ringkasan karangan ibarat memangakas sebuah pohon besar menjadi pohon kecil yang padat dan berisi. Maka hasil sinopsis adalah sebuah karangan pendek sesuai dengan karangan aslinya. Sebagai pedoman sederhana saja, sinopsis adalah sebuah karangan utuh diringkas menjadi sepertiganya atau seperempatnya saja cukuplah baik apabila suara tetap dapat dipertahankan keaslinya.
E. Deskripsi Penilaian Sinopsis
1. Buatlah sinopsis dari buku bacaan yang disediakan oleh guru (fiksi atau nonfiksi) (Sinopsis adalah ringkasan cerita atau karangan dari sebuah buku).
2. Bacalah buku bacaan yang disediakan oleh guru, selama kurang lebih 2 jam atau paling tidak diulang membaca samapai 3 kali.
3. Buatlah ringkasan bacaan tersebut dengan cara tertulis selama 45 menit, baik itu pada waktu latihan maupun penilaian atau mengikuti lomba.
4. Penilaian
a. Aspek yang dinilai:
1. Kesesuaian sinopsis dengan isi buku,
2. Penggunaan bahasa Indonesia, dan
3. Penyajian alur cerita atau sistematika penulisan cerita.
b. Rentang nilai
No Aspek Penilaian Nilai
1
Kesesuaian sinopsis dengan isi cerita dalam buku 30 – 50
2
Penggunaan bahasa Indonesia dengan EYD baik dan benar 15 – 25
3
Penyajian alur cerita/sistematika penulisan cerita 15 – 25
Jumlah 60 – 100
5. Ceritakan kembali bacaaan tersebut ( hasil sinopsis yang telah dibuat oleh anak), dengan teknik pidato selama 10 menit pada waktu penilaian/mengikuti lomba, tetapi saat berlatih diusahakan kurang dari 10 menit.
6. Penilaian
a. Aspek yang dinilai
1. teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku.
2. penggunaan bahasa Indonesia yang santun.
3. Penghayatan terhadap isi cerita.
4. Penampilan (percaya diri)
b. Rentang nilai
No Aspek Penilaian Nilai
1 Teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku 15 – 25
2 Penggunaan bahas Indonesia yang santun 15 – 25
3 Penghayatan terhadap isi cerita 20 – 30
4 Penampilan (percaya diri) 10 – 20
Jumlah 60 – 100
7. Nilai akhir adalah nilai rata-rata dari jumlah nilai tertulis dan nilai bercerita atau sendiri-sendiri (tertulis sendiri dan bercerita sendiri).
8. Lembar penilaian membuat sinopsis tertulis dan bercerita, dapat digabungkan dengan format sebagai berikut.
LEMBAR PENILAIAN
Membuat Sinopsis Tertulis dan Bercerita
Nama Siswa
Aspek Penilaian
Jumlah Nilai
Rata2 Nilai
1 2 3 4 5 6 7
Keterangan
1). Tertulis.
1. Kesesuaian synopsis dengan isi certa dalam buku.
2. Penggunaan bahasa Indonesia dengan EYD baik dan benar.
3. Penyajian alur cerita/sistematika cerita
2). Bercerita
1. Teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku.
2. Penggunaan bahsa Indonesia yang santun.
3. Penghayatan terhadap isi cerita.
4. Penampilan (percaya diri)
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP tahun 2006 mulai diberlakukan pada tahun pelajaran 2006-2007, di mana kurikulum tersebut mengharapkan dan mengarahkan kepada setiap guru untuk lebih luwes (fleksibel) dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan menilai Siswa pada tiap pembelajaran. Siswa pun juga lebih dihargai dengan segala keamampuan yang dimiliki untuk dapat dikembangkan lebih optimal sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh sekolah.
Pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya pada keamampuan siswa menulis atau membuat sebuah ringkasan (sinopsis) atau mengarang (bercerita) masihlah dinilai sangat rendah. Kesulitan-kesulitan seringkali dialami oleh siswa yang disebabkan oleh guru, dalam arti guru belum bisa menarik siswa untuk lebih tertarik dalam membuat sebuah karangan atau ringkasan, membuat siswa untuk mudah mengerti dan memahami bagaimana cara menulis, atau paling tidak mengenalkan bagaimanakah langkah-langkah dalam membuat suatu tulisan (karangan) atau lebih khusunya membuat sebuah sinopsis yang benar.
Postingan ini saya buat dengan harapan agar kiranya dapat menambah wawasan tentang pengertian sinopsis, bagaimana langkah-langkah dalam menyusun sinopsis, dan bagaimana cara menilai sinopsis hasil karya siswa/peserta didik.
B. Konsep Teoritis
Sinopsis adalah ikhtisar karangan ilmiah yang biasanya diterbitkan bersama-sama dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis itu, atau ringkasan atau abstraksi (KBBI, 1988: 845). Sinopsis mengandung tiga pengertian yaitu; ikhtisar karangan, ringkasan, atau abstraksi, Keraf (1977: 84) menyatakan bahwa ringkasan sumarry précis adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk pendek. Kata précis berarti memotong atau meringkas. Dengan demikian meringkas ibarat memangkas sebatang pohon yang akhirnya tinggal batang dan cabang-cabang yang terpenting.
Menurut Keraf, keindahan gaya bahasa, ilustrasi serta penjelasan-penjelasan yang terperinci harus dihilangkan, sari karangannya dibiarkan saja tanpa hiasan dan yang tinggal hanyalah pokok-pokoknya saja. Namun demikian meskipun bentuknya ringkas, pikiran pengarang dan pendekatannya yang asli masih tetap dipertahankan dan harus ada.
Penulisan ringkasan harus berbicara sesuai dengan tulisan pengarang. Oleh karena itu dalam ringkasan, kalimat “Dalam alinea ini penulis mengatakan … “ atau “Penulis berpendapat … “ harus dihindari. Pernyataan demikian adalah suara penulis yang membuat ringkasan. Penulis yang membuat ringkasan seyogyanya langsung menyusun ringkasan tersebut, yang dimulai dengan meringkaskan kalimat-kalimat, alinea-alinea, bab-bab atau bagian-bagian yang lain dan seterusnya. Tidak berbeda jauh pula dengan pengertian ikhtisar yang berarti pula sebagai ringkasan. Hanya penggunaanya pada umumnya diarahkan pada buku-buku karya ilmiah.
Berbeda dengan abstraksi yang biasanya kita temukan dalam penyusunan skripsi dan tesis. Abstraksi dalam pengertian ini pun berarti ringkasan, perbedaannya sangat tipis yaitu hanya pada sisi tujuan penggunaannya. Ringkasan biasa dilakukakan terhadap objek karya sastra, maupun nonsastra, atau dalam karya ilmiah maupun nonilmiah. Sinopsis seringkali dipergunakan dalam karya yang bersifat sastra. Kalau pun ada sinopsis yang dikenakan pada karya nonsastra bahkan pada karya ilmiah, itu merupakan model dan bentuk pengembangan. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sinopsis adalah ringkasan yang mengarah pada karya-karya baik fiksi maupun non fiksi, sedangkan sasaran ringkasannya adalah karya-karya ilmiah lebih kita gunakan istilah abstraksi atau ringkasan itu sendiri.
Sinopsis bukanlah resensi, sebab resensi tidak hanya meringkas tetapi juga menyimpulkan baik buruknya bulku sesudah dibaca, bahkan dalam resensi penulis dituntut untuk memberi ulasan sesudah melakukan telaah. Umumnya penulis resensi menyeleksi buku-buku secara khusus, yaitu hanya buku-buku yang baru terbit saja dan menarik untuk dikaji atau diresensi.
Postingan ini tidak akan membahas bentuk-bentuk atau perbedaan ikhtisar, resensi, dan sinopsis, maupun abstraksi, tetapi membahas bagaimana menulis sebuah sinopsis. Oleh karena itu, marilah kita samakan persepsi kita dalam memahami pengertian sinopsis. Persepsi kita sinopsis adalah ringkasan yang berbicara susasana pengarang asli (pengarang buku yang diringkas) dengan tetap mempertahankan bentuknya sebagai sebuah karangan.
C. Persiapan Menyusun Sinopsis
Sebelum kita mulai menyusun sinopsis, terlebih dahulu barlatihlah membuat ringkasan yang diambil dari sebuah karya atau artikel. Hal ini sangat berguna untuk mengembangkan ekspresi dan latihan menghemat kata. Latihan ini tidak cukup dilakukan secara intensif akan mengembangkan daya konsentrasi, serta mempertajam dalam menangkap pemahaman isi bacaan secara tepat, cermat, dan efektif.
Latihan menyusun sinopsis harus diawali dari membaca, maka berlatihlah secara terus menerus akan mengembangkan kemampuan membaca cepat, tepat dan cermat. Membaca dengan cara demikian amat diperlukan untuk membantu mempertajam gaya bahasa, serta menghindari uraian-uraian yang panjag lebar. Dengan demikian penulis sinopsis harus terlebih dahulu membekali diri dengan kemampuan membaca sebelum melakukan pekerjaan menyusun sipnosis. Dalam kegiatan membaca, objek atau materi yang akan di susun menjadi sipnosis tak cukup dibaca sekali. Materi tersebut perlu dibaca berulang kali, karena seluruh isi materi harus benar-benar dipahami dan dihayati.
