Loading...
Loading...

Rabu, 13 April 2011

PERAYAAN HARI RAYA NYEPI

Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011
BAGAIMANA
SEHARUSNYA PERAYAAN HARI RAYA NYEPI, TAHUN
BARU CAKA DILAKSANAKAN DI SUATU DAERAH,
WILAYAH PROVINSI DILUAR BALI
Oleh
ANAK AGUNG GDE ASMARA
MOTTO :
SEBUAH DASAR PEMIKIRAN HASIL RANGKUMAN DAN KAJIAN NYATA,
BERLANDASKAN KETENTUAN SASTRA SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN
PITEKET SANGHYANG WENANG TAT KALA RUNTUHNYA MAJAPAHIT:
”TINGGALKAN JAWA PERGI KEBALI, JANGAN BAWA APA-APA; TATA
PARHYANGAN, SANGGAR PEMUJAAN, KELUARGA DENGAN
KETENTUAN SASTRA, APA YANG DITINGGAL ITU AKAN KEMBALI”.
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 2
Tawur Kesanga dan Pawai Ogoh-Ogoh dalam rangka
Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka, diTugu Monas
Provinsi DKI Jakarta
2011
A. PENGERTIAN
Mewujudkan ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan Dunia adalah
menjadi tujuan Umat Hindu yang tertuang dalam tujuan Agama yaitu ”
Moksartham Jagatdhita Ya Ca Iti Dharma” yang dijabarkan melalui
empat jalan utama ” Catur Marga” dan realisasi pada kehidupan nyata
diwujudkan dalam bentuk ” Panca Yadnya” yaitu lima pengorbanan suci
secara tradisi sering dikenal dengan Upacara. Sesungguhnya Umat Hindu
telah melakukan Yadnya pada kehidupan sehari-hari dalam bentuk non
Upacara. Beryadnya tidaklah hanya mengadakan upacara keagamaan
saja akan tetapi menyangkut hal yang lebih luas dari itu. Dituntut
pengorbanan yang tulus dan ikhlas, pengorbanan berdasarkan dharma,
untuk terciptanya kedamaian dan kebahagiaan lahir bathin yang
tertinggi. Dimanapun umat manusia dimuka bumi ini pasti
mendambakan kebahagiaan tertinggi, tidak hanya untuk diri sendiri
(Moksa) tetapi juga untuk alam beserta isinya (Jagaddhita).
Kabahagiaan diri sendiri tidak ada artinya, jika lingkungan, desa,
wilayah, negara lebih luas lagi dunia dimana manusia memijakkan
kakinya tidak aman dan damai.
Pengertian Bhuta adalah unsur-unsur dari Panca Mahabhuta yang
terdiri atas Tanah (Pertiwi), Air(Apah), Api (Teja), Udara (Bayu), dan
Akasa ( Awang, Ruang). Menurut para ahli theosofi yang menyebabkan
wujud bhuta ini berubah, tergantung kondisi dan keadaan antara lain
lembab, panas, kering, dingin dan dalam keadaan tidak ada apa-apa.
Sesungguhnya dibalik semua wujud itu, bhuta tidak lain adalah energi
atau materi yang suatu waktu karena pengaruh kondisi panas, dingin,
lembab dan kering bhuta berubah sifat menjadi baik dan buruk. Apabila
keseimbangan bhuta terusik, dapat menimbulkan bencana alam seperti
banjir, gempa, badai tofan dan berdampak menjadi musibah bagi umat
manusia serta mahluk lain di Bumi ini.
Sifat buruk yang disebut krodanya bhuta inilah yang harus dikendalikan
oleh umat manusia agar dunia yang telah aman dan sejahtera jangan
hancur & porak poranda dan akhirnya musnah. Disinilah tantangan bagi
manusia sebagai mahluk yang mulia dibandingkan mahluk lain, harus
berani dan mau berkorban untuk mengendalikan bhuta agar tetap baik
atau seimbang tidak berubah menjadi ganas dan kroda. Pengorbanan
manusia secara tulus ikhlas kepada bhuta inilah yang disebut BHUTA
YADNYA.
Upacara bhuta yadnya ini menurut waktu pelaksanaannya dapat
dibedakan atas Nitya-Kala yaitu persembahan kepada bhuta yang
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 3
dilakukan sehari-hari seperti banten saiban atau ngejot, mesegeh dan
Naimitika-Kala adalah upacara yang dilakukan pada hari-hari yang telah
ditentukan dan mencakup lingkungan yang lebih luas yaitu desa, daerah
atau wilayah provinsi dan negara.
B. DASAR SASTRA PELAKSANAAN TAWUR & TAHUN BARU SAKA
Perayaan Nyepi tahun Baru Saka, dilaksanakan pada kisaran bulan
Maret setiap tahunnya yang dirayakan secara Nasional sesuai Pedoman
Upacara Hari Raya Nyepi, Ketetapan Parisada Hindu Dharma Indonesia
Pusat. Selain sebagai wujud pengamalan ajaran Agama, juga memberi
makna terhadap eksitensi umat Hindu ditengah-tengah Bangsa yang
pluralis multikultural dengan berperan aktif dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui kehidupan sosial
keagamaan.
Menyikapi realita kehidupan sosial masyarakat yang masih
memprihatinkan serta pemanasan Global secara makro, sebagai ekses
dari ketidakdisiplinan manusia mengelola alam & lingkungan dimana
mereka tinggal, sehingga menimbulkan berbagai macam bencana
menimpa silih berganti. Disisi lain ketegangan, kekerasan, tindakan
anarkis, konflik horizontal masih mewarnai beberapa aspek kehidupan
Nasional, sementara kemiskinan belum dapat dientaskan baik secara
mikro maupun makro.
Disinilah makna dari sebuah pelaksanaan Tawur Kesanga dan perayaan
Nyepi dalam menyambut Tahun Baru Saka adalah wujud dari
harmonisasi antara Manusia dengan mahluk lain dan alam materi
ciptaan-Nya yang dikenal dengan sebutan Panca Maha Bhuta (Pertiwi,
Apah, Bayu, Teja, Akasa). Keseimbangan Bhuana Agung (Makrokosmos)
yaitu jagadraya , alam semesta ini dengan Bhuana Alit (Mikrokosmos)
harus tetap dijaga oleh manusia itu sendiri. Makna tawur kesanga ini
sangat jelas sebagaimana terkutip pada lontar Siwa Yama Purana
Tattwa & Susastra Sutasoma karya Mpu Tan Tular sebagai berikut:
DA Ê ltÇ ÑtàxÅÉÇ|Çz átá|{ ~xátÇzt? ãxÇtÇz àt á|Üt zâÅtãxt~xÇ âà|A gtãâÜ
~xátÇzt ÇztÜtÇ|çt? Ü|Çz vtàâá ÑtàtÇ|Çz wxátA ZâÅtãxt~xÇ ÑxÜtÇz átàt