D. Langkah-langkah Menyusun Sinopsis
1. Bacalah naskah asli berulang kali sampai benar-benar diketahui maksud dan pandangan pengarang.
2. Pada saat membaca perlu digaris bawahi atau dicatat ide sentralnya (pokok pikiran, kalimat pokok/kalimat inti).
3. Kesampingkan dulu teks asli sesudah dicatat ide sentral atau hal-hal pokok yang telah diketahui, kemudian kembangkan catatan-catatan tersebut dengan bahasa sendiri.
4. Pergunakanlah kalimat-kalimat tunggal, bila memungkinkan hindari pemakaian kalimat majemuk atau mengulang kalimat, gnakan kalimat sederhana yang efektif.
5. Ringkaslah kalimat menjadi frase, dan frase menjadi kata.
6. Bila terdapat rangkaian ide atau gagasan dari beberapa alinea, maka ambilah ide sentralnya saja atau pokok pikiran dan kalimat pokok/intinya.
7. Buanglah bebrapa alinea yang dapat diwakili dengan satu alinea saja, atau sebaliknya, dan pertahankan alinea yang memang harus dipertahankan.
8. Pertahankanlah kalimat yang tidak memungkinkan untuk disederhanakan, sehingga keaslian suara pengarang tetap dapat dipertahankan pula, yaitu kata kunci yang ada pada kalimat tersebut.
9. Buanglah seluruh kata tugas yang memungkinkan untuk dibuag, tetapi pertahankanlah susunan ide yang tersusun sesuai naskah aslinya.
Menyusun sinopsis sama dengan menyusun ringkasan karangan, menyusun ringkasan karangan ibarat memangakas sebuah pohon besar menjadi pohon kecil yang padat dan berisi. Maka hasil sinopsis adalah sebuah karangan pendek sesuai dengan karangan aslinya. Sebagai pedoman sederhana saja, sinopsis adalah sebuah karangan utuh diringkas menjadi sepertiganya atau seperempatnya saja cukuplah baik apabila suara tetap dapat dipertahankan keaslinya.
E. Deskripsi Penilaian Sinopsis
1. Buatlah sinopsis dari buku bacaan yang disediakan oleh guru (fiksi atau nonfiksi) (Sinopsis adalah ringkasan cerita atau karangan dari sebuah buku).
2. Bacalah buku bacaan yang disediakan oleh guru, selama kurang lebih 2 jam atau paling tidak diulang membaca samapai 3 kali.
3. Buatlah ringkasan bacaan tersebut dengan cara tertulis selama 45 menit, baik itu pada waktu latihan maupun penilaian atau mengikuti lomba.
4. Penilaian
a. Aspek yang dinilai:
1. Kesesuaian sinopsis dengan isi buku,
2. Penggunaan bahasa Indonesia, dan
3. Penyajian alur cerita atau sistematika penulisan cerita.
b. Rentang nilai
No Aspek Penilaian Nilai
1
Kesesuaian sinopsis dengan isi cerita dalam buku 30 – 50
2
Penggunaan bahasa Indonesia dengan EYD baik dan benar 15 – 25
3
Penyajian alur cerita/sistematika penulisan cerita 15 – 25
Jumlah 60 – 100
5. Ceritakan kembali bacaaan tersebut ( hasil sinopsis yang telah dibuat oleh anak), dengan teknik pidato selama 10 menit pada waktu penilaian/mengikuti lomba, tetapi saat berlatih diusahakan kurang dari 10 menit.
6. Penilaian
a. Aspek yang dinilai
1. teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku.
2. penggunaan bahasa Indonesia yang santun.
3. Penghayatan terhadap isi cerita.
4. Penampilan (percaya diri)
b. Rentang nilai
No Aspek Penilaian Nilai
1 Teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku 15 – 25
2 Penggunaan bahas Indonesia yang santun 15 – 25
3 Penghayatan terhadap isi cerita 20 – 30
4 Penampilan (percaya diri) 10 – 20
Jumlah 60 – 100
7. Nilai akhir adalah nilai rata-rata dari jumlah nilai tertulis dan nilai bercerita atau sendiri-sendiri (tertulis sendiri dan bercerita sendiri).
8. Lembar penilaian membuat sinopsis tertulis dan bercerita, dapat digabungkan dengan format sebagai berikut.
LEMBAR PENILAIAN
Membuat Sinopsis Tertulis dan Bercerita
Nama Siswa
Aspek Penilaian
Jumlah Nilai
Rata2 Nilai
1 2 3 4 5 6 7
Keterangan
1). Tertulis.
1. Kesesuaian synopsis dengan isi certa dalam buku.
2. Penggunaan bahasa Indonesia dengan EYD baik dan benar.
3. Penyajian alur cerita/sistematika cerita
2). Bercerita
1. Teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku.
2. Penggunaan bahsa Indonesia yang santun.
3. Penghayatan terhadap isi cerita.
4. Penampilan (percaya diri)
CAR MEMBANGUN KEAKRABAN
CARA MEMBANGUN KEAKRABAN DENGAN ANAK KITA
Perubahan pada anak tidak selalu diikuti oleh perubahan kita sebagai orang tua, bahkan secara tidak sadar kita sebagai orang tua secara tidak sadar berusaha untuk mempertahankan otoritasnya ketergantungan anak kita selama mungkin.
Semakin renggang bukanlah kejadian luar biasa. Namun bukan berarti kita sebagai orang tua menyikapinya dengan membiarkan hubungan kita dengan anak kita semakin renggang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dengan membangun kembali keakraban dengan putra-putri kita, di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Bermain dan bercanda dengan anak
Kebutuhan untuk bermain dan bercanda tidak monopoli anak yang masih sangat kecil. Bahkan anak yang mulai menginjak remaja masih sangat perlu untuk kita ajak bermain dan bercanda.
2. Memberi kecupan, perhatian, dan kasih sayang
Anak yang selalu kita beri kecupan setiap mereka berpisah dengan kita lebih besar kemungkinan untuk terbebas dari pengaruh negative, kecupan di kening melahirkan ikatan yang kuat, mewujudkan perhatian, dan menumbuhkan kasih sayang.
3. Berdialog dan berbagi dengan anak
Dialog yang baik dan sharing (berbagi rasa) yang efektif akan meningkatkan secara signifikan kepercayaan diri anak. Seorang anak yang selalu diajak dialog dan sharing orang tua akan merasakan keberadaan dirinya sangatlah bermakna bagi jiwa sosialnya.
4. Menggunakan respond an menghindari reaksi
Reaksi adalah tindakan yang didasari dari pemikiran pertama saat melihat perilaku posifit/negative anak. Respon adalah tindakan yang didasari dengan pemikiran mendalam dengan melihat sebab dan akibat terhadap perilaku di atas.
5. Memberikan hadiah, penghargaan dan pujian kepada anak
Dengan saling memberi hadiah, maka kita akan saling menyanyangi
6. Lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Saat anak bereksplorasi dengan lingkungan baru dengan nilai-nilai yang seringkali berbeda, sebenarnya mereka mempunyai pertanyaan-pertanyaan dalam benak. Jika kita sebagai orang tua mampu merangsang mereka untuk menyampaikan kepada kita tanpa rasa takut, kita akan mempunyai kesempatan untuk membangun pola piker yang baik. Pastikan kita sebagai orang tua lebih banyak mendengar dan membiarkan anak berkata tanpa rasa takut dan malu.
Demikian tips ini sata tulis sebagai dapat menjembatani atau memperbaiki hubungan anda sebagai orang tua dengan anak anda yang disebabkan oleh pekerjaan atau aktifitas yang lain.
Hubungan Percaya diri dengan Kemampuan Berbicara Siswa
Thursday, August 19, 2010 7:06 PM
Hubungan Percaya diri dengan Kemampuan Berbicara Siswa
Kepercayaan Diri
Manusia secara kualitatif sangat berbeda dengan hewan atau binatang karena manusia mempunyai kemampuan untuk menggunakan dan menginterprestasi lambang-lambang. Bahasa merupakan satu set lambang dimana manusia mampu mengartikan makna yang sama. Bahasa tidak hanya memungkinkan mengkomunikasikan antar individu tetapi juga memperkenankan orang untuk berbicara pada dirinya sendiri (thought). Berbicara merupakan bahasa pokok (oral) merupakan suatu keahlian yang komplek yang melibatkan aspek-aspek atau komponen kebahasaan, fisik, sosial dan psikologi.
Komponen kebahasaan mencakup lafal, struktur, kosa kata, kefasihan dan pemahaman. Aspek fisik berhubungan dengan lingkungan fisik, aspek sosial sangat erat dengan interaksi sosial dimana bahasa digunakan sebagia alat komunikasi. Aspek psikologi melibatkan aspek kognitif dan aspek afektif dan juga aspek motivasi. Tiga komponen seperti konsep diri, harga diri, dan aktualisasi diri merupakan fundamental komponen dimana konsep diri yang positif dan sehat merupakan dasar dari perkembangan percaya diri.
Ciri-ciri orang yang percaya diri adalah mereka percaya diri dalam berbicara, mampu bekomunikasi dengan efektif, jelas dalam bahasa yang sederhana. Dengan demikian jelas bahwa kemampuan berbicara ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal yang salah satunya adalah faktor psikologi yaitu percaya diri.
Berbicara
Berbicara merupakan instrumen yang mendasar dalam berkomunikasi sehingga pesan atau informasi yang hendak disampaikan kepada orang lain bisa dipahami dan dimengerti dengan jelas yang memerlukan keterampilan yang komplek, komponen maupun kaidah-kaidah berbicara serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang mempengaruhi kemampuan berbicara tersebut berasal dari luar (eksternal) dan dari dalam (internal). Salah satu faktor yang sangat penting yang mempengaruhi kemampuan berbicara adalah faktor dari dalam yaitu percaya diri. Faktor ini akan mempengaruhi seseorang dalam berbicara sehingga suatu pembicaraan bisa berlangsung secara effektif. Tingkat percaya diri yang tinggi mengindikasikan orang mampu berbicara dengan tenang, mampu berkomunikasi dengan jelas dengan bahasa yang sederhana (David G Meyer : 358). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat percaya diri yang tinggi sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbicara.
Berbicara merupakan instrumen yang fundamental dalam komunikasi, pembicara mengatakan sesuatu agar mendapatkan effek terhadap pendengar, pembicara menyatakan sesuatu untuk mengubah pengetahuan pendengar, pembicara bertanya untuk mendapatkan jawaban ataupun informasi, meminta izin ataupun mengatakan sesuatu untuk mendapatkan respon dari orang lain, maka secara alamiah berbicara memainkan peran penting di dalam proses komunikasi.
Sejalan dengan pernyataan tersebut di atas Ramelan (1977: 8) menyatakan bahwa setiap orang menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, sebagai alat untuk mengungkapkan gagasan atau pun kehendak, menggunakan bahasa untuk menyampaikann pesan yang wujudnya suara dimana suara dihasilkan oleh alat ucap (speech organ).
Berbicara merupakan ketrampilan yang komplek yang membutuhkan kebersamaan dari sejumlah perbedaan kemampuan dimana sering berkembang sejalan dengan perbedaan kecepatan yang melibatkan beberapa komponen berbicara ( Harris, 1969 : 81). Ada lima komponen berbicara yaitu;
a) lafal yang menyangkut vokal, konsonan, tekanan dan pola-pola intonasi);
b) struktur;
c) kosa kata;
d) kefasihan dan
e) pemahaman.
Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa: berbicara merupakan pernyataan atau ucapan-ucapan keseharian, suara saja bukan merupakan berbicara, berbicara merupakan alat fundamental dalam komunikasi, berbicara merupakan aksi sehari-hari dalam menyampaikan pesan, informasi, kehendak yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang bentuknya bahasa tutur. Bila mengacu pada pada kemampuan siswa dalam berbicara, perhatian kita terpusat pada kemampuan komunikasi secara informal dalam kegiatan belajar secara memadai di dalam penyampaian pesan secara fasih, jelas dan dapat dimengerti sehingga tujuan komunikasi kebermaknaan tercapai.
Wolfson (1983 : 31) menyatakan bahwa untuk dapat berkomunikasi secara efektif seseorang tidak hanya mampu mengeteahui struktur bahasa dan kosa kata namun juga harus menguasai kaidah-kaidah berbicara yang mencakup salam, topik, waktu, pujian, permintaan maaf mungkin ada hal-hal yang kurang tepat, aktualitas dan penggunaan kalimat-kalimat yang memadai, dengan kata lain untuk bisa berbicara atau berkomunikasi secara efektif diperlukan beberapa persyaratan dan komponen.
Effendi (1986: 7) mendefinisikan bahwa berbicara merupakan tindakan oleh seseorang atau lebih untuk menyampaikan pesan yang berupa suara di dalam konteks dengan efek timbal balik pada suatu kesempatan atau waktu, kemudian tindakan komunikasi itu mencakup beberapa komponen diantaranya: isi, sumber, penerima, pesan, sambungan (channel) ada suara, proses penyampaian sandi (encoding), proses penerimaan sandi (decoding), efek dan timbal balik (response). Komponen-komponen tersebut merupakan sesuatu yang esesensial didalam berkomunikasi atau berbicara atau yang sering kita kenal merupakan komunikasi yang universal dalam penggunaan bahasa tutur atau berbicara.
faktor yang mempengaruhi berbicara
Pearson dan Johnson (1972 : 54) membedakan apa yang mereka sebut sebagai faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam mencakup hal-hal dimana pembicara menyampaikan pesan yang dapat dimengerti atau dipahami oleh orang lain. Sedangkan faktor luar adalah faktor yang berasal dari luar pembicara yaitu lawan bicara atau pendengar, tempat, respon atau tanggapan, waktu, situasi dan kondisi pada saat pembicaraan berlangsung. Penyampaian pesan yang harus dipahami merupakan jembatan antara suatu informasi yang diketahui maupun informasi yang belum diketahui atau dipahami di dalam kerangka pengetahuan yang bertujuan untuk memastikan bahwa informasi tersebut benar-benar dapat diterima dan dipahami oleh lawan bicara. Beberapa faktor yang mempengaruhi tersebut antara lain:
1. Input dan aktifitas
Hal pokok yang harus dipertimbangkan adalah kompleksitas teks. Hal tersebut akan berpengaruh pada faktor struktur tata bahasa. Faktor aktifitas akan berhubungan dengan aktifitas berbicara yang mencakup bahan atau topik pembicaraan sehingga masukan atau input akan sangat penting peranannya dalam memperlancar aktifitas berbicara.
2. Pembicara
Latar belakang pembicara mencakup percaya diri (self assure), motivasi, kemampuan penyampaian pesan, pengetahuan budaya dan pengetahuan kebahasaan. David Nunan (1989: 65 ) mengajukan beberapa hal yang dianggap sangat berhubungan dengan faktor tersebut antara lain: sejauh mana tingkat kepercayaan diri pembicara menyampaikan pesan kepada orang lain. Bagaimana motivasi mereka dalam berbicara? Bagaimana pembicara menyerap secara familiar terhadap topik pembicaraan? Apakah pengalaman pembicara memberikan manfaat atau strategi keahlian dalam penyampaian pesan? Kemampuan bahasa; apakah pembicara mampu mengukur kemampuan berbicaranya? Apakah penyesuaian diri pembicara terhadap lawan bicara sudah memadai?
3. Tujuan pengajaran berbicara.
Tujuan pengajaran berbicara bagi para siswa adalah untuk melatih kemampuan berbicara mereka yang meliputi praktik percakapan yang sederhana, bercerita atau mendeskripsikan seseorang, kejadian sehari-hari, dialog atau tanya jawab sesuatu masalah, menceritakan kembali peristiwa-peristiwa sosial, isu politik, budaya pada lingkup nasional maupun internasional. Menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan tentang suatu hal, berdiskusi atau debat. Dengan cara tersebut pengajaran berbicara secara terpadu terpusat pada siswa-siswa. Para siswa dituntut untuk selalu aktif untuk berlatih berbicara. Mereka dilatih untuk berani mengungkapkan pendapat atau perasaan suka atau tidak suka kepada teman-temannya. Sehingga atmosfir di dalam kelas dimenej sebaik mungkin sehingga situasi kelas benar-benar kondusif untuk belajar dan berlatih berbicara atau mengkomunikasikan berbagai hal.
Tujuan penciptaan situasi yang kondusif ini adalah agar siswa merasa nyaman. Mereka berinteraksi dan bekerjasama saling bertukar pikiran, mengungkapkan gagasan atau ide, pengalaman, perasaan atau membahas topik tertentu. Siswa dibuat kelompok-kelompok agar mereka mempunyai kesempatan untuk saling mengungkapkan sesuatu. Kelompok tersebut diberikan suatu topik pembicaraan yang sebelumnya diberikan pemanasan sehingga pembicaraan berjalan dengan lancar. Meskipun telah diciptakan situasi sedemikian rupa kadang kadang siswa masih merasakan adanya hambatan dalam menyampaikan gagasan atau ide, mereka sering merasa ragu-ragu, malu atau takut. Untuk mengeliminir perasaan tersebut guru berperan sangat penting yaitu dengan cara membantu siswa-siswa menyemangati atau memberikan motivasi dengan mengatakan apa pun gagasan atau ide yang akan disampaikan tidak ada hubungannya dengan benar atau salah sehingga setiap siswa bisa menolak atau tidak menjawab tanpa harus memberikan alasan atau keterangan. Hal ini masih menandakan adanya tingkat kategori siswa merasa malu. Untuk guru harus mampu memilih aktivitas yang bisa dirasakan para siswa merasa nyaman
4. Peran guru
Penciptaan situasi dan aktivitas seperti tersebut di atas akan berlangsung baik dengan sendirinya di bawah kendali guru. Kemudian guru memutuskan apakah akan terlibat dalam aktivitas berbicara tersebut secara sejajar sebagai anggota atau hanya akan berada di belakang sebagai pengamat atau membantu kelancaran kegiatan berbicara siswa. Untuk cara pertama jarak psikologis antara siswa dengan guru dapat dikurangi, sedangkan untuk cara yang kedua guru tidak akan bertindak independen dalam memberikan nasihat atau membantu kelompok yang lain.
Bagaimanapun metode yang dipilih, guru harus berhati-hati dalam memberikan koreksi kesalahan berbicara para siswanya, hal ini akan memberikan gambaran mereka pada keraguan dan merasa tidak aman dalam penyampaian pesan ketika mereka benar-benar praktik berkomunikasi. Nampaknya akan lebih baik apabila guru berperan sebagai pengamat dan hanya memberikan bantuan demi kelancaran aktivitas berbicara siswa ketika terjadi kebuntuan pembicaraan dengan cara memberikan semangat sehingga mereka mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dengan menemukan alternatif lain dalam mengekpresikan hal yang akan dikatakan.