àxÄâÇz ÑtÜt{tàtÇz? wâÇzâÄtÇ|Çz zâÄâÜ|Çz âÜt{t Üt{ á|Üt ~tàâÜ Ü|Çz ftÇz
[çtÇz ^tÄt et}t? [çtÇz Wtát UâÅ|A `tÇz~tÇx ÑÜtá|wt ~xÜà{t
Üt{tÜ}t |~xÇz ÜtàA ltÇ àtÇ átÅtÇz~tÇt Üâz }tztw Ütçt? átã|àtÇ|Çz U{âàt
ÅtÇ}|Çz Ü|Çz tÇzzt átá|ÜtÇ| ÅtÇâátÊA
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 4
Maksudnya:
Setiap ketemu dengan bulan sembilan (bulan Maret Masehi),
manusia wajib membuat sedekah yang dinamakan Tawur kesanga
diperempatan suatu desa, wilayah atau daerah. Mengorbankan darah
hewan yang dipersembahkan sebagai upah pada Panca Maha Bhuta
yaitu kekuatan alam semesta ini yang disebut Hyang Kala Raja. Itu
yang membuat tentram dan sejahtera, kalau tidak demikian kacau
tatanan keseimbangan jagadraya atau alam semesta ini. Karena
pengaruh Bhuta (kekuatan negatif) alam ini yang memasuki pikiran
manusia yang berdampak pada hilangnya cinta kasih, rasa
prikemanusiaan dan berubah menjadi keserakahan, kekejaman serta
tindakan yang bersifat anarkis.
2. Tahun Baru Saka adalah tarikh atau penanggalan yang dipergunakan
oleh umat Hindu Dharma sejak permulaan abad ke VI, yaitu saka
kala yang ditetapkan berlakunya sejak penobatan Raja Kaniska I dari
Dinasti Kushana yang memerintah kerajaan Mathura di India pada
tahun 78 Masehi.
Semenjak penobatannya menjadi raja ditandai oleh perdamaian dan
mantapnya stabilitas dibidang politik dan keamanan serta
berkembangnya toleransi dan kerukunan hidup antar umat beragama
yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Kondisi seperti ini terjadi
juga di Indonesia pada jamannya Mpu Tantular sebagaimana
diungkapkan dalam karya sastranya ” Pustaka Sutasoma ” dengan
sloka : ” Bhineka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa”, sebagai
pencerminan keadaan Nusantara kala itu yang sama keadaannya
dengan jamannya Raja Kaniska I di India. Tahun Baru Saka dan
Nyepi setiap tahun ditandai oleh Tilem Kesanga atau Caitra Masa
sebagai siklus terakhir untuk beralih ke Tahun Baru Saka. Tilem Sasih
Kesanga tahun 2011 jatuh pada 4 Maret, besoknya tanggal 5 Maret
adalah Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1933. Dengan demikian
Hari Nyepi adalah perayaan Tahun Baru Saka yaitu penanggal apisan
sasih Kesanga atau Eka Suklapaksa sasih Waisaka.
C. TUJUAN PERAYAAN
Pelaksanaan Tawur dalam Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka,
disetiap tingkat Desa, Kecamatan, Kota & Provinsi mempunyai tujuan
agar tercapainya tujuan hidup yaitu kesejahteraan alam dan lingkungan,
maka manusia harus mensejahterakan semua makhluk (bhutahita), hal
ini dijelaskan pada ftÜtátÅâávtçt DFH : Ê `tàtÇzÇçtÇ ÑÜ|{xÇ à|~tÇz
u{âàt{|àt {tçãt àtÇ Åtá|{ Ü|Çz átÜãt ÑÜtÇ|AÊ artinya: Oleh karenanya,
usakanlah kesejahteraan semua makhlu, jangan tidak menaruh belas
kasihan kepada semua makhluk.”
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 5
Ê TÑtÇ |~tÇz ÑÜtÇt ÇztÜtÇçt? çt |~t Ç|Å|àtÇz ~tÑtzx{tÇ |~tÇz vtàâÜ ãtÜzt?
ÅtÇz w{tÜÅt? tÜà{t ~tÅt ÅÉ ÅÉ~átAÊ ~artinya : Karena kehidupan mereka itu
menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.
WtÄtÅ U{tztãtwz|àt III, 14 w|áxuâà~tÇ? ~tÜxÇt Åt~tÇtÇ? Åt~{Äâ~ {|wâÑ
ÅxÇ}xÄÅt? ~tÜxÇt {â}tÇ àâÅuâ{Ät{ Åt~tÇtÇ? ~tÜxÇt ÑxÜáxÅut{tÇ ;çtwÇçt< àâÜâÇÄt{ {â}tÇ? wtÇ çtwÇçt Ät{|Ü ~tÜxÇt ~xÜ}tA Berdasarkan ungkapan sastra - sastra kuno itulah, maka tujuan perayaan dapat dijabarkan menjadi beberapa hal sebagai berikut: 1. Meningkatkan kualitas Sradda(iman) dan Bhakti (taqwa) Umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang maha Esa, melalui implikasi konsep ”Tri Hita Karana”. 2. Menyambut Nyepi dengan suasana keprihatinan Nasional, akibat dampak berbagai bencana alam mulai dari gempa, gunung meletus, asap panas, lahar dingin, longsor, banjir bandang dan tak ketinggalan juga tragedi pesawat udara, kapal laut serta kereta api dan semoga ini tidak berdampak pada krisis ekonomi yang berkepanjangan. 3. Meningkatkan semangat kebersamaan, menciptakan kedamaian dan keharmonisan serta mendorong kebangkitan kesadaran berkarya sebagai wujud pengabdian nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh pendahulu atau leluhur demi kejayaan kembali Negara dan Bangsa. 4. Meningkatkan komitmen Umat Hindu kepada sesama komponen Bangsa untuk melaksanakan dan mengamalkan nilai-nilai etika, moral, budhi pekerthi yang luhur dan spiritual Agama Hindu dalam melaksanakan kewajiban Dharma Agama dan Dharma Negara. Wujud nyata dari dimensi Tri Hita Karana dapat dituangkan kedalam 3(tiga) bentuk kegiatan atau rangkaian acara sebagai berikut : No. WAKTU JENIS KEGIATAN TEMPAT SASARAN 1. Kamis, 02 Maret 2011 (7:00- seles’i) · MELASTHI Pengertian: Melas : penyucian, pembersihan. Thi : Leteh atau kotor Penyucian pratima atau Yoni ISWW, ruang, desa, rumah simbul Bhuana Agung & Angga sarira manusia sebagai Bhuana alit. Kesumber Air bisa Danu, Sungai atau Laut (pantai), bukan ke Pura Segaranya. Prosesi: Permohonan air suci u/ penyucian partima, simbul jagadraya (desa atau rumah). Pembersihan Bhuana Agung melalui sarana ritual, pratima dengan memohon air suci ke Telenging Sagara. ( Sundarigama) Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana Aji Swamandala. 2. Jumat, 04 Maret · TAWUR KESANGA Catus Pataning Desa Perempatan Air Pelaksanaan Butha Yadnya sesuai Siwa Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 6 2011 (15:00- 18:00) Tilem sasih kesanga ( seimbang antara 2 waktu: 12 jam malam & 12 jam siang hari). (18:00- 21:00) Pecaruan = Pertiwi/Zat Padat bhuta dingin & padat). Tingkat Pemerintah Provinsi Jakarta Catatan: Tentang waktu ditentukan oleh jumlah binatang yang digunakan; 1. >5 macam, harus