5. Masalah utama dalam pengukuran ketrampilan berbicara
Pada bahasan awal telah dijelaskan bahwa berbicara merupakan suatu ketrampilan yang kompleks yang memerlukan sejumlah perbedaan penafsiran secara kompak. Berbicara dianggap merupakan masalah yang krusial sehingga sering dihadapkan dengan masalah yang serius dalam pengukuran ketrampilan berbicara sebagaimana dinyatakan oleh Harris (1969 : 87) disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut; (1) minimnya kriteria yang reliabel dalam pengukuran ketrampilan berbicara, (2) tidak adanya kesepakatan umum tentang keakuratan pelafalan, (3) tipe pengukuran tes ketrampilan berbicara yang subyektif, (4) adanya ketidakkonsistenan dalam pemberian skor.
6. Bagaimana mengukur ketrampilan berbicara siswa
Ketrampilan berbicara siswa diukur melalui tes. Ada tiga cara dalam pengukuran tersebut yaitu dengan role play (bermain peran) tes, retelling (pengulangan cerita) dan interview (wawancara). Materi tes diambil dari buku English in Three Act oleh Richard Via (1976 :73 ) yang diadaptasi.
1. Role Play : siswa dites untuk bermain drama masing-masing disesuaikan dengan karakter dan peran.
2. Retelling : siswa diminta untuk menceritakan ulang atau untuk memberikan illustrasi yang jelas tentang cerita drama
3. Interview : Siswa diwawancarai tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan drama
Beberapa aspek yang dinilai adalah
1. Pelafalan
2. Struktur bahasa
3. Kosa kata
4. Kefasihan
5. Pemahaman
1. Percaya Diri
a. Diri
Sebelum memberikan definisi tentang apakah percaya diri itu penulis akan menjelaskan apakah diri (self) itu. Konsep diri (self) sangat erat hubungannya dengan identitas (identity). James W (1984:129) mendefinisikan bahwa identitas (identity) sebagai kepekaan rasa kita (our sense) pada tempat di dunia ini sehingga mempunyai arti dalam konteks yang lebih luas dalam kehidupan manusia. Siapakah saya (who am I) sehingga ketika kita kita tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut kita akan mengalami bermacam-macam tingkat kegelisahan. Para ahli ilmu sosial mendefinisikan tentang diri (self) merupakan kombinasi penampilan secara fisik (physical appearence), citra daya ingat dan indra kita, Ausible dalam Albrecht (1988:28).
Rosenberg (1988:28) menyatakan bahwa konsep diri merupakan pikiran dan perasaan individu tentang dirinya sebagai obyek. Sedangkan Gecas (1988:30) menyatakan bahwa diri (self) merupakan konsep fisik, sosial dan spiritual atau akhlak (moral being).
b. Kepercayaan Diri (self confidence)
Kepercayaan diri (self-confidence) berarti percaya pada kemampuan yang dimiliki diri sendiri. Nathaniel di dalam Kumara (1997:18) mendefinisikan bahwa kepercayaan diri (self-confidence) sebagai perasaan manjur tentang dirinya (sense of efficacy) bahwa dirinya mempunyai kualitas. Bandura (1997:382) mendefinisikan kepercayaan diri (self-confidence) adalah percaya terhadap kemampuan untuk mencapai level tertentu.
Sehubungan dengan definisi di atas beberapa pakar mendefinisikan sebagai berikut:
1. Kepercayaan diri datang melalui pemahaman diri dan berhubungan erat dengan apa yang kita lakukan, bagaimana kemampuan kita dan bagaimana kita belajar untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan kita Von Haller Gilmer (1978:209).
2. Manusia kreatif mempunyai tingkat percaya diri tinggi, seseorang memerlukan kekuatan ego mereka hidup dalam kebenaran sebagaimana mereka lihat, James O. Lugo, Gerald L. Hasley (1981:116).
3. Kepercayaan diri adalah keyakinan diri akan kemampuan berhasil, Henry L, Tosi, John R Rizzo, Stephen J. Carroll (1990:574)
4. Seseorang dengan kepercayaan diri tinggi mempunyai keyakinan yang kuat dan dipengaruhi usaha-usaha keras untuk mencapai keberhasilan, Modway (1980:213).
2. Aspek-aspek kepercayaan diri
Ada 2 aspek besar tentang kepercayaan diri, meskipun beberapa psikolog membaginya dalam beberapa komponen akan tetapi komponen-komponen tersebut pada dasarnya merupakan aspek minor atau kecil. Aspek¬-aspek besar adalah konsep diri dan harga diri. Para pakar menjelaskan aspek-aspek tersebut sebagai berikut:
Konsep diri merupakan aspek yang lebih umum, karena mencakup dua hal yaitu identifikasi karakteristik perseorangan dan pengevaluasiannya. Meskipun kadang-kadang konsep diri digunakan setara atau bahkan disamaartikan dengan harga diri, namun pada umumnya menekankan pada karakteristik individu, Albrecht (1988:31). Gordon dan Rosenberg mengamati pola-pola tertentu tentang diri dan membaginya kedalam dua komponen yaitu material self dan social self. Material self secara ringkas merupakan persepsi tentang dirinya yang erat hubungannya ragawi atau fisik. Sementara social self erat hubungannya dengan persepsi perseorangan yang berkait dengan peran sosial dan kemampuannya di dalam masyarakat.
Para peneliti telah mengidentifikasi aspek-aspek maupun komponen-komponen konsep diri dan harga diri. Gecas (1971:76); Wells (1976:45); Marwell (1976:564); Smith (1978:422) Wallacher (1980:211) dan Hales (1980:334). Gecas di dalam Albrecht (1988:28) membagi diri (self) dalam dua dimensi independen yaitu power (competence) dan virtue (moral worth). William James di dalam David L. Watson (1984:65) membagi self ke dalam tiga komponen yaitu: material self, social self dan spiritual self. William menyatakan material self tidak hanya mencakup ragawi seseorang saja namun lebih luas cakupannya termasuk kepemilikan bendawi seseorang. Social self merupakan bagian dari citra diri yang kasat mata sementara spiritual self merupakan ranah keagamaan dan pengaplikasiannya pada belief atau keyakinan dalam jiwanya.
Diri (self) mempunyai dua sisi yaitu sisi publik dan sisi pribadi. Sisi publik menfokuskan pada penampilan fisik, atau gaya (manner), tingkah laku, amanah dan lambang-lambang yang terbuka pada masyarakat. Sedangkan sisi pribadi berkait dengan perasaan seseorang (sense), sikap (attitude) serta nilai-nilai yang dapat disembunyikan dari pandangan orang lain.
Melalui pengamatan diri sendiri kita dapat mendapatkan sebuah ilustrasi dan nilai-nilai tentang diri kita seperti apa yang kita tahu yaitu SELF-CONCEPT. William James membedakan antara “ I, aku, saya” sebagai subyek dan “me, aku, saya” sebagai obyek. Pernyataan William James tersebut didukung oleh Mead di dalam Zanden (1984:137). Konsep diri ini dikembangkan oleh Mead (1931:67); Cooley (1919:89); Blummer dan Alport (1943:115) dan dikembangkan juga oleh Maslow dan Rogers (1970:265) yang mana konsep diri ini berkembang menjadi sebuah topik dari psikologi humanistik.
Kosep diri secara jelas didefinisikan oleh William D Brook di dalam buku psikologi komunikasi karangan Jalaludin Rahmat (1984:99) sebagai persepsi fisik, sosial dan psikologi tentang diri kita yang timbul dari sebuah pengalaman dan hasil interaksi di antara kita sebagai manusia. Anita Taylor di dalam Rahmat (1984:99) mendefinisikan konsep diri (self-concept) sebagai apa yang kita pikir dan kita rasa tentang diri kita, merupakan seluruh keyakinan, sikap yang komplek tentang diri kita. Dengan demikian ada dua komponen konsep diri yaitu komponen kognitif dan komponen afektif yang disebut harga diri (self-esteem) oleh Brooks dan Emmert, Rahmat (1984:100).
3. Faktor-faktor konsep diri (self concept)
Menurut George Herbert Mead di dalam Zanden (1984:137) anak-anak mengalami tiga fase perkembangan pada dirinya yaitu fase bermain, fase perluasan perspektif dan fase perkembangan sosial dirinya. Fase bermain merupakan fase perkembangan yang signifikan karena pada masa ini mereka akan saling mempengaruhi perkembangan antar individu, mengalami pengevaluasian dirinya dan menerima norma-norma sosial tertentu. Pada fase perkembangan perluasan perspektif mereka akan belajar bekerjasama sehingga akan mempengaruhi perkembangan tingkah lakunya. Selanjutnya pada fase perkembangan sosial mereka mulai memperluas pergaulan dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya, mereka mulai mengenal kebiasaan, adat istiadat dan budaya masyarakatnya sehingga akan mempengaruhi perkembangan sikapnya.
4. Teori tingkah laku tentang diri (self)
Berdasarkan teori tingkah laku, konsep diri merupakan suatu badan atau tubuh pernyataan verbal seseorang tentang dirinya, Staat dan Staat di dalam Albrecht (1988:30). Bandura di dalam Albrecht (1988:34) mengatakan bahwa definisi yang luas tentang diri (self) adalah penguatan diri (self inforcement) dan hukuman (self punishment). Penguatan diri erat kaitannya dengan bagaimana penampilan dirinya dan bagaimana mengelola dirinya sehingga segala hal yang ada pada dirinya adalah perwujudan dari nilai-nilai yang relatif standar. Sedangkan self punishment atau hukuman merupakan konsekuensi dari pelanggaran-pelanggaran terhadap norma atau nilai-nilai yang ada.
Kemudian berdasarkan teori pembelajaran sosial bahwa konsep diri (self-concept) dan harga diri (self-esteem) diartikan sebagai frekuensi dari penguatan diri (self-inforcement) dan hukuman (self-punishment). Jadi konsep diri negatif menimbulkan peningkatan hukuman sedangkan positif konsep diri akan meninggikan penguatan diri.
5. Klasikal dan teori Operan Kondisioning
Albrecht dan rekan-rekan (1988:27) menyatakan bahwa berdasarkan paradigma teori klasikal kondisioning, diri (self) dipasangkan dengan suatu peristiwa atau obyek yang dapat mendatangkan kesenangan atau dengan reaksi emosional. Menurut paradigma Operan Kondisioning bahwa perubahan sikap positif maupun negatif bisa meningkatkan dan melemahkan frekuensi kejadian atau peristiwa yang mereka alami.
Jadi berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan struktur dasar dari bentuk kepribadian yaitu merupakan pandangan tentang diri seseorang dari segala persepsi, sehingga orang bisa mengevaluasi dirinya, dan juga evaluasi diri merupakan faktor dari konsep diri. Kemudian tendensi merasa atau menilai tentang dirinya dengan berbagai alasan sangat erat hubungannya dengan harga diri (self-esteem) yang dapat dijelaskan sebagai bagian dari konsep diri yang terbentuk oleh komponen kognitif dan komponen afektif yang melibatkan aspek fisik, sosial dan psikologi.
Abraham Maslow dan Carl Rogers di dalam Zanden (1984: 138) menekankan pentingnya optimalisasi perkembangan dan aktualisasi diri. Rogers menekankan bagian kunci dari penerimaan diri (self acceptance) yang memainkan fungsi dari kesehatan kepribadian (healthy persanality). Gambaran aktualisasi diri menurut Maslow:
1. Mereka mempunyai persepsi realitas yang kuat.
2. Mereka mampu menerima dirinya dan orang lain sebagaimana adanya.
3. Mereka terbukti bersungguh-sungguh dalam berfikir dan bertingkah laku secara spontanitas.
4. Mereka cenderung problem center daripada self center.
5. Mereka lebih otonom dan mandiri
6. Mereka mempunyai sikap teguh
7. Mereka mempunyai sikap simpati tinggi terhadap kondisi kemanusiaan dan mengedepankan kesejahteraan
8. Mereka mempunyai pandangan demokratis
9. Mereka bersungguh-sungguh dan kreatif.
Dengan demikian konsep diri dan harga diri merupakan dasar dari aktualisasi diri. Perkembangan aktualisasi diri merupakan indikasi dari orang yang mempunyai percaya diri tinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa percaya diri dipengaruhi oleh konsep diri dan harga diri yang sehat.
Kerangka berpikir
Manusia secara kualitatif sangat berbeda dengan hewan atau binatang karena manusia mempunyai kemampuan untuk menggunakan dan mengintepretasi lambang-lambang. Bahasa merupakan satu set lambang dimana manusia mampu mengartikan makna yang sama. Bahasa tidak hanya memungkinkan mengkomunikasikan antar individu tetapi juga memperkenankan orang untuk berbicara pada dirinya sendiri (thought). Berbicara merupakan bahasa pokok (oral) merupakan suatu keahlian yang komplek yang melibatkan aspek-aspek atau komponen kebahasaan, fisik, sosial dan psikologi.
Komponen kebahasaan mencakup lafal, struktur, kosa kata, kefasihan dan pemahaman. Aspek fisik berhubungan dengan lingkungan fisik, aspek sosial sangat erat dengan interaksi sosial dimana bahasa digunakan sebagia alat komunikasi. Aspek psikologi melibatkan aspek kognitif dan aspek afektif dan juga aspek motivasi. Tiga komponen seperti konsep diri, harga diri, dan aktualisasi diri merupakan fundamental komponen dimana konsep diri yang positif dan sehat merupakan dasar dari perkembangan percaya diri.
David G Meyer (1988: 358) menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang percaya diri adalah mereka percaya diri dalam berbicara, mampu bekomunikasi dengan efektif, jelas dalam bahasa yang sederhana. Dengan demikian jelas bahwa kemampuan berbicara ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal yang salah satunya adalah faktor psikologi yaitu percaya diri
Sebagaimana telah dinyatakan bahwa percaya diri adalah merupakan kebutuhan dasar untuk mencapai keberhasilan. Percaya diri berkembang dari konsep diri dan harga diri yang sehat. Aktualisasi diri seseorang merupakan refleksi dari orang yang mempunyai rasa percaya diri tinggi yang dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Percaya diri mempunyai fungsi untuk mendukung mencapai keberhasilan. Guilford (1959: 410) menyatakan bahwa orang yang mempunyai rasa percaya diri tinggi adalah dengan ciri-ciri seperti; mereka merasa layak sebagai contoh; mereka merasa mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik, mereka merasa diterima lingkungan, percaya pada dirinya sendiri, mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, berani dan tidak malu dalam berbicara dan melakukan sesuatu. David G Meyer (1988:358) menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang percaya diri adalah sebagai berikut:
1. Orang yang percaya diri mempunyai karakter pemimpin.
2. Orang yang percaya diri mempunyai kharisma dan keteguhan hati.
3. Orang yang percaya diri mampu berbicara dengan tenang.
4. Orang yang percaya diri mampu berkomunikasi dengan bahasa yang jelas dan sederhana.
Ciri-ciri orang yang percaya diri juga diungkapkan oleh Lauster (1978 : 86). Dia menyatakan bahwa orang yang mempunyai percaya diri adalah orang yang mempunyai sikap toleran, ambisius, optimis, tanggung jawab terhadap pekerjaan, mampu melakukan pekerjaan dengan efektif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang percaya diri mempunyai hubungan sosial yang baik, aspirasi yang baik, bertanggung jawab, bekerja efektif dan mempunyai emosi yang sehat.
Percaya diri merupakan kondisi individu yang berisi keyakinan (believes), kekuatan (power), kemampuan (competence) dan keahlian (skill). Kondisi seperti ini akan mendukung mencapai keberhasilan dan tanggungjawab terhadap keputusan yang mereka lakukan. Tingkat percaya diri siswa akan diukur dengan menggunakan skala percaya diri yang telah diadaptasi oleh Afiatin (1996) berdasarkan Guilford dan Lauster konsep.
Quisioner percaya diri ini telah di ujicoba oleh Kumara (1998) sehingga validitas dan reabilitas tes ini telah teruji dan layak digunakan. Ada tiga aspek yang akan diukur yaitu 1. merasa layak,
2. merasa diterima dan
3. kestabilan sifatnya. Para siswa diminta menjawab quisioner dengan menjawab satu jawaban dari lima jawaban yang tersedia dengan kategori jawaban seperti pernah, jarang, kadang-kadang, sering dan sangat sering
Perubahan pada anak tidak selalu diikuti oleh perubahan kita sebagai orang tua, bahkan secara tidak sadar kita sebagai orang tua secara tidak sadar berusaha untuk mempertahankan otoritasnya ketergantungan anak kita selama mungkin.
Semakin renggang bukanlah kejadian luar biasa. Namun bukan berarti kita sebagai orang tua menyikapinya dengan membiarkan hubungan kita dengan anak kita semakin renggang. Banyak cara yang dapat kita lakukan dengan membangun kembali keakraban dengan putra-putri kita, di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Bermain dan bercanda dengan anak
Kebutuhan untuk bermain dan bercanda tidak monopoli anak yang masih sangat kecil. Bahkan anak yang mulai menginjak remaja masih sangat perlu untuk kita ajak bermain dan bercanda.
2. Memberi kecupan, perhatian, dan kasih sayang
Anak yang selalu kita beri kecupan setiap mereka berpisah dengan kita lebih besar kemungkinan untuk terbebas dari pengaruh negative, kecupan di kening melahirkan ikatan yang kuat, mewujudkan perhatian, dan menumbuhkan kasih sayang.
3. Berdialog dan berbagi dengan anak
Dialog yang baik dan sharing (berbagi rasa) yang efektif akan meningkatkan secara signifikan kepercayaan diri anak. Seorang anak yang selalu diajak dialog dan sharing orang tua akan merasakan keberadaan dirinya sangatlah bermakna bagi jiwa sosialnya.
4. Menggunakan respond an menghindari reaksi
Reaksi adalah tindakan yang didasari dari pemikiran pertama saat melihat perilaku posifit/negative anak. Respon adalah tindakan yang didasari dengan pemikiran mendalam dengan melihat sebab dan akibat terhadap perilaku di atas.
5. Memberikan hadiah, penghargaan dan pujian kepada anak
Dengan saling memberi hadiah, maka kita akan saling menyanyangi
6. Lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Saat anak bereksplorasi dengan lingkungan baru dengan nilai-nilai yang seringkali berbeda, sebenarnya mereka mempunyai pertanyaan-pertanyaan dalam benak. Jika kita sebagai orang tua mampu merangsang mereka untuk menyampaikan kepada kita tanpa rasa takut, kita akan mempunyai kesempatan untuk membangun pola piker yang baik. Pastikan kita sebagai orang tua lebih banyak mendengar dan membiarkan anak berkata tanpa rasa takut dan malu.