siang hari (12:00).
Panca Kelud
keatas.
2. <5 macam, boleh
sore hari menjelang
sandhya kala
(16:00-18:00)
Panca Sanak
kebawah.
· PENGERUPUKAN,
MEBUU-BUU
Nyomia bhuta pawai
ogoh-ogoh sekaligus
menjadi pesta lintas
budaya menuju
Jagadhita.
Mancur Kreta/BI,
bukan silang Barat
Monas.
Prosesi:
Pemberian korban
suci pada 5 Maha
Bhuta Nyomia,
sebagai penetralisir
pengaruh negatif yg
berbahaya, agar tidak
kroda ( bencana :
gempa, banjir,
longsor dll).
Simbolis dari Nyomia
bhuta buat senang
& mengistirahatkan
kerja 5 M/bhuta.
tidak menimbulkan
bahaya /kroda.
Yama Purana,
untuk
keseimbangan
Panca Maha Bhuta
(5 unsur alam)
sehingga tidak
membahayakan
atau menimbulkan
bencana bagi
manusia.
Bila semua unsur
5M/bhuta tenang,
tinggal unsur Mikro
kosmos = manusia
itulah yang
dilaksanakan pada
esok hari Nyepi.
3.
Sabtu,
05 Maret
2011
(6:00sd 6:00
Minggu, 6
Maret 2011).
(slma 24
jam)
06 Maret
2011
· NYEPI
Catur Brata Penyepian:
1. Amati Gni
2. Amati Karya
3. Amati Lelungan
4. Amati Lelanguan
· NGEMBAK GENI
Dirumah masingmasing
atau memilih
tempat, Pura atau
pilihan lain yang
dianggap cocok oleh
keluarga.
Prosesi:
Melakukan: Tapa,
brata, Yoga Semadi,
sebagai wujud
keseimbangan
bhuana alit.
Saling kunjung, maaf
memaafkan antar
keluarga, kerabat &
andaitolan Dharma
Santih.
Instrospeksi
Menggali Diri
Sendiri atau Pribadi
/ Mulat Sarira.
Malaui
menghentikan
segala kegiatan.
Tidak bepergian &
tidak menghibur
diri dan besoknya
06 Maret 2011
buka catur brata
penyepian dan
selanjutnya
beraktivitas
kembali.
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 7
D. PEDOMAN PELAKSANAAN
Sebagai pedoman Pelaksanaan, disusun rencana kerja & rangkaian
upacara serta tingkat Tawur sesuai hakikat dan makna Hari Raya Nyepi
Tahun Baru Saka serta tujuan yang hendak dicapai sebagai berikut :
1. Tingkat Caru Tawur Kesanga ; Menurut lontar Sundari gama,
tingkat caru tawur dibedakan dengan maksud peruntukan wilayah
yaitu:
Tingkat Jenis Caru Uraian Keterangan
I.
Tawur Agung
(Tingkat
Provinsi)
Adalah tingkat caru tawur
kesanga yang diperuntukkan,
bagi suatu provinsi yang semua
daerah walikota atau
kabupatennya ada umat
Hindunya, atau dengan kata lain
tidak ada wilayah yang tidak ada
umat Hindunya wajib
menggelar Tawur Kesanga
tingkat” Tawur Agung”.
Bila pusat caru di
provinsi , masing2
wilayah tidak perlu
lagi melakukan
pecaruan, nasi
caru & tirta caru
didistri usikan via
wakil pura yang
hadir sebagai dewa
saksi.
II. Panca Kelud
(Tingkat Walikota
/ Kabupaten)
Dilaksanakan apabila dalam
suatu provinsi ada salah satu
wilayah kota
madya/walikotanya yang tidak
ada umat Hindunya, maka
tingkat caru yang digelar
dipusat adalah tingkat Panca
Kelud, sedangkan untuk
diwilayah tetap tidak perlu
mecaru.
Idem
III. Panca Sanak
(T/Kecamatan)
Adalah tingkat caru tawur
kesanga yang diperuntukkan
bagi suatu wilayah kodya,
dimana ada salah satu atau lebih
dari wilayah Kecamatannya
tidak ada umat Hindunya.
Pecaruan
dipusatkan di
prempatan Kota
madya, Nasi & tirta
caru bisa dibagi via
pura yang hadir.
IV. Panca Sata
(Tingkat Desa)
Apabila suatu wilayah
Kecamatan ada salah satu
wilayah desa atau kelurahannya
tidak ada umat Hindunya. Pada
tingkat caru ini disebut caru
tingkat Kelurahan / Desa.
Idem
V. Eka Sata
(Ayam Brumbun)
(T/Banjar)
Yaitu tingkat caru tawur
kesanga, dimana suatu Desa ada
salah satu wilayah banjarnya
tidak ada umat Hindunya.
Tingkat ini disebut dengan
”Caru Tingkat Eka Sata yaitu
tingkat upacara Ayam Brumbun
atau setingkat Banjar.
Karena skop Desa
dimana wilayahnya
tidak terlalu luas,
maka disribusi nasi
& tirtha caru tidak
sulit dan relatif
mudah dijangkau
umatnya.
2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tawur; Apabila caru
tawur kesanga pada wilayah telah ditetapkan sesuai Ketentuan
sastra, maka jumlah binatang yang digunakan pada caru tersebut
menentukan waktu pelaksanaan tawurnya. Untuk caru Panca Kelud
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 8
keatas, karena jumlah binatang yang digunakan melebihi 5 (lima)
jenis maka waktu pelaksanaannya harus dilakukan pada siang hari
yaitu batasan waktu kala tepet (11:00~12:00). Sedangkan bila
jumlah binatang yang digunakan kurang dari 5 (lima) jenis, maka
waktu pelaksanaan pecaruan seyogianya dilaksanakan pada sandiya
kala (16:00 ~ 18:00) dan tidak boleh dilakukan disiang hari. Oleh
karena itu pecaruan tawur kesanga disetiap Desa Adat di Bali pasti
diadakan disore hari menjelang sandhya kala.
Mengenai tempat pecaruan, dengan jelas diuraikan pada lontar siwa
purana tattwa untuk tawur kesanga adalah ”ring catus pataning
desa...” berarti pada perempatan suatu desa, wilayah atau suatu
daerah yang lebih luas bisa mencakup provinsi atau Negara.
3. Pengerupukan, Mebuu-buu; Setelah pelaksanaan pecaruan
sesuai tingkat tawur yang dilaksanakan, semua unsur pancamahabhuta
mendapat penghormatan. Panca-mahabhuta yang telah
berjasa bagi kehidupan manusia dihormati dan dihargai, dihaturkan