Demikian tips ini sata tulis sebagai dapat menjembatani atau memperbaiki hubungan anda sebagai orang tua dengan anak anda yang disebabkan oleh pekerjaan atau aktifitas yang lain.
Hubungan Percaya diri dengan Kemampuan Berbicara Siswa
Thursday, August 19, 2010 7:06 PM
Hubungan Percaya diri dengan Kemampuan Berbicara Siswa
Kepercayaan Diri
Manusia secara kualitatif sangat berbeda dengan hewan atau binatang karena manusia mempunyai kemampuan untuk menggunakan dan menginterprestasi lambang-lambang. Bahasa merupakan satu set lambang dimana manusia mampu mengartikan makna yang sama. Bahasa tidak hanya memungkinkan mengkomunikasikan antar individu tetapi juga memperkenankan orang untuk berbicara pada dirinya sendiri (thought). Berbicara merupakan bahasa pokok (oral) merupakan suatu keahlian yang komplek yang melibatkan aspek-aspek atau komponen kebahasaan, fisik, sosial dan psikologi.
Komponen kebahasaan mencakup lafal, struktur, kosa kata, kefasihan dan pemahaman. Aspek fisik berhubungan dengan lingkungan fisik, aspek sosial sangat erat dengan interaksi sosial dimana bahasa digunakan sebagia alat komunikasi. Aspek psikologi melibatkan aspek kognitif dan aspek afektif dan juga aspek motivasi. Tiga komponen seperti konsep diri, harga diri, dan aktualisasi diri merupakan fundamental komponen dimana konsep diri yang positif dan sehat merupakan dasar dari perkembangan percaya diri.
Ciri-ciri orang yang percaya diri adalah mereka percaya diri dalam berbicara, mampu bekomunikasi dengan efektif, jelas dalam bahasa yang sederhana. Dengan demikian jelas bahwa kemampuan berbicara ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal yang salah satunya adalah faktor psikologi yaitu percaya diri.
Berbicara
Berbicara merupakan instrumen yang mendasar dalam berkomunikasi sehingga pesan atau informasi yang hendak disampaikan kepada orang lain bisa dipahami dan dimengerti dengan jelas yang memerlukan keterampilan yang komplek, komponen maupun kaidah-kaidah berbicara serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang mempengaruhi kemampuan berbicara tersebut berasal dari luar (eksternal) dan dari dalam (internal). Salah satu faktor yang sangat penting yang mempengaruhi kemampuan berbicara adalah faktor dari dalam yaitu percaya diri. Faktor ini akan mempengaruhi seseorang dalam berbicara sehingga suatu pembicaraan bisa berlangsung secara effektif. Tingkat percaya diri yang tinggi mengindikasikan orang mampu berbicara dengan tenang, mampu berkomunikasi dengan jelas dengan bahasa yang sederhana (David G Meyer : 358). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat percaya diri yang tinggi sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbicara.
Berbicara merupakan instrumen yang fundamental dalam komunikasi, pembicara mengatakan sesuatu agar mendapatkan effek terhadap pendengar, pembicara menyatakan sesuatu untuk mengubah pengetahuan pendengar, pembicara bertanya untuk mendapatkan jawaban ataupun informasi, meminta izin ataupun mengatakan sesuatu untuk mendapatkan respon dari orang lain, maka secara alamiah berbicara memainkan peran penting di dalam proses komunikasi.
Sejalan dengan pernyataan tersebut di atas Ramelan (1977: 8) menyatakan bahwa setiap orang menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, sebagai alat untuk mengungkapkan gagasan atau pun kehendak, menggunakan bahasa untuk menyampaikann pesan yang wujudnya suara dimana suara dihasilkan oleh alat ucap (speech organ).
Berbicara merupakan ketrampilan yang komplek yang membutuhkan kebersamaan dari sejumlah perbedaan kemampuan dimana sering berkembang sejalan dengan perbedaan kecepatan yang melibatkan beberapa komponen berbicara ( Harris, 1969 : 81). Ada lima komponen berbicara yaitu;
a) lafal yang menyangkut vokal, konsonan, tekanan dan pola-pola intonasi);
b) struktur;
c) kosa kata;
d) kefasihan dan
e) pemahaman.
Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa: berbicara merupakan pernyataan atau ucapan-ucapan keseharian, suara saja bukan merupakan berbicara, berbicara merupakan alat fundamental dalam komunikasi, berbicara merupakan aksi sehari-hari dalam menyampaikan pesan, informasi, kehendak yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang bentuknya bahasa tutur. Bila mengacu pada pada kemampuan siswa dalam berbicara, perhatian kita terpusat pada kemampuan komunikasi secara informal dalam kegiatan belajar secara memadai di dalam penyampaian pesan secara fasih, jelas dan dapat dimengerti sehingga tujuan komunikasi kebermaknaan tercapai.
Wolfson (1983 : 31) menyatakan bahwa untuk dapat berkomunikasi secara efektif seseorang tidak hanya mampu mengeteahui struktur bahasa dan kosa kata namun juga harus menguasai kaidah-kaidah berbicara yang mencakup salam, topik, waktu, pujian, permintaan maaf mungkin ada hal-hal yang kurang tepat, aktualitas dan penggunaan kalimat-kalimat yang memadai, dengan kata lain untuk bisa berbicara atau berkomunikasi secara efektif diperlukan beberapa persyaratan dan komponen.
Effendi (1986: 7) mendefinisikan bahwa berbicara merupakan tindakan oleh seseorang atau lebih untuk menyampaikan pesan yang berupa suara di dalam konteks dengan efek timbal balik pada suatu kesempatan atau waktu, kemudian tindakan komunikasi itu mencakup beberapa komponen diantaranya: isi, sumber, penerima, pesan, sambungan (channel) ada suara, proses penyampaian sandi (encoding), proses penerimaan sandi (decoding), efek dan timbal balik (response). Komponen-komponen tersebut merupakan sesuatu yang esesensial didalam berkomunikasi atau berbicara atau yang sering kita kenal merupakan komunikasi yang universal dalam penggunaan bahasa tutur atau berbicara.
faktor yang mempengaruhi berbicara
Pearson dan Johnson (1972 : 54) membedakan apa yang mereka sebut sebagai faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam mencakup hal-hal dimana pembicara menyampaikan pesan yang dapat dimengerti atau dipahami oleh orang lain. Sedangkan faktor luar adalah faktor yang berasal dari luar pembicara yaitu lawan bicara atau pendengar, tempat, respon atau tanggapan, waktu, situasi dan kondisi pada saat pembicaraan berlangsung. Penyampaian pesan yang harus dipahami merupakan jembatan antara suatu informasi yang diketahui maupun informasi yang belum diketahui atau dipahami di dalam kerangka pengetahuan yang bertujuan untuk memastikan bahwa informasi tersebut benar-benar dapat diterima dan dipahami oleh lawan bicara. Beberapa faktor yang mempengaruhi tersebut antara lain:
1. Input dan aktifitas
Hal pokok yang harus dipertimbangkan adalah kompleksitas teks. Hal tersebut akan berpengaruh pada faktor struktur tata bahasa. Faktor aktifitas akan berhubungan dengan aktifitas berbicara yang mencakup bahan atau topik pembicaraan sehingga masukan atau input akan sangat penting peranannya dalam memperlancar aktifitas berbicara.
2. Pembicara
Latar belakang pembicara mencakup percaya diri (self assure), motivasi, kemampuan penyampaian pesan, pengetahuan budaya dan pengetahuan kebahasaan. David Nunan (1989: 65 ) mengajukan beberapa hal yang dianggap sangat berhubungan dengan faktor tersebut antara lain: sejauh mana tingkat kepercayaan diri pembicara menyampaikan pesan kepada orang lain. Bagaimana motivasi mereka dalam berbicara? Bagaimana pembicara menyerap secara familiar terhadap topik pembicaraan? Apakah pengalaman pembicara memberikan manfaat atau strategi keahlian dalam penyampaian pesan? Kemampuan bahasa; apakah pembicara mampu mengukur kemampuan berbicaranya? Apakah penyesuaian diri pembicara terhadap lawan bicara sudah memadai?
3. Tujuan pengajaran berbicara.
Tujuan pengajaran berbicara bagi para siswa adalah untuk melatih kemampuan berbicara mereka yang meliputi praktik percakapan yang sederhana, bercerita atau mendeskripsikan seseorang, kejadian sehari-hari, dialog atau tanya jawab sesuatu masalah, menceritakan kembali peristiwa-peristiwa sosial, isu politik, budaya pada lingkup nasional maupun internasional. Menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan tentang suatu hal, berdiskusi atau debat. Dengan cara tersebut pengajaran berbicara secara terpadu terpusat pada siswa-siswa. Para siswa dituntut untuk selalu aktif untuk berlatih berbicara. Mereka dilatih untuk berani mengungkapkan pendapat atau perasaan suka atau tidak suka kepada teman-temannya. Sehingga atmosfir di dalam kelas dimenej sebaik mungkin sehingga situasi kelas benar-benar kondusif untuk belajar dan berlatih berbicara atau mengkomunikasikan berbagai hal.