sembah dan korban kepadanya. Unsur berupa air (melasti kelaut,
sungai), api (ngerupuk, maobor-obor atau mebuu-buu), udara
(suara kentongan, bunyia-bunyian, dll) dan akasa (sipeng, sepi)
mendapatkan kehormatan untuk menerima rasa syukur dan
terimakasih angayubagia umat manusia atas segala bantuannya
dalam setiap tindakan mengisi kehidupan selama ini. Harapan
manusia pada tahun-tahun mendatang, juga terus dibantu dalam
kehidupan manusia didunia ini. Bagi umat Hindu yang ingin
melaksanakan pengerupukan atau mebuu-buu seperti layaknya di
Bali, karena pekarangan rumahnya memungkinkan untuk acara itu
dapat mengambil nasi & tirtha caru yang telah disiapkan oleh panitia
dipusat pecaruan. Lakukan mebuu-buu dengan menyalakan dupa.
Alat bunyi-bunyian dan taburkan nasi serta percikan tirtha caru
kesemua arah pekarangan rumah. Sementara itu umat Hindu
bersiap-siap mengahdapi catur brata penyepian dimulai dari pukul
06:00 pagi sampai esok harinya, sebagaimana dijelaskan pada lontar
fâÇwtÜ|ztÅt sebagai berikut : ÊAAAAAxÇ}tÇzÇçt ÇçxÑ| tÅtà| zxÇ|? àtÇ
ãxÇtÇz át}twÅt tÇçtÅuâà ~tÜçt át~tÄã|ÜÇçt? tzxÇ| tzxÇ|@zxÇ| átÑtÜtÇçt àtÇ
ãxÇtÇz? ~tÄ|ÇztÇçt ãxÇtÇz átÇz ãÜâ{ Ü|Çz àtààãt zxÄtÜt~xÇt áxÅtw| àtÅt
çÉzt tÅxà|à|á ~táâÇçtàtÇAÊ yang dijabarkan menjadi : 1). Amati geni
yakni tidak menggunakan unsur api, 2). Amati karya, berati tidak
melakukan apa-apa, sehingga tidak ada unsur panca-mahabhuta
digunakan, 3). Amati lelungan, dengan tidak bepergian sehingga
terjadi kesepian dan maknanya tidak menggunakan ruang dari unsur
akasa, 4). Amati lelanguan, maksudnya tidak melampiaskan nafsu
indria, mengurangi penggunaan tenaga, mengurangi makan dan
minum serta penggunaan oksigen, semua itu merupakan unsurunsur
dari panca mahabhuta.
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 9
◙ CATATAN POJOK :
1. Tingkat Caru Tawur Kesanga; Jika dipandang dari sudut
keberadaan umat Hindu di Provinsi DKI Jaya, di 5 (lima)
wilayah Walikota tersebar umat yang secara populasi tidak
kurang dari 1000 ~1500 KK dan mencapai kisaran angka 5000
jiwa. Memiliki 15 Pura sebagai tempat peribadatan yang
bersekala besar dapat menampung ratusan umat untuk satu
tahap persembahyangan. Jika demikian untuk tingkat caru
Tawur kesanga DKI, layaknya adalah tingkat Tawur Agung,
bukan Panca Kelud.
2. Kaitan Waktu Pecaruan dengan Tingkat Caru; Apabila
tingkat caru adalah Tawur Agung tidak perlu lagi diragukan
bahwasanya waktu pecaruan adalah siang hari ( kala tepet jam
12:00 ). Untuk tidak tunpang tindih, maka semua dipusatkan di
Monas sebagai pusat pemerintahan Provinsi DKI Jaya dan
sekaligus sebagai Ibukota Negara, sehingga dalam hal ini
masing-masing wilayah SDHD Banjar atau Kota Administrasi
tidak perlu lagi membuat caru wilayah dengan tingkat yang
sama atau lebih kecil. Agar pendistribusian nasi & tirtha caru
dapat merata bagi umat yang tidak punya waktu atau
kesempatan hadir pada acara tawur & pengerupukan disore
hari, masalah ini bisa diatasi dengan memanfaatkan jalur purapura
terdekat dengan tempat tinggal mereka. Setidaknya
karena acara pengerupukan ini tidak merupakan acara pawai
ogoh-ogoh saja, disamping itu ada muatan pesta lintas budaya
tentu akan menjadi unik dan punya daya tarik tersendiri untuk
dihadiri tidak hanya oleh umat Hindu tetapi juga masyarakat
DKI dan sekitarnya yang haus akan hiburan.
3. Efectivitas Melasti, dari sudut Lokasi, Waktu & dampak
Psikologis Publik; Secara historis semua aspek kehidupan
beragama dan berbangsa ini pasti punya sejarah, tetapi bukan
berarti perubahan terhadap tempat ritual seperti melasti
diartikan arfiah bahwa generasi muda kedepan bisa tidak
mengenal lagi atau lupa pada Pura Segara. Perubahan tempat
melasti dari Pura Segara ke Taman Impian Jaya Ancol adalah
bentuk pengembalian esensi dan makna dari melasti yaitu
mencari sumber air bisa laut, danau atau sungai dan bukan ke
Pura Segara. Sesuai penjelasan lontar ftÇz{çtÇz T}|
fãtÅtÇ fãtÅtÇwtÄt wtÄt : ÊTÇzÄâ~tàt~xÇ ÄtÜtÇ|Çz }tztà? Ñt~Äxát Äxàâ{|Çz u{âtãtÇt TÇzÄâ~âtãtÇtÊ
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 10
yang artinya melenyapkan penderitaan masyarakat,
melepaskan kepapaan dan kotoran alam. Dan ditambahkan
oleh lontar fâÇwtÜ|ztÅt yaitu : ÊTÅxà átÜ|Ç|Çz tÅxÜàt ~tÅtÇwtÄâ
Ü|Çz àxÄxÇz|Çz átztÜtÊ yang mengandung arti mengambil sari-sari
air kehidupan (Amerta Kamandalu) ditengah-tengah samudra.
Disamping itu ada dampak psikologis publik terhadap
pemahaman perayaan Nyepi yang utuh dari rangkaian acara
melasti, pecaruan dan pengerupukan bila pelaksanaannya kita
kemas dengan kemasan yang menarik, terpadu, ringkas padat
berisi tanpa meninggalkan esensi dan nilai-nilai keimanan serta
tidak menyimpang dari ketentuan sastra-sastra agama. Betapa
indah dan menariknya bila acara itu disusun pada hari yang
sama mulai melasti di ancol menjelang fajar menyingsing
sebagai bentuk surya sewana dan usai melasthi dilanjutkan
dengan Pralingga Bathara pura se DKI menuju Monas sebagai
Dewa saksi pada pecaruan Tawur disiang hari yang diawali
dengan acara mepeed atau medeeng dari lapangan Banteng
menuju Tugu Monas tempat pecaruan Tawur Kesanga
dilaksanakan dan mewali ke Pura masing-masing setelah usai
pelaksanaan pecaruan. Kemudian menjelang sore hari menuju
ke sandiakala baru bersiap-siap untuk pelaksanaan
pengerupukan atau mebuu-buu. Hal ini akan berdampak sangat
baik dan positif bagi publik, karena mendapat gambaran yang
utuh tentang pelaksanaan perayaan Nyepi bagi umat Hindu
diluar Bali. Momentum ini merupakan wujud & bentuk
pengakuan publik bahwa umat Hindu peduli akan tatanan
bermasyarakat dan bernegara melalui ungkapan rasa bhakti
kepada Pemerintah (Guru Wisesa) sebagai implementasi dari
ajaran Catur Sinangga Guru.
4. Pemisahan Ritual dengan Pawai Ogoh-ogoh dari sisi
makna Sakeral dan Provan; Pada umumnya kita sering
terjebak pada pengertian yang keliru atau salah kaprah
terhadap istilah ” Rwa Bineda” dan ”Dualistik”. Rwa Bineda
adalah dua hal yang berbeda yakni Laki-laki dan Perempuan
atau Purusa Pradana, juga sering disebut ardhanareswaranareswari.
Pengertiannya dua unsur rwa bineda itu bisa
disinergikan menjadi suatu kekuatan terpadu yang luar biasa
misalnya kekuatan laki-laki perempuan, kesaktian dewa-dewi.
Sedangkan Dualistik adalah dua hal yang berbeda dan
berlawanan seperti sifat baik-buruk, suka-duka, siang-malam.
Unsur-unsur dualistik ini tidak bisa disatukan, tidak bisa
disenergikan dan justru harus dikendalikan. Kenapa pemisahan
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 11
ritual tawur dengan pawai menjadi penting, walaupun bila
dipandang dari sudut upacara, bahwa tawur merupakan
upacara bhuta yadnya. Jangan lupa ketika pelaksanaan ritual
tawur, unsur-unsur sakeral seperti pratima, pralingga bathara
atau simbul-simbul dari ISWW ada pada area dimana
dilaksanakan prosesi tawur, sebagai dewa saksi. Sedangkan
ketika acara pengerupukan dengan pesta budayanya itu adalah
murni unsur provan, yang tidak menutup kemungkinan bila
dilaksanakan bersamaan dapat mencemari unsur sakeral tadi.
Dan apabila pencemaran terjadi, maka diperlukan suatu
upacara khusus untuk mengembalikan fungsi kesucian &
kesakeralan simbul-simbul tadi.
Dalam hal ini antara sakeral dan provan merupakan simbul
dualistik, oleh karena itu tidak boleh disatukan justru harus
terpisah dan dikendalikan. Dengan demikan acara ritual
sebaiknya dilaksanakan terpisah dalam pengertian tidak
menjadi satu rangkaian waktu, harus jelas ada jeda waktu
yaitu siang dan sore.
5. Gerakan tidak ciptakan ”Mulaketo Gaya Baru” menuju
Generasi muda yang moderat; Tanpa disadari sebagai
pihak pemegang tongkat estapet sekaligus sebagai penuntun
generasi muda sering terlupa atau tidak sadarkan diri jika
produk dari kekuasaannya dapat melahirkan ”generasi Mula
keto” berikutnya. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan
terjadi apabila pemegang tongkat estapet, membiarkan
produk-produknya yang diluar konteks atau menyimpang dari
ketentuan-ketentuan yang ada dan hanya mempertimbangkan
aspek populeritas atau ketenaran pribadi belaka. Mari untuk
mulai berani memilih untuk melakukan tindakan yang tidak
populis, tetapi mengakar pada landasan kebenaran seperti yang
tertuang pada 2(dua) lontar sebagai berikut :
☻LONTAR DEWA TATTWA (Penekanan pada Etika Pelaksa
naan suatu Yadnya).
 TÇt~~â átÇz ÑtÜt `Ñâ? WtÇz{çtÇz? átÇz Åt{çâÇ àâãt }twÅt? ÄâÑâà|Çz
átÇzátÜt ÑtÑt? ~ÜtÅtÇçt átÇz ~âÅ|Çz~|Ç t~tÜçt átÇ|áàt? `tw{çt? âààtÅt?
ÅtÇt{ Äxzt wt wtw| tçâ? t w| tçãt ÅtÇztÅux~tÇz ~ÜÉwt ÅãtÇz â}tÜ ztÇzáâÄ? â}tÜ ãt
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 12
ÅxÇt~ }âzt ~tãxwtÜ wxÇ|ÜtA`tÇz~tÇt ~ÜtÅtÇ|Çz átÇz ÇztÜxÑtÇz ~tÜçt?
tçãt á|ÅÑtÇ|Çz uâw| ÅãtÇz ~ÜÉwt? çtÇ ~twçt ÅtÇz~tÇt Ñtàâà ÑtztãxÇçt?
ãt átã|w{| ã|wtÇtÇçt? àx~xÇz tàtÄxwtÇçt? ÅãtÇz Ü|Çz áxátçâàÇçt? Åt ÅtÜtzt wxãt
Ützt átÅ|? àx~xÇz ãtãtÇzâÇtÇ átÅ|ÊA
Artinya :
Anakku sang para Mpu, Danghyang, demikian pula mereka yang
berkedudukan sebagai orang tua, lepas dari duka dan nestapa,
perilakunya mereka hendak melaksanakan upacara, nista,
madhya, utama jadikanlah pikiran itu senang dan baik,
janganlah menyayangi atau terikat pada artha milik serta patut
mengikuti kewajiban orang tua, janganlah menampilkan
kemarahan serta berkata-kata kasar, kata-kata yang baik dan
enak juga yang patut disampaikan.Demikianlah prilakunya
mereka yang melaksanakan Yadnya. Janganlah menyimpang
dari budi pekerti. Bila yang demikian dapat dilaksanakan segala
persembahan hingga pada “taledan dan sesayutnya” berwujud
dewa demikian pula semua bangunannya.
☻LONTAR DEWA TATTWA/LONTAR INDIK PANCA
WALI KRAMA. Senada dengan lontar dewa tattwa, Lontar
Indik Panca Wali Krama menekankan pada prilaku yang baik
dan kesatuan antara “ Tri Manggalaning Yadnya”.
 ^tçtàÇt~Çt? t}ãt átâÄt{ átâÄt{@âÄt{ ÄâÅt~â? ÇzâÄt{ áâutÄ? çtÇ àtÇ {tÇt uxÇxÜ
tÇâà Ä|ÇzÇ|Çz T}|? Ç|Üztãx ÑãtÜtÇçt ~tãtÄ|~ ÑâÜ|{Ççt |~t? tÅÜ|{ tçâ uçt~àt
tàxÅt{tÇ tÄtA `tÇz~tÇt ãxÇtÇz |~t ~tÑÜtçt~át wx átÇz tÅtÇzâÇ tw|
~tÜçt? Åt~tw| átÇz tÇâ~tÇz|Ç? ÅãtÇz tw|~átÇ|? |~t ~tà|zt ãxÇtÇz
tàâÇzztÄtActÇzÄt~átÇtÇ|Üt tÅÉÇz á átÜt}t ~tÜçt? t}ãt ~tá|ÇzátÄ? tÑtÇ Ü|Çz
tÜt}çtwÇçt àtÇ ãxÇtÇz ~tvtvtutÇ ~tvtÅÑâÜtÇ ÅtÇt{ ãxv|? tÅux~ uÜtÇàt? átuwt
ÑtÜâáçt? | |~t ~tÇz ÅtÇt{ áà|à| }tà| Ç|ÜÅtÄt }âztÅt~t á|w{tÇ|Çz ~tÜçt? ÅtÜz|Ç|Çz
Çz tÅtÇzz|{ á|w{t Üt{tçâ? ~tá|wtÇ|Çz ÑtÇâ}â? ÅtÇz~tÇt ~xÇzxàt~Çt xáàâ
Ñt ÑtÄtÇçtÊA ÄtÇçtÊA
Artinya :
Berhati-hatilah, janganlah asal berlaksana, asal selesai, bila
tidak benar-benar sesuai dengan sastra, sia-sialah hasilnya.
Terbaliklah keadaannya mengharapkan baik pasti akan
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 13
berakibat buruk.Demikianlah patut diwaspadai oleh mereka
yang berkehendak melaksanakan upacara besar, termasuk
mereka yang berperan sebagai tukang, serta pendeta yang
memuja, mereka bertiga patut supaya menyatu dalam
pelaksanaannya melaksanakan upacara, jangan berselisih,
sebab dalam setiap Yadnya tidak boleh ternodai oleh pikiran
kotor, prilaku marah. Pikiran yang astiti bakti dan suci
nirmalalah sebagai dasar yang menghantarkan pada
keberhasilan yang menyebabkan mencapai keselamatan serta
sesuai dengan tujuan.
E. POKOK PERMASALAHAN
Mencermati pelaksanaan perayaan Nyepi di wilayah DKI, dari
tahun ketahun tidak mecerminkan adanya peningkatan yang
signifikan secara konsep dan sastra, kecuali realita pesta ogohogoh
yang berhasil mengkemas pesta lintas seni budaya yang
menghadirkan selain ogoh-ogoh sebagai ikon juga mengusung
ondel-ondel serta barongsai, tanjidor dan kesenian lain sebagai
bentuk keberagaman.
Tetapi berpulang dari maraknya perayaan Nyepi di Tugu Monas
dengan arak-arakan 18 ogoh-ogoh sebagai wujud kebangkitan
kesadaran generasi muda Hindu untuk mengekspresikan kwalitas
srada bhaktinya kepada Bumi persada ini, secara internal tetap
saja masih mengundang controversial serta kebingungan umat
terhadap realita dengan pemahaman yang cenderung semakin
melebar seperti :
1. Pelaksanaan melasti, tidak lagi memberikan jawaban
terhadap esensi dari melasti itu sendiri selain terjadi
perubahan lingkungan Pura Segara akibat perubahan
infrastruktur pantai, juga terkesan kurang hening dan
terburu-buru. Sehingga tujuan untuk mensucikan pratima
dan simbul-simbul ISWW kurang khidmat dan membawa
hasil kehambaran belaka termasuk umat juga gagal
memperoleh kesempurnaan nilai kesucian dirinya.
2. Pelaksanaan Tawur setelah berhasil dipusatkan di Tugu
Monas, ternyata menuai hasil kebingungan umat antara lain
dengan masih ada keputusan wilayah Banjar atau Pura
untuk tetap mengadakan pecaruan setempat dengan tingkat
caru yang beraneka versi. Ironisnya dari sisi waktu
pelaksanaan yang waktu-waktu sebelumnya mereka masih
ingat pelaksanaannya selalu belakangan setelah selesai di
pusat, olehkarena pelaksanaan di Monas adalah sore hari
Dokumentasi Yayasan Pitra Yadnya – Maret 2011 14
jadi mau tidak mau di wilayah banjar terpaksa lebih dulu,
sehingga alur prosesnya tidak mengalir dari hulu ke hilir
dengan kata lain “semerawut” dan tidak sesuai dari
ketentuan sastra pelaksanaan tawur.
3. Perbedaan proses waktu melasti dengan pelaksanaan
Tawur, membuahkan jeda waktu apakah 1 atau 2 hari yang
disebut dengan istilah “Bethara Nyejer”. Pemahamannya
bahwa ISSW setelah lunga Melasti, ketika mewali ke Pura
masing-masing diikuti oleh acara Nganyarin Daksina
Pralingga dan menyiapkan aturan soda atau rayunan
Bethara. Hal ini secara skop kecil boleh dibilang sudah
berjalan. Pertanyaannya sampai seberapa banyak secara
umum umat tau dan faham bahwa Daksina Pralingga
Bathara itu adalah sesungguhnya Sang Hyang Widhi…? Bila
nyejer berarti beliau masih ada, jadi apa yang seharusnya
diperbuat umat ketika tau bethara nyejer..??? Apa tidak
seperti, kita mengundang Tamu untuk hadir dirumah tetapi
setelah tiba dan ada dirumah kita tinggal tanpa
hiraukan….apakah sudah disiapkan suguhan dll…????
4. Bila kondisi dan cara pelaksanaan sebuah Yadnya kita masih
seperti itu serta tidak pernah mau mengupayakan langkahlangkah
perbaikannya kearah penyempurnaan, niscaya
tujuan Yadnya tidak akan tercapai. Untuk itu jangan cepatcepat
mencari pembenaran bahwa manusia itu tidak
sempurna, seperti slogan “ Tan hana wang anayu nulus”.
Tetapi kita seyogianya mengikuti anjuran lontar dewa
Tattwa maupun Panca Wali Krama…..kalau tidak kapan
Hindu akan maju…????
Jawabannya adalah Parisadha Hindu Dharma Indonesia DKI,
harus duduk bersama dengan Suka Duka Hindu Dharma DKI, segera
memutuskan pengangkatan panitia selambat2nya pada pertengahan
tahun, usai pertanggungan jawab panitia pelaksana perayaan Tahun
Baru Saka 1933 sekaligus sebagai bagian dari serah terima mandate.
Hal ini dimaksudkan agar mendorong panitia yang baru untuk
merumuskan perayaan Nyepi 2012, segera bekerja membuat kajiankajian
dan persiapan-persiapan perbaikan atau penyempurnaan
terhadap evaluasi pelaksanaan sebelumnya. Dan sedapat mungkin
sambil menyikapi situasi kedepan panitia masih tersedia waktu yang
cukup panjang untuk dapat merangkumkan pedoman dan kerangka
acuan yang lebih konprehensip atas pelaksanaan perayaan Nyepi di
DKI ini.
Demikianlah patut diingat semoga berhasil, pesan ini disampaikan
oleh Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen, wakil Dharma Adyaksa
Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat masa bhakti 2006 – 2011
dengan maksud untuk dapat disosialisasikan pada masyarakat
banyak yang hendak dan mau mendengarkan serta berjalan dalam
meniti kehidupan pada jalan dharma. Sudah dapat dipastikan arah
beliau untuk dapat mengamalkan piteket Sanghyang Wenang ketika
runtuhnya Majapahit : “ Tinggalkan Jawa, jangan bawa apa-apa pergi
ke Bali lakukan penataan Parhyangan, Sanggar Pemujaan, Keluarga
dan Tatanan Social Masyarakat dengan aturan sastra. Apa yang
ditinggalkan itu yang tidak dibawa ke Bali akan kembali.”
Mari kita petik dan cermati serta maknai pesan luhur
tersebut……………..!!!!
Sukra Pon Prangbakat, Maret 2011