Tujuan penciptaan situasi yang kondusif ini adalah agar siswa merasa nyaman. Mereka berinteraksi dan bekerjasama saling bertukar pikiran, mengungkapkan gagasan atau ide, pengalaman, perasaan atau membahas topik tertentu. Siswa dibuat kelompok-kelompok agar mereka mempunyai kesempatan untuk saling mengungkapkan sesuatu. Kelompok tersebut diberikan suatu topik pembicaraan yang sebelumnya diberikan pemanasan sehingga pembicaraan berjalan dengan lancar. Meskipun telah diciptakan situasi sedemikian rupa kadang kadang siswa masih merasakan adanya hambatan dalam menyampaikan gagasan atau ide, mereka sering merasa ragu-ragu, malu atau takut. Untuk mengeliminir perasaan tersebut guru berperan sangat penting yaitu dengan cara membantu siswa-siswa menyemangati atau memberikan motivasi dengan mengatakan apa pun gagasan atau ide yang akan disampaikan tidak ada hubungannya dengan benar atau salah sehingga setiap siswa bisa menolak atau tidak menjawab tanpa harus memberikan alasan atau keterangan. Hal ini masih menandakan adanya tingkat kategori siswa merasa malu. Untuk guru harus mampu memilih aktivitas yang bisa dirasakan para siswa merasa nyaman
4. Peran guru
Penciptaan situasi dan aktivitas seperti tersebut di atas akan berlangsung baik dengan sendirinya di bawah kendali guru. Kemudian guru memutuskan apakah akan terlibat dalam aktivitas berbicara tersebut secara sejajar sebagai anggota atau hanya akan berada di belakang sebagai pengamat atau membantu kelancaran kegiatan berbicara siswa. Untuk cara pertama jarak psikologis antara siswa dengan guru dapat dikurangi, sedangkan untuk cara yang kedua guru tidak akan bertindak independen dalam memberikan nasihat atau membantu kelompok yang lain.
Bagaimanapun metode yang dipilih, guru harus berhati-hati dalam memberikan koreksi kesalahan berbicara para siswanya, hal ini akan memberikan gambaran mereka pada keraguan dan merasa tidak aman dalam penyampaian pesan ketika mereka benar-benar praktik berkomunikasi. Nampaknya akan lebih baik apabila guru berperan sebagai pengamat dan hanya memberikan bantuan demi kelancaran aktivitas berbicara siswa ketika terjadi kebuntuan pembicaraan dengan cara memberikan semangat sehingga mereka mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dengan menemukan alternatif lain dalam mengekpresikan hal yang akan dikatakan.
5. Masalah utama dalam pengukuran ketrampilan berbicara
Pada bahasan awal telah dijelaskan bahwa berbicara merupakan suatu ketrampilan yang kompleks yang memerlukan sejumlah perbedaan penafsiran secara kompak. Berbicara dianggap merupakan masalah yang krusial sehingga sering dihadapkan dengan masalah yang serius dalam pengukuran ketrampilan berbicara sebagaimana dinyatakan oleh Harris (1969 : 87) disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut; (1) minimnya kriteria yang reliabel dalam pengukuran ketrampilan berbicara, (2) tidak adanya kesepakatan umum tentang keakuratan pelafalan, (3) tipe pengukuran tes ketrampilan berbicara yang subyektif, (4) adanya ketidakkonsistenan dalam pemberian skor.
6. Bagaimana mengukur ketrampilan berbicara siswa
Ketrampilan berbicara siswa diukur melalui tes. Ada tiga cara dalam pengukuran tersebut yaitu dengan role play (bermain peran) tes, retelling (pengulangan cerita) dan interview (wawancara). Materi tes diambil dari buku English in Three Act oleh Richard Via (1976 :73 ) yang diadaptasi.
1. Role Play : siswa dites untuk bermain drama masing-masing disesuaikan dengan karakter dan peran.
2. Retelling : siswa diminta untuk menceritakan ulang atau untuk memberikan illustrasi yang jelas tentang cerita drama
3. Interview : Siswa diwawancarai tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan drama
Beberapa aspek yang dinilai adalah
1. Pelafalan
2. Struktur bahasa
3. Kosa kata
4. Kefasihan
5. Pemahaman
1. Percaya Diri
a. Diri
Sebelum memberikan definisi tentang apakah percaya diri itu penulis akan menjelaskan apakah diri (self) itu. Konsep diri (self) sangat erat hubungannya dengan identitas (identity). James W (1984:129) mendefinisikan bahwa identitas (identity) sebagai kepekaan rasa kita (our sense) pada tempat di dunia ini sehingga mempunyai arti dalam konteks yang lebih luas dalam kehidupan manusia. Siapakah saya (who am I) sehingga ketika kita kita tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut kita akan mengalami bermacam-macam tingkat kegelisahan. Para ahli ilmu sosial mendefinisikan tentang diri (self) merupakan kombinasi penampilan secara fisik (physical appearence), citra daya ingat dan indra kita, Ausible dalam Albrecht (1988:28).
Rosenberg (1988:28) menyatakan bahwa konsep diri merupakan pikiran dan perasaan individu tentang dirinya sebagai obyek. Sedangkan Gecas (1988:30) menyatakan bahwa diri (self) merupakan konsep fisik, sosial dan spiritual atau akhlak (moral being).
b. Kepercayaan Diri (self confidence)
Kepercayaan diri (self-confidence) berarti percaya pada kemampuan yang dimiliki diri sendiri. Nathaniel di dalam Kumara (1997:18) mendefinisikan bahwa kepercayaan diri (self-confidence) sebagai perasaan manjur tentang dirinya (sense of efficacy) bahwa dirinya mempunyai kualitas. Bandura (1997:382) mendefinisikan kepercayaan diri (self-confidence) adalah percaya terhadap kemampuan untuk mencapai level tertentu.
Sehubungan dengan definisi di atas beberapa pakar mendefinisikan sebagai berikut:
1. Kepercayaan diri datang melalui pemahaman diri dan berhubungan erat dengan apa yang kita lakukan, bagaimana kemampuan kita dan bagaimana kita belajar untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan kita Von Haller Gilmer (1978:209).
2. Manusia kreatif mempunyai tingkat percaya diri tinggi, seseorang memerlukan kekuatan ego mereka hidup dalam kebenaran sebagaimana mereka lihat, James O. Lugo, Gerald L. Hasley (1981:116).
3. Kepercayaan diri adalah keyakinan diri akan kemampuan berhasil, Henry L, Tosi, John R Rizzo, Stephen J. Carroll (1990:574)
4. Seseorang dengan kepercayaan diri tinggi mempunyai keyakinan yang kuat dan dipengaruhi usaha-usaha keras untuk mencapai keberhasilan, Modway (1980:213).
2. Aspek-aspek kepercayaan diri
Ada 2 aspek besar tentang kepercayaan diri, meskipun beberapa psikolog membaginya dalam beberapa komponen akan tetapi komponen-komponen tersebut pada dasarnya merupakan aspek minor atau kecil. Aspek¬-aspek besar adalah konsep diri dan harga diri. Para pakar menjelaskan aspek-aspek tersebut sebagai berikut:
Konsep diri merupakan aspek yang lebih umum, karena mencakup dua hal yaitu identifikasi karakteristik perseorangan dan pengevaluasiannya. Meskipun kadang-kadang konsep diri digunakan setara atau bahkan disamaartikan dengan harga diri, namun pada umumnya menekankan pada karakteristik individu, Albrecht (1988:31). Gordon dan Rosenberg mengamati pola-pola tertentu tentang diri dan membaginya kedalam dua komponen yaitu material self dan social self. Material self secara ringkas merupakan persepsi tentang dirinya yang erat hubungannya ragawi atau fisik. Sementara social self erat hubungannya dengan persepsi perseorangan yang berkait dengan peran sosial dan kemampuannya di dalam masyarakat.
Para peneliti telah mengidentifikasi aspek-aspek maupun komponen-komponen konsep diri dan harga diri. Gecas (1971:76); Wells (1976:45); Marwell (1976:564); Smith (1978:422) Wallacher (1980:211) dan Hales (1980:334). Gecas di dalam Albrecht (1988:28) membagi diri (self) dalam dua dimensi independen yaitu power (competence) dan virtue (moral worth). William James di dalam David L. Watson (1984:65) membagi self ke dalam tiga komponen yaitu: material self, social self dan spiritual self. William menyatakan material self tidak hanya mencakup ragawi seseorang saja namun lebih luas cakupannya termasuk kepemilikan bendawi seseorang. Social self merupakan bagian dari citra diri yang kasat mata sementara spiritual self merupakan ranah keagamaan dan pengaplikasiannya pada belief atau keyakinan dalam jiwanya.
Diri (self) mempunyai dua sisi yaitu sisi publik dan sisi pribadi. Sisi publik menfokuskan pada penampilan fisik, atau gaya (manner), tingkah laku, amanah dan lambang-lambang yang terbuka pada masyarakat. Sedangkan sisi pribadi berkait dengan perasaan seseorang (sense), sikap (attitude) serta nilai-nilai yang dapat disembunyikan dari pandangan orang lain.
Melalui pengamatan diri sendiri kita dapat mendapatkan sebuah ilustrasi dan nilai-nilai tentang diri kita seperti apa yang kita tahu yaitu SELF-CONCEPT. William James membedakan antara “ I, aku, saya” sebagai subyek dan “me, aku, saya” sebagai obyek. Pernyataan William James tersebut didukung oleh Mead di dalam Zanden (1984:137). Konsep diri ini dikembangkan oleh Mead (1931:67); Cooley (1919:89); Blummer dan Alport (1943:115) dan dikembangkan juga oleh Maslow dan Rogers (1970:265) yang mana konsep diri ini berkembang menjadi sebuah topik dari psikologi humanistik.