Jumat, 01 April 2011

Makna Banten

Dalam Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya, disebutkan bahwa Maha Rsi bersama pengikutnya membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro – Tegal Lalang, Gianyar, sekarang) kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk upakara sebagai sarana upacara, mula-mula terbatas kepada para pengikutnya saja, lama kelamaan berkembang ke penduduk lain di sekitar Desa Taro.

Jenis upakara yang menggunakan bahan baku daun, bunga, buah, air, dan api disebut “Bali”, sehingga penduduk yang melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara itu disebut sebagai orang-orang Bali. Jadi yang dinamakan orang Bali mula-mula adalah penduduk Taro.

Lama kelamaan ajaran Maha Rsi Markandeya ini berkembang ke seluruh pulau, sehingga pulau ini dinamakan Pulau Bali, dalam pengertian pulau yang dihuni oleh orang-orang Bali, lebih tegas lagi pulau di mana penduduknya melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara (Bali).

Tradisi beragama dengan menggunakan banten kemudian dikembangkan oleh Maha Rsi lain seperti: Mpu Sangkulputih, Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha.

Sejak kapan sarana upakara itu berubah nama dari “Bali” menjadi “Banten” dan mengapa demikian, sulit mencari sumber sastranya. Beberapa Sulinggih yang saya hubungi ada yang menyatakan bahwa banten asal kata dari wanten mengalami perubahan dari kata wantu atau bantu. Jadi banten adalah alat bantu dalam pemujaan, sehingga timbul pengertian bahwa bali atau banten adalah “niyasa” atau simbol keagamaan.

Umat Hindu melaksanakan ajaran Agama-nya antara lain melalui empat jalan/ cara (marga), yaitu: Bhakti marga, Karma marga, Jnana marga, dan Raja marga.

Bhakti marga dan Karma marga dilaksanakan sebagai tahap pertama yang lazim disebut sebagai “Apara bhakti”, sedangkan tahap berikutnya sesuai dengan kemampuan nalar diri masing-masing dilaksanakan Jnana marga dan Raja marga yang disebut sebagai “Para bhakti”.

Pada tahap apara bhakti pemujaan dilaksanakan dengan banyak menggunakan alat-alat bantu seperti banten, simbol-simbol dan jenis upakara lainnya, seterusnya pada tahap para bhakti penggunaan banten dan simbol-simbol lainnya berkurang.

Umumnya di Bali keempat marga itu dilaksanakan sekaligus dalam bentuk upacara Agama dengan menggunakan sarana banten yang terdiri dari bahan pokok: daun, bunga, buah, air ,dan api. Sarana-sarana itu mempunyai fungsi sebagai:

1. Persembahan atau tanda terima kasih kepada Hyang Widhi.
2. Sebagai alat konsentrasi memuja Hyang Widhi.
3. Sebagai simbol Hyang Widhi atau manifestasi-Nya.
4. Sebagai alat pensucian.
5. Sebagai pengganti mantra.

Karena demikian sakralnya makna banten maka dalam Yadnya prakerti disebutkan bahwa mereka yang membuat banten hendaknya dapat berkonsentrasi kepada siapa banten itu akan dihaturkan/ dipersembahkan.

Dalam Buku Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu sebagai hasil Paruman Sulinggih yang disahkan PHDI disebutkan bahwa seorang Tukang Banten hendaknya sudah mensucikan diri dengan upacara Pawintenan (sekurang-kurangnya ayaban Bebangkit).

Tujuannya adalah agar Tukang Banten sudah mengetahui tata cara dan aturan-aturan dalam membuat banten misalnya dengan konsentrasi penuh melaksanakan amanat pemesan banten yang akan mempersembahkannya kepada Hyang Widhi; di kala membuat banten kesucian dan kedamaian hati tetap terjaga, antara lain tidak mengeluarkan kata-kata kasar, tidak dalam keadaan kesal atau sedih, tidak sedang cuntaka, tidak sedang berpakaian yang tidak pantas, menggaruk-garuk anggota badan, atau membuat banten di sembarang tempat.

Disimpulkan bahwa ketika membuat banten, dikondisikan situasi yang suci, sakral, konsentrasi penuh, rasa bhakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Lihatlah ketika banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih, tempat membuat banten disebut sebagai “Pesucian” yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan.

“Dewasa” atau hari baik untuk mulai membuat banten ditetapkan dengan teliti oleh para Sulinggih. Dalam puja-stuti pereresik banten juga diucapkan doa agar banten tidak dilangkahi anjing, ayam, atau dipegang oleh anak kecil, atau orang yang sedang cuntaka. Beberapa jenis banten utama bahkan hanya boleh dibuat oleh Sang Dwijati, misalnya Catur, dan Pangenteg Gumi.

Untuk menegaskan penting dan sakralnya banten, Mpu Jiwaya salah seorang tokoh pemimpin Agama di abad ke-10 mengajarkan membuat “reringgitan” dengan bahan daun kelapa, enau atau lontar. Reringgitan itu kadang demikian sulit sehingga konsentrasi kita harus penuh. Jika tidak, bisa reringgitannya rusak atau tangannya yang teriris pisau.

Makna membuat banten seperti yang dikemukakan di atas tiada lain agar kita dapat mewujudkan rasa bhakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi.

Zaman beredar dan kini kita hidup di zaman millennium. Kemampuan kita menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi zaman ini diuji dengan berbagai masalah, antar lain:

1. Kelangkaan bahan-bahan baku banten.
2. Waktu yang terbatas untuk membuat banten.
3. Tidak semua umat Hindu di Bali bisa membuat banten sendiri.

Tentang kelangkaan bahan-bahan baku banten sudah kita maklumi, karena busung, pisang, kelapa, telur, bebek, dan ayam, tidak sedikit yang sudah didatangkan dari luar Bali antara lain: Sulawesi, Lombok, dan Jawa.

Waktu yang terbatas bagi umat Hindu di Bali dalam menyiapkan sarana-sarana upakara menyebabkan sebagian besar umat Hindu membeli banten dari tukang-tukang banten, istilahnya “nunas puput”. Generasi muda mulai bertanya-tanya, mengapa kok melaksanakan ajaran Agama Hindu di Bali dalam bentuk ritual/ upacara menjadi sangat sulit dan mahal.

“Model” umat Hindu-Bali di perkotaan melaksanakan upacara yadnya kini terlihat sudah lumrah seperti: sewa tenda, sewa korsi, pesan katering, dan nunas ayaban di Geria lengkap dengan Sulinggih yang muput. Serba praktis dan ekonomis walaupun segi-segi adat-dresta kegotong-royongan hilang, dan segi sakral membuat banten pada Sang Yajamana hilang.

Jika dikaitkan dengan ajaran Maha Rsi Markandeya dan Mpu Jiwaya seperti diuraikan di atas, agaknya hal yang paling patut dipikirkan adalah segi sakralnya suatu banten.

Apalah artinya banten jika Sang Yajamana tidak mengerti dengan makna banten yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi. Ibaratnya kita memberikan sesuatu kepada orang tua kita tetapi ketika ditanya orang lain, apa yang kamu berikan pada orang tuamu? Jawabannya ya, nggak tau! Aneh bukan?

Fenomena seperti itu akan terus berkembang lebih-lebih bilamana dalam suatu rumah tangga sang ayah dan sang ibu masing-masing sibuk dengan profesinya mencari nafkah karena tuntutan kebutuhan hidup yang makin banyak.

Konsep-konsep Manawadharmasastra yang mengatur pembagian tugas pekerjaan rumah tangga antara suami/ istri banyak tidak berlaku lagi. Suami mestinya menghidupi keluarga, dan Istri mestinya mengurus rumah, terutama masalah Panca yadnya dan dengan sendirinya membuat banten.

Adakah jalan keluar menghadapi fenomena seperti itu? Untuk ini ada beberapa hal yang perlu dikemukakan:

1. Dalam banyak kitab suci antara lain: Manawadharmasastra, Parasaradharmasastra, dll. disebutkan bahwa cara kita beragama di setiap zaman tidaklah sama. Di zaman Kali seperti sekarang ini, cara kita beragama mestinya lebih menekankan pada pencurahan kasih sayang kepada sesama manusia misalnya dalam bentuk dana punia.

2. Namun demikian tidak berarti bahwa kegiatan ritual keagaman dalam bentuk upacara-upacara yadnya diabaikan. Upacara itu tetap dilaksanakan namun para Sulinggih diharap memberikan dharmawacana agar sang yajamana mengerti dengan makna upacara yadnya yang diselenggarakannya.

3. Sesuai dengan konsep Desa-Kala-Patra maka umat Hindu di Bali diharapkan menyelenggarkan upacara yadnya sesuai dengan kemampuan finansial yang nyata dan waktu yang luang.

Oleh karena itu banten yang dikategorikan dalam kelompok: alit-madya-ageng hendaknya dijelaskan oleh para Sulinggih kepada umat secara luas, dengan menekankan bahwa banten yang alit tidak berarti nilainya lebih rendah dari banten yang madya-utama, demikian sebaliknya, karena hakekat banten adalah curahan rasa bhakti dan kasih kepada Hyang Widhi.

Janganlah sampai umat kita menghadapi kesulitan atau menjadi miskin karena melaksanakan upacara yadnya secara keliru, yaitu membeli banten melebihi batas kemampuan finansialnya yang nyata.

4. Apabila terpaksa membeli banten, belilah dari orang yang diyakini memenuhi syarat sebagai tukang banten.

5. Para tukang banten hendaknya turut memikirkan dan mengupayakan bagaimana caranya agar umat kita tidak terlalu mahal membeli banten, lebih-lebih jika diingat bahwa tukang banten adalah kelompok orang yang disucikan dan dengan demikian diharapkan sudah mampu menguasai “Sad-ripu” yang ada dalam dirinya sendiri