Kosep diri secara jelas didefinisikan oleh William D Brook di dalam buku psikologi komunikasi karangan Jalaludin Rahmat (1984:99) sebagai persepsi fisik, sosial dan psikologi tentang diri kita yang timbul dari sebuah pengalaman dan hasil interaksi di antara kita sebagai manusia. Anita Taylor di dalam Rahmat (1984:99) mendefinisikan konsep diri (self-concept) sebagai apa yang kita pikir dan kita rasa tentang diri kita, merupakan seluruh keyakinan, sikap yang komplek tentang diri kita. Dengan demikian ada dua komponen konsep diri yaitu komponen kognitif dan komponen afektif yang disebut harga diri (self-esteem) oleh Brooks dan Emmert, Rahmat (1984:100).
3. Faktor-faktor konsep diri (self concept)
Menurut George Herbert Mead di dalam Zanden (1984:137) anak-anak mengalami tiga fase perkembangan pada dirinya yaitu fase bermain, fase perluasan perspektif dan fase perkembangan sosial dirinya. Fase bermain merupakan fase perkembangan yang signifikan karena pada masa ini mereka akan saling mempengaruhi perkembangan antar individu, mengalami pengevaluasian dirinya dan menerima norma-norma sosial tertentu. Pada fase perkembangan perluasan perspektif mereka akan belajar bekerjasama sehingga akan mempengaruhi perkembangan tingkah lakunya. Selanjutnya pada fase perkembangan sosial mereka mulai memperluas pergaulan dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya, mereka mulai mengenal kebiasaan, adat istiadat dan budaya masyarakatnya sehingga akan mempengaruhi perkembangan sikapnya.
4. Teori tingkah laku tentang diri (self)
Berdasarkan teori tingkah laku, konsep diri merupakan suatu badan atau tubuh pernyataan verbal seseorang tentang dirinya, Staat dan Staat di dalam Albrecht (1988:30). Bandura di dalam Albrecht (1988:34) mengatakan bahwa definisi yang luas tentang diri (self) adalah penguatan diri (self inforcement) dan hukuman (self punishment). Penguatan diri erat kaitannya dengan bagaimana penampilan dirinya dan bagaimana mengelola dirinya sehingga segala hal yang ada pada dirinya adalah perwujudan dari nilai-nilai yang relatif standar. Sedangkan self punishment atau hukuman merupakan konsekuensi dari pelanggaran-pelanggaran terhadap norma atau nilai-nilai yang ada.
Kemudian berdasarkan teori pembelajaran sosial bahwa konsep diri (self-concept) dan harga diri (self-esteem) diartikan sebagai frekuensi dari penguatan diri (self-inforcement) dan hukuman (self-punishment). Jadi konsep diri negatif menimbulkan peningkatan hukuman sedangkan positif konsep diri akan meninggikan penguatan diri.
5. Klasikal dan teori Operan Kondisioning
Albrecht dan rekan-rekan (1988:27) menyatakan bahwa berdasarkan paradigma teori klasikal kondisioning, diri (self) dipasangkan dengan suatu peristiwa atau obyek yang dapat mendatangkan kesenangan atau dengan reaksi emosional. Menurut paradigma Operan Kondisioning bahwa perubahan sikap positif maupun negatif bisa meningkatkan dan melemahkan frekuensi kejadian atau peristiwa yang mereka alami.
Jadi berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan struktur dasar dari bentuk kepribadian yaitu merupakan pandangan tentang diri seseorang dari segala persepsi, sehingga orang bisa mengevaluasi dirinya, dan juga evaluasi diri merupakan faktor dari konsep diri. Kemudian tendensi merasa atau menilai tentang dirinya dengan berbagai alasan sangat erat hubungannya dengan harga diri (self-esteem) yang dapat dijelaskan sebagai bagian dari konsep diri yang terbentuk oleh komponen kognitif dan komponen afektif yang melibatkan aspek fisik, sosial dan psikologi.
Abraham Maslow dan Carl Rogers di dalam Zanden (1984: 138) menekankan pentingnya optimalisasi perkembangan dan aktualisasi diri. Rogers menekankan bagian kunci dari penerimaan diri (self acceptance) yang memainkan fungsi dari kesehatan kepribadian (healthy persanality). Gambaran aktualisasi diri menurut Maslow:
1. Mereka mempunyai persepsi realitas yang kuat.
2. Mereka mampu menerima dirinya dan orang lain sebagaimana adanya.
3. Mereka terbukti bersungguh-sungguh dalam berfikir dan bertingkah laku secara spontanitas.
4. Mereka cenderung problem center daripada self center.
5. Mereka lebih otonom dan mandiri
6. Mereka mempunyai sikap teguh
7. Mereka mempunyai sikap simpati tinggi terhadap kondisi kemanusiaan dan mengedepankan kesejahteraan
8. Mereka mempunyai pandangan demokratis
9. Mereka bersungguh-sungguh dan kreatif.
Dengan demikian konsep diri dan harga diri merupakan dasar dari aktualisasi diri. Perkembangan aktualisasi diri merupakan indikasi dari orang yang mempunyai percaya diri tinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa percaya diri dipengaruhi oleh konsep diri dan harga diri yang sehat.
Kerangka berpikir
Manusia secara kualitatif sangat berbeda dengan hewan atau binatang karena manusia mempunyai kemampuan untuk menggunakan dan mengintepretasi lambang-lambang. Bahasa merupakan satu set lambang dimana manusia mampu mengartikan makna yang sama. Bahasa tidak hanya memungkinkan mengkomunikasikan antar individu tetapi juga memperkenankan orang untuk berbicara pada dirinya sendiri (thought). Berbicara merupakan bahasa pokok (oral) merupakan suatu keahlian yang komplek yang melibatkan aspek-aspek atau komponen kebahasaan, fisik, sosial dan psikologi.
Komponen kebahasaan mencakup lafal, struktur, kosa kata, kefasihan dan pemahaman. Aspek fisik berhubungan dengan lingkungan fisik, aspek sosial sangat erat dengan interaksi sosial dimana bahasa digunakan sebagia alat komunikasi. Aspek psikologi melibatkan aspek kognitif dan aspek afektif dan juga aspek motivasi. Tiga komponen seperti konsep diri, harga diri, dan aktualisasi diri merupakan fundamental komponen dimana konsep diri yang positif dan sehat merupakan dasar dari perkembangan percaya diri.
David G Meyer (1988: 358) menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang percaya diri adalah mereka percaya diri dalam berbicara, mampu bekomunikasi dengan efektif, jelas dalam bahasa yang sederhana. Dengan demikian jelas bahwa kemampuan berbicara ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal yang salah satunya adalah faktor psikologi yaitu percaya diri
Sebagaimana telah dinyatakan bahwa percaya diri adalah merupakan kebutuhan dasar untuk mencapai keberhasilan. Percaya diri berkembang dari konsep diri dan harga diri yang sehat. Aktualisasi diri seseorang merupakan refleksi dari orang yang mempunyai rasa percaya diri tinggi yang dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Percaya diri mempunyai fungsi untuk mendukung mencapai keberhasilan. Guilford (1959: 410) menyatakan bahwa orang yang mempunyai rasa percaya diri tinggi adalah dengan ciri-ciri seperti; mereka merasa layak sebagai contoh; mereka merasa mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik, mereka merasa diterima lingkungan, percaya pada dirinya sendiri, mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, berani dan tidak malu dalam berbicara dan melakukan sesuatu. David G Meyer (1988:358) menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang percaya diri adalah sebagai berikut:
1. Orang yang percaya diri mempunyai karakter pemimpin.
2. Orang yang percaya diri mempunyai kharisma dan keteguhan hati.
3. Orang yang percaya diri mampu berbicara dengan tenang.
4. Orang yang percaya diri mampu berkomunikasi dengan bahasa yang jelas dan sederhana.
Ciri-ciri orang yang percaya diri juga diungkapkan oleh Lauster (1978 : 86). Dia menyatakan bahwa orang yang mempunyai percaya diri adalah orang yang mempunyai sikap toleran, ambisius, optimis, tanggung jawab terhadap pekerjaan, mampu melakukan pekerjaan dengan efektif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang percaya diri mempunyai hubungan sosial yang baik, aspirasi yang baik, bertanggung jawab, bekerja efektif dan mempunyai emosi yang sehat.
Percaya diri merupakan kondisi individu yang berisi keyakinan (believes), kekuatan (power), kemampuan (competence) dan keahlian (skill). Kondisi seperti ini akan mendukung mencapai keberhasilan dan tanggungjawab terhadap keputusan yang mereka lakukan. Tingkat percaya diri siswa akan diukur dengan menggunakan skala percaya diri yang telah diadaptasi oleh Afiatin (1996) berdasarkan Guilford dan Lauster konsep.
Quisioner percaya diri ini telah di ujicoba oleh Kumara (1998) sehingga validitas dan reabilitas tes ini telah teruji dan layak digunakan. Ada tiga aspek yang akan diukur yaitu 1. merasa layak,
2. merasa diterima dan
3. kestabilan sifatnya. Para siswa diminta menjawab quisioner dengan menjawab satu jawaban dari lima jawaban yang tersedia dengan kategori jawaban seperti pernah, jarang, kadang-kadang, sering dan sangat sering
Langganan:
Postingan (Atom